Memaknai Hari Sumpah Pemuda ke 92 dengan Membangun Ekosistem Kewirausahaan Pemuda sebagai Upaya Persiapan Menyambut Bonus Demografi

Oleh : Hendro Sugiarto, SE.,M.MKMT

GEGAP gempita perayaan HSP (Hari Sumpah Pemuda) setiap tanggal 28 Oktober selalu menjadi bagian rutinitas yang tidak bisa dilupakan oleh seluruh lapisan masyarakat di Indonesia.

Saya sendiri misalnya sejak SMP sampai dengan mahasiswa selalu mengikuti rangkaian upacara perayaan HSP di alun-alun Kabupaten Garut, hanya saja selang empat tahun berturut-turut sejak tahun 2012, mengikuti  upacara perayaan HSP di luar Kabupaten Garut, karena menjadi salah satu peserta yang akan menerima penghargaan pada acara rangkaian puncak HSP di tingkat provinsi dan Nasional.

Namun berbeda sejak tahun 2016 sampai sekarang, sebagai rakyat biasa setiap melewati HSP hanya bisa memposting di media social, atau seperti sekarang sekedar mencurahkan gagasan dengan cara menulis dengan topic seputar “PEMUDA.”

Sebagian orang mungkin akan  terjebak di dalam rutinitas tahunan, dimana HSP selalu mengingatkan kita akan semangat para pemuda pada waktu itu, yaitu semangat untuk mengikrarkan kecintaannya kepada Indonesia dan mengukuhkan betapa pentingnya persatuan Indonesia.

Persatuan menjadi modalitas perjuangan Indonesia melawan kolonialisme, mengutip Anis Matta dalam bukunya Gelombang Ketiga  menyebutnya sebagai gelombang pertama, yaitu gelombang menjadi INDONESIA. Fase persatuan itu melahirkan sebuah entitas baru yang bernama NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA.

Tulisan ini tidak ingin mencoba membangun sebuah memori tentang bagaimana perjuangan serta peran pemuda terhadap kontribusi lahirnya entitas baru yang bernama NKRI. Namun tulisan ini menjadi perhatian saya agar semua komponen baik pemerintah, perguruan tinggi, OKP, komunitas agar lebih aware dan saya ingin mengajak agar issue ini menjadi perhatian seluruh komponen tentang sebuah issue yang bernama “Kewirausahaan Pemuda”.

Sebagai orang yang penah menjadi seorang pemuda, memimpin oragnisasi kepemudaan bahkan pernah mencalonkan diri sebagai Calon KETUA organisasi induk kepemudaan issue kewirausahaan pemuda selalu “kalah pamor” dengan issue kepemimpinan/politik.

Padahal output dari pengembangan pemuda berdasarkan UU NO 40 tahun 2009 tentang kepemudaan ada tiga yaitu: kepempinan pemuda, kepeloporan pemuda dan kewirausahaan pemuda. Mmomentum HSP, menjadi sebuah momentum penting agar lebih berfikir holistic dan futuristic menghadapi Indonesia yang sebentar lagi akan berhadapan dengan bonus demografi, tidak semua negara mendapatkan bonus ini.

Kenapa saya sampaikan HSP ini menjadi momentum yang tepat untuk menggemakan issue kewirausahan pemuda ? Karena Indonesia sedang bersiap-siap menyambut kedatangan bonus tersebut.

Saya ingin ingin mengajak kepada seluruh komponen bagaimana peran dunia wiarausaha behgitu kontributif bagi pertumbuhan ekonomi bangsa ini. Berdasarkan data dari kementarian UMKM  tahun 2018 jumlah UMKM sebesar 64.194.057 Juta unit dengan serapan tenaga kerja sebanyak 116.978.831 orang atau sekitar 97% total serapan tenaga kerja, dengan menyumbang PDB 57,8%.

Jika melihat data tersebut sangat jelas bahwa menjadi seorang wirausaha dengan mengawali sebagai pelaku usaha mikro dan kecil menjadi tulang punggung ekonomi bangsa ini. Namun fakta menunjukan bahwa sector UMKM selalu terjebak di sector informal, dengan kata lain sulit untuk di scale-up atau naik kelas.

Menurut Small Business Association (SBA), hanya 70% usaha bertahan di dua tahun pertama, 50% bertahan di tahun kelima, dan 34% yang bertahan di tahun ke 10.  Melihat kondisi demikian banyak factor yang melatar belakangi kenapa sector UMKM sulit di scale-up, salah satu faktrnya adalah sumber daya manusia.

Sumber daya manusia yang mampu untuk naik kelas, tentu sumber daya masnuia yang kreatif, inovatif serta bisa beradabtasi dengan kondisi zamnnya, dan karakter tersebut ada pada seorang “PEMUDA”. Saat ini wirausaha menjadi primadona bagi anak milanial karena mempunyai jam kerja berupa flexible working.

Bagi milenial, saat ini identitas baru sebagai wirausahawan yang memiliki dampak manfaat bagi masyarakat banyak, menjadi ukuran hal baru yang “keren”. Apalgi saat kita memasuki tahun 2021 berati kita akan memasuki era anak muda mendominasi produktivitasnya, atau sering kita kenal sebagai bonus demografi.

Mereka akan memilki waktu selama 15-20 menguasai produktivitasnya. BIsa kita saksiskan bagaimana kejayaan China dan Korea, karena mereka  mampu memaksimalkan peluang bonus demografi tersebut.

Hanya saja, era ini akan berbalik arah jika usia produktif tidak menghasilkan energy pergerakan yang dilakukan oleh anak muda, atau dengan kata lain mereka akan menajdi beban jika hanya mengandalakkan warisan generasi sebelumnya. (purnomo, 2020).

Di tengah arus disrupsi dan krisis ekonomi global, perekonomian Indonesia dipandang masih tetap bertahan dan mampu tumbuh dengan stabil. Indonesia juga diprediksi akan menjadi negara dengan perekonomian terbesar ketujuh di dunia pada 2030.

Bahkan Fahri Hamzah dengan narasi arah barunya mengatakan bahwa Indonesia akan menjadi kekuatan kelima didunia. Namun satu hal yang harus di perhatiakan oleh Indonesia dalam menghadapi bonus demografi adalah jangan sampai Indonesia terjebak ke dalam katagori  middle income trap country, dan itu terjadi jika laju pertumbuhan ekonomi tidak diimbangi dengan peningkatan human capital atau produktivitas sumber daya manusia (SDM).

Dua hal agar Indoensia bisa keluar dan tidak terjebak  dari middle income trap country, yaitu meningkatkan kualitas SDM, dan melakukan transformasi ekonomi. JIka Indonesia kurang mampu memanfaatkan binus produksi dan sulit keluar dari zona middle income trap country, maka akan sulit bagi Indonesia menjadi negara maju.

Penciptaan lapangan kerja, menjadi sebuah isunstrategis karena bonus demografi akan menjadi sia-sia apabila lapangan kerja tidak memadai. Terlepas pro dan kontra berkaiatan dengan Undang-Undang Cipta Kerja saya menilai bahwa salah satu tujuan di bentuknya Undang-Undang sapu jagat ini dalam rangka menyiapkan kedatangan bonus demografi.

Para Milenial sekarang sudah menunjukan dan memberi pandangan tersendiri dalam hal produktivitas dengan bisnis rintisannya (startup business) dengan menawarkan sebuah novelty model (kebaruan model) bisnis yang dijalankan, juga menawarkan pemikiran dan penawaran baru yang menerobos model konvensional, jika mengutif istilah bang Yoshuadi menyebutnya dengan istilah “more-for-less economy.”

Saat ini kaum muda menjadi pelopor dalam pemikiran inovatif tentang kewirausahaan yang memberikan value added. JIka pada kongres Pemuda I tahun 1926 dan Kongres Pemuda II tahun1928, kaum muda menjadi motor penggerak perubahan terbentuknya sebuah entitas baru benrma INDONESIA, lantas apakah kaum muda sekarang mampu menjadi motor penggerak produktivitas dalam rangka menyambut era bonus demografi?

Saat itu kaum muda mampu menyatukan pemuda yang ada di berbagai nusantara untuk membangun sebuah komitment bersama, lantas bagaimana dengan anak muda sekarang dalam rangka membangun semangat kewiarausaan, apakah  mampu membangun semangat kolaborasi?

Saat itu anak muda juga mampu mempersatukan hingga terbentuknya sebuah entitas baru bernama INDONESIA, lantas apakah anak muda sekarang mampu mengangkat produktivitasnya di kacah global yang mewarnai kewiraushaan seperti apa yang dilakukan sosok anak muda yang menahkodai startup business karya anak bangsa yang melahirkan satu decacorn (Gojek) dan empat unicorn (Tokopedia, Buka Lapak, Traveloka dan Ovo)?

Pertanyaan-pertanyaan tadi semoga menjadi pemicu semangat anak muda dan momentum HSP harus menjadi sebuah energy bahwa masa depan Indonesia ada pada produktivitas anak muda. (*)

Penulis adalah, Lecturerpreneur dan Kandidat Doktor Ilmu Pemerintahan  di IPDN.***


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here