KBM Harus Online, Para Guru di Garsel Curhat Soal Sulitnya Sinyal Internet

Heri herdiana ,S.PdI (Guru Sukwan di Cisompet)***

garutexpress.id- Massa pandemi Covid-19 entah kapan berakhir, kondisi ini mengharuskan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sejumlah tempat diselenggarakan secara online atau virtual.

Sayangnya, KBM via online ini tak selancar KBM tatap muka. Di sebagian wilayah, misalnya di pinggiran Garut selatan (Garsel), warga masih banyak yang kesulitan untuk mendapatkan sinyal internet.

Sulinya mendapatkan sinyal internet kini menjadi kendala cukup krusial bagi para guru atau penyelenggara pendidikan di kawasan Garsel itu. Terlebih, baru-baru ini infrastruktur di kawasan tersebut masih dalam proses perbaikan pascaterjangan banjir bandang yang disertai longosor.

Dari pantauan garutexpress.id, pascabencana banjir beberapa pekan lalu, sejumlah wilayah semakin sulit mendapatkan sinyal internet. Tercatat ada beberapa wilayah yang kini sinyal internetnya sangat buruk, di antaranya di kawasan Desa Cikondang, Desa Marga Mulya dan sebagian di beberapa desa di Kecamatan Cisompet.

Iya Sutia, S.Pd. (Kepala SDN 3 Margamulya-Cisompet-Garut)***

Soal sulitnya sinyal internet ini disampaikan sejumlah pendidik dan orang tua siswa di kawasan tersebut.

“Kami warga di sini sangat sulit untuk berkomunikasi melalui hp. Kalau pun bisa untuk berkomunikasi dengan teman,atau untuk keperluan kedinasan saya sendiri harus mencari tempat yang ada sinyal hp. itu pun hanya sebatas untuk menggunakan pesan singkat (SMS). sedangkan untuk berkomunikasi langsung tidak bisa. Bahkan kalau ada perintah untuk rapat dinas saja saya sering ketinggalan karena satu dua hari pesan tersebut baru saya terima,” ungkap Undang, Kepala SDN 1 Margamulya Cisompet, menyampaikan curhatnya kepada garutexpress.id, Sabtu (31/10/2020).

Curhatan senada disampaikan Oman Suparman, salah seorang orang tua siswa yang tinggal di Kampung Cikole, Desa Neglasari, Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut. Ia mengaku, hanya untuk mendapakan sinyal seluler, dirinya harus mencari-cari tempat yang lebih tinggi.

“Ya, kalau mau langsung komunikasi harus pergi mencari tempat yang ada sinyalnya. Itu pun hanya sebatas saling mengirim pesan singkat. Mendingan kalau cuaca tidak turun hujan,” keluhnya.

Situasi serupa dirasakan Uyan bersama dua rekannya sesama kepala sekolah, warga Kampung Cintawana. Akibat sulitnya mendapatkan sinyal internet, tak jarang ia harus langsung menemui anak didiknya ke rumah rumah di perkampungan.

“Selain faktor sinyal juga infrastruktur jalan juga sangat sulit untuk dilalui roda dua. Apalagi jika musim hujan seperti sekarang ini, selain medan jalan yang tidak bersahabat juga sering tertimpa material longsor. Namun demikian kami harus tetap menemui anak anak didik kami secara dor to dor agar kami bisa mentransfer ilmu untuk anak-anak,”ungkap Uyan. (*)

Reporter : Iwan Setiawan
Editor     : ER


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here