Diiming-imingi Sekolah Ke Tokyo, Ternyata Mereka Dijadikan Budak Sexs

Buku "Perawan Remaja Dalam Cengkeraman Militer" dalam genggaman Dian Sastrowardoyo. Buku ini memuat banyak informasi tentang penculikan perempuan-perempuan pribumi di masa pendudukan Jepang. (foto:instagram)

Garutexpress.id – “.. kalian para perawan remaja, telah aku susun surat ini untuk kalian, bukan saja agar kalian tahu tentang nasib buruk yang biasa menimpa para gadis seumur kalian yang mengalami kemalangan itu…. Surat kepada kalian juga semacam pernyataan protes, sekalipun kejadiannya telah puluhan tahun lewat…” –Pramoedya Ananta Toer.

Itulah pernyataan Pram dalam bukunya “Perawan Remaja Dalam Cengkeraman Militer”, yang memuat banyak informasi tentang nasib gadis pribumi yang diculik dengan halus oleh Jepang dan dijadikan budak birahi sebagai pemuas nafsu bala tentara Dai Nippon di pulau-pulau terpencil, seperti Kepulauan Maluku, NTT, Pulau Buru dan di luar Indonesia.

Pada mulanya.. Tahun 1943 Pemerintah Pendudukan Dai Nippon menyerukan kepada setiap orangtua yang mempunyai anak gadis remaja usia 15-17 tahun, agar segera didaftarkan kepada pemerintah, adapun maksud dari seruan tersebut adalah para gadis yang mendaftar akan disekolahkan ke Tokyo dan Shonanto (singapura), guna mempersiapkan kemenangan Asia Timur Raya.

Jepang menjanjikan kepada gadis yang mendaftar akan mendapat kedudukan penting setelah kembalinya dari Tokyo yang kelak para remaja tersebut akan mengisi posisi strategis dalam pemerintahan. Seruan itu harus didengar dan diaminkan oleh semua pribumi termasuk lurah, pegawai kecamatan sampai bupati dan ningrat pun harus turut serta menyerahkan gadis perempuannya. Dengan ikut sertanya para pegawai pribumi, hal ini membuat penduduk pribumi percaya sehingga mereka pun rela melepas putrinya.

Meski mempunyai harapan untuk bersekolah di Tokyo, diantara mereka kebanyakan pergi dengan terpaksa, karena mereka takut kepada Jepang. Kepergian para gadis remaja itu juga kebanyakan tanpa kerelaan orang tua. Mereka tidak bisa menolak, jika berani menolak, tahulah apa akibatnya.

Orangtua mana yang rela melepas pergi anak gadis nya, dibawa oleh tentara Setan Gundul yang perilakunya lebih buruk daripada binatang buas. Kalau pun seorang gadis remaja itu adalah anak semata wayang yang sangat disayangi, tentu saja tidak ada orang tua manapun yang rela melepasnya.

Program busuk itu benar-benar terlaksana, para gadis remaja mulai dijemput dari satu pintu rumah ke pintu rumah lainnya menggunakan motor tentara. Jangan kira mereka diantar ke pelabuhan oleh orangtua mereka sendiri, itu tidak terjadi, mereka dijemput paksa di kediamannya. Gadis-gadis remaja itu lalu ditampung di pengepulan sementara.

Para wanita di daerah koloni Jepang saat Perang Pasifik, mereka dikumpulkan untuk dikirim ke rumah bordil. (foto:listverse/wikimedia)

Pengepulan itu terletak di Surabaya di Jalan Peiping (sekarang Jalan Sidolang Baru), dalam kompleks perumahan kotapraja. Kompleks itu dikelilingi bambu cukup tinggi, tertututup rapat dan nampak rahasia.

Setelah itu mereka diangkut dengan kapal-kapal di pelabuhan. Bukan hendak ke Tokyo atau ke Shonanto (Singapura), melainkan ke pulau-pulau terpencil, ke barak-barak berkumpulnya bala tentara Jepang. Ketika akhirnya mereka tahu bahwa mereka ditipu oleh Jepang, para perawan remaja yang sudah diberangkatkan tersebut tidak bisa melarikan diri, karena mereka disekap dan diawasi sangat ketat.

Pram menyebutkan mayoritas para gadis diambil dari pulau Jawa. Setidaknya dapat disimpulkan bahwa, pertama, para gadis remaja itu, yang dijemput dari rumah masing-masing, dengan atau tanpa melalui tempat pengepolan, telah diangkut menggunakan kapal laut meninggalkan Jawa. Kedua, bahwa mereka ditempatkan bukan saja di wilayah Indonesia tetapi di luarnya.

Menurut Eka Hindra, selaku peneliti ‘Ianfu’, Jepang menjalankan sistem praktik perbudakan seksual dibawah kontrol militer pada masa penjajahan.

“Ini memang merupakan suatu sistem dan tidak begitu saja diterapkan karena rekrutmen yang dilakukan sesuai dengan situasi di daerah itu, seperti di Gunung Kidul banyak yang diambil dari jalan ataupun kebun. Kemudian ada yang iming-iming untuk meneruskan pendidikan, pekerjaan, dan sekolah – yang terakhir biasanya korbannya dari kalangan terpelajar,” jelas Eka.

MEREKA JADI BUANGAN

Setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia II, Agustus 1945, para gadis yang dirampas dari Jawa itu dilepas sebagai Ayam dari kandang yang terbakar. Tentara Jepang yang membawa mereka tidak bertanggung jawab untuk memulangkan mereka ke kampung asalnya. Para remaja perempuan itu akhirnya terdampar dan hidup tidak jelas di pulau-pulau asing.

Related Post

Jepang menahan para remaja perempuan itu dengan alasan jika dikembalikan ke Jawa, para korban akan bercerita soal kebiadaban dan kebinatangan tentara Jepang tersebut. Hal itu akan tercium oleh dunia International dan merugikan Jepang. Jepang sedang cuci tangan.

Adapun alasan lain mereka tidak mengusahakan kembali ke Jawa atau kampung asal adalah karena alasan malu terhadap orang tua, tetangga dan keluarga mereka. Pengalaman pahit menahan keinginan besar dengan yang namanya pulang. Apa yang telah Jepang lakukan pada tubuh mereka merupakan aib sehingga malu bertemu dengan keluarga.

Perilaku biadab Jepang seharusnya bisa di proses secara hukum, namun sepertinya pemerintah Indonesia tidak pernah mengupayakan hal itu. Maka dari itu tanpa suatu pernyataan resmi dari pemerintah, para perempuan remaja itu, dengan sendirinya menjadi orang buangan.

Tentu kalian dapat merasakan bagaimana berlarut penderitaan mereka: setelah dianaiaya oleh Jepang kemudian tidak mendaatkan pelayanan dan perlindungan hukum, sungguh memedihkan. (Pram).

Pram menyimpulkan lima hal, Pertama, perawan remaja itu dilepas tanpa tanggung jawab, tanpa pesangon, tanpa fasilitas, dan tampa terimakasih dari pihak bala tentara. Kedua, diserahkan pada naluri hidup masing-masing. Ketiga, tidak mendapatkan pelayanan dan perlindungan hukum dari Pemerintah RI. Keempat, tidak mendapat perhatian dari keluarganya sendiri. Kelima, sebagai akibatnya, sampai 1979 atau sekitar 35 tahun, mereka menjadi buangan yang dilupakan.

JEJAK KORBAN DI PULAU BURU

Selama berada dalam tahanannya di Pulau Buru. Pram dan kawannya sesama tahanan politik lainnya, menelisik dan melakukan pencarian jejak perempuan remaja yang menjadi korban kebiadaban Jepang. Dalam banyak wawancaranya dengan sesama tapol (tahanan politik) Pram menemukan beberapa orang yang mengaku pernah bertemu dengan perempuan Jawa yang saat itu tentunya telah jadi seorang wanita tua.

Para tapol yang punya kesempatan menelusuri sampai ke pedalaman Buru, menuangkan pengalaman-pengalamannya dalam catatan demi catatan. Catatan-catatan itu Pram himpun dalam buku Perawan Remaja Dalam Cengkeraman Militer (catatan pulau buru).

Salah satu catatan mereka adalah tentang Sumiyati. Ia adalah seorang korban dari Klaten Jawa Tengah yang kemudian tertahan di Pulau Buru. Ketika Jepang kalah, para remaja perawan yang dijadikan pelacur itu tidak bisa kembali ke Jawa. Akhirnya mereka banyak tinggal di pedalaman Pulau Buru, bercampur dengan kehidupan pelosok dan suku-suku disana.

Sumiyati ini adalah salah satu perempuan yang tertahan di Buru. Sumiyati menikah dengan penduduk Pulau Buru, tapatnya di wilayah Way Lo. Hidup Sumiyati ketika terbebas dari Jepang bukannya semakin membaik, ia terjebak dalam lingkaran adat setempat. Pram menjelaskan bahwa pandangan adat setempat perpandangan bahwa istri adalah harta bagi suami, sama seperti harta lainnya yang bisa dipertukarkan, dijual, diwariskan kepada adik atau bapa, dan lebih parah lagi: istri menjadi sumber tenaga dan penghidupan bagi suami.

Nasib buruk itulah yang dialami Sumiyati, cita-citanya pulang ia benam dalam-dalam. Ia selamannya menjadi penduduk pedalaman Pulau Buru. Disaat Jakarta, Surabaya dan tempat ramai lainnya merayakan kemerdekaan Indonesia, Sumiyati harus tetap berjuang melawan nasibnya, nasib yang selama ini tidak pernah ia bayangkan sebagai seorang terpelajar. Kemauannya mengikuti intruksi Jepang untuk melanjutkan sekolah ternyata menghancurkan cita-cita indahnya. Ia terbuang jauh. Beruntung catatan tahanan politik di Pulau buru bisa menyelamatkannya, setidaknya kisah Sumiyati dan perempuan buangan lainnya tidak hilang, abadi dalam tulisan yang bisa diketahui oleh banyak generasi mendatang.

Buku Perawan Remaja Dalam Cengkeraman Militer (catatan pulau buru) telah membisikan bahwa kaum perempuan adalah harta berharga yang hendaknya dijaga dengan tumpah darah sekalipun. Perempuan adalah rahim sebuah bangsa.

Penulis : Sidqi Al Ghifari


Sidqi Al Ghifari:
Leave a Comment

This website uses cookies.