Antisipasi Gempa Megathrust, Pemkab Garut Siapkan 3 Peta untuk Evakuasi di 7 Kecamatan

garutexpress.id- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut, melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut tengah membuat tiga peta. Yakni peta kontijensi, mitigasi, dan emergensi.

Langkah ini untuk mengantisipasi ancaman gempa megathrust yang diriset peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) tentang adanya potensi tsunami di selatan Jawa dengan ketinggian mencapai 20 meter yang terbit di jurnal Nature Scientific Report.

“BPBD sedang membuat peta kontijensi, mitigasi dan emergensi untuk evakuasi. Kalau megathrust terjadi agak sulit kalau 10 menit. Kita memerlukan waktu minimal 30 menit untuk evakuasi,” kata Bupati Garut, Rudy Gunawan, Senin (28/9/2020).

Setidaknya, ada tujuh kecamatan yang berada di sekitar pantai selatan Garut yang akan terancam jika penelitian tersebut terjadi. Ketujuh kecamatan tersebut mulai dari Cibalong, Pameungpeuk, Cikelet, Mekarmukti, Bungbulang, Pakenjeng, dan Caringin. Tujuh kecamatan itu terdapat ribuan rumah yang dihuni puluhan ribu jiwa yang harus dievakuasi ke dataran yang lebih tinggi.

Ilustrasi peta BMKG.

“Yang paling rawan itu warga di 3 kecamatan, mulai dari Cikelet, Pameungpeuk, dan Cibalong. Apalagi di Pameungpeuk ini ada pasar yang selalu dipadati. Masjid agungnya saja berada di 7 meter di atas permukaan laut. Jadi memang ketiga kecamatan itu ada di dataran rendah. Bisa dibayangkan kalau 20 meter, waduh,” sebutnya.

Walau begitu, Bupati menyebut sudah membuat jalur evakuasi di beberapa tempat. Pihaknya mengambil langkah-langkah cepat agar warga di sekitar pantai selatan Garut tidak panik.

Selain itu, Pemerintah Kabupaten Garut juga sedang memperbaiki alat pendeteksi tsunami karena dari 7 alat yang terpasang hanya 2 saja yang berfungsi.

“Ada 5 tempat yang kami ajukan, kami dapat 2 atau 3 dari BNPB,” katanya.

Kesiapan lainnya, langkah mitigasi dengan memperbaiki jalur evakuasi dengan ketinggian minimal 30 meter. Namun walau begitu, hasil perhitungan pihaknya saat hal tersebut terjadi tetap akan sulit melakukan evakuasi.

“Karena katanya 5 menit sudah sampai di daratan, ini yang sedang kami pikirkan. Kita akan simulasi. Namun memang alat-alat sangat terbatas. Kita akan upayakan simulasi untuk meminimalisasi korban. Kita ada anggaran. Arahnya masyarakat tidak boleh lagi memperhatikan harta benda. Ketika terjadi, seadanya saja langsung lari ke atas yang lebih aman,” pungkasnya.(*)

Reporter : mrd
Editor     : ER


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here