Gegara Corona, Tingkat Okupansi Hotel di Cipanas-Garut Turun Nyaris 80 Persen

garutexpress.id- Setelah adanya beberapa karyawan yang terkonfirmasi positif Covid-19 di di tiga hotel, okupansi atau hunian hotel di kawasan wisata Cipanas, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garu mengalami penurunan hampir 80 persen. Penurunan terjadi setelah adanya pegawai di tiga hotel yang positif Covid-19.

Menurut sekretaris  Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Garut, Tanto Sudianto Rieza, adanya kasus Covid-19 di objek wisata sangat berdampak. Banyak wisatawan yang membatalkan kunjungan ke Garut. Padahal hanya tiga hotel yang diindikasikan Covid-19.

“Padahal wisata di Garut itu baru tumbuh. Saat long weekend, okupansi sudah naik 80 persen. Kasus Covid-19 kemarin buat okupansi merosot lagi,” ujar Tanto, Senin (7/9/2020).

Tanto juga menyayangkan beredarnya surat dari Disparbud Garut soal nama hotel yang ditutup. Seharusnya surat tersebut tidak bocor ke publik.

“Kami menyayangkan dan prihatin terhadap manajemen kearsipan pemerintah. Bocornya surat itu seharusnya tidak terjadi. Kalau hanya imbauan bisa jadi konsumsi publik,” ucapnya.

Bocornya surat itu membuat wisata di Garut kembali merosot. Banyak agen travel di Jakarta dan luar daerah yang membatalkan kunjungan ke Garut.

“Jangan sampai bocornya surat seformal itu terulang kembali. Bocornya surat ini tak hanya berdampak ke pengusaha, tapi berdampak juga ke kepentingan pemerintah,” katanya.

Di satu sisi, pemerintah dibebani mengeleminasi penyebaran Covid-19. Namun di sisi lain, pemerintah harus bisa membangkitkan ekonomi.

“Dengan adanya hal ini, mematikan sektor ekonomi pariwisata. Makanya perlu ada langkah lain untuk membangkitkan ekonomi,” ujarnya.

Perwakilan Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Garut, Ivi D Sunardi, menilai, adanya kasus Covid-19 di klaster wisata jadi efek domino bagi wisata lain. Padahal, pariwisata di Garut tengah menumbuhkan kepercayaan.

“Protokol kesehatan sudah diterapkan di semua hotel dan restoran. Banyak yang konfirmasi ke kami soal kasus ini. Harus ada sinergitas antara pemerintah dan pelaku usaha,” ucap Ivi.

Ia mempertanyakan munculnya klaster wisata ke publik. Padahal klaster lain bisa disembunyikan pemerintah. Dengan kasus ini, ia berharap pemerintah juga ikut membantu perkembangan sektor wisata. (*)

Reporter : FW

Editor     : ER


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here