Menengok Cintawana, Sebuah Kampung Terisolir di Desa Cikondang-Cisompet

Korwil,Korwas dan K2S Kecamatan Cisompet, harus berjibaku mendorong motornya di jalanan berlumpur. Para pendidik ini harus bersusah payah untuk bisa monitoring belajar di rumah ke tiap sekolah yang ada di Desa Cikondang, Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut, Selasa (20/10/2020)/ foto : Iwan Setiawan/ garutexpress.id.***

garutexpress.id- Kampung Cintawana adalah sebuah kampung di pinggiran kawasan Garut Selatan. Kampung ini persisnya berada di Desa Cikondang, Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut.

Mahmud yang merupakan Kepala SDN 4 Cikondang sekaligus Plt Kepala SDN 3 Cikondang, mengungkapkan, perjalanan yang harus ditempuh dari ibu kota Kecamatan Cisompet ke kawasan Desa Cikondang, jaraknya kurang lebih 25 kilometer.

“Jaraknya dari ibu kota kecamatan (Cisompt) cukup jauh, 25 kilometeran, dengan jalan bebatuan dan harus melitas beberapa titik yang rawan longsor,” ungkap Mahmud, Senin (19/10/2020).

Korwil pendidikan Cisompet, Sumpena mengisahkan, untuk mencapai kawasan Cikondang dirinya harus bersusah payah menempuh jalan terjal dan berlumpur.

“Untuk mencapai daerah Desa Cikondang kita harus berjuang melintasi jalan yang terjal dan berlumpur. Bahkan kita harus bersusah payah mendorong motot karena amblas dalam kubangan lumpur,” ungkapnya.

Sementara itu, Jajang, salah seorang warga setempat mengaku wilayahnya, yakni Kampung Cintawana Desa Cikondang bisa dibilang daerah pinggiran yang terisolir.

“Memang kampung kami terbilang daerah pinggiran yang terisolir. Kalau mau ke kampung saya ke Cintawana harus sudah siap segalanya. Apalagi kalau musim penghujan seperti sekarang ini,” kata Jajang.

Dengan kondisi akses jalan yang buruk ini, warga setempat merasakan bagaimana mahalnya berbagai kebutuhan. Terlebih harga berbagai material bangunan harganya lebih mahal dari harga normal.

“Harga bahan bangunan cukup tinggi. Misalnya, harga semen tiga roda dalam satu zaknya seharga 100 ribu genting merek tunggal asih seharga Rp 2800 perbuah. Kenaikan harga itu bukan dari tokonya, melainkan ongkos transportasinya yang mahal,karena kami harus mengangkut manual dengan ojeg,” tutur Jajang.(*)

Reporter : Iwan Setiawan
Editor     : ER


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here