Potensi Produk Unggulan, Petani Desa Margamulya Berharap Pemerintah Fokus Kembangkan Kopi Garut

garutexpress.id- Saat ini tanaman kopi Garut mulai jadi sorotan para penikmat kopi dunia. Tak heran, kini kalangan petani mulai serius membudidayakan salah satu produk pertanian unggulan Garut ini.

Untuk mengembangkan produk pertanian ini, tentunya perlu dukungan semua pihak, termasuk pemerintah setempat. Dengan dukungan pemerintah ini potensi pertanian kopi Garut bisa dikembangkan secara maksimal.

Terkait kopi Garut, para petani kopi yang ada di kawasan Desa Margamulya, Kabupaten Garut, Jawa Barat meminta pemerintah daerah, termasuk Pemerintah Provinisi Jawa Barat (Pemprov Jabar) bisa lebih fokus mendukung pengembangan pertanian kopi ini, kususnya di Desa Margamulya.

Menurut Ketua Kelompok Tani Motekar Mandiri, Desa Margamulya, Kecamatan Cijakang, Suhendar, saat ini Desa Margamulaya telah dicanangan sebagai ‘Kampung Kopi’ bahkan disiapkan jadi salah satu wisata kebun kopi di Jawa Barat.

“Saat ini kampung kami (Desa Margamulya) telah dicanangkan sebagai’Kampung Kopi’ dan menjadi salah satu lokasi wisata kebun kopi di Provinsi Jawa Barat. Untuk itu, kita meminta pemerintah daerah, baik kabupaten maupun provinsi bisa fokus dalam pengembangan program ini sesuai dengan target yang direncanakan sebelumnya, jangan setengah-setengah sehingga programnya bisa sukses,” tutur Suhendar yang akrab disapa Henhen, saat dihubungi garutexpress.id, Minggu (23/08/2020).

Dia menambahkan, Desa Margamulya berada di atas ketinggian 1.200 Mdpl sehingga cocok untuk pengembangan tanaman kopi. Luas area perkebunan kopi di Desa Margamulya tercatat lebih dari 90 hektare dengan mayoritas ditanami jenis Kopi Arabika.

Henhen menyebut, setiap kali musim panen, di area pertanian tersebut dalam satu hektare lahan bisa menghasilkan 12 ton biji kopi berkualitas.

“Untuk proses pemanenannya selama satu musim bisa dilakukan sampai empat kali. Karena memang buah kopi yang masak tidak bersamaan,” katanya.

Menurutnya, kopi yang dikembangkan oleh para petani di Desa Margamulya merupakan kopi stek yang berasal dari beberapa klon di antaranya klon Sintaro 1, 2, 3, klon lanang dan yang lainnya.

“Saat ini, untuk pemasaran hasil perkebunan kopi, sebagian diolah menjadi kopi bubuk dalam kemasan,” tambahnya.

Kopi bubuk hasil olahan para petani ini diberi merek ‘Hen’s Cofee’- Kopi Khas Garut. Kopi bubuk yang memiliki aroma harum yang khas ini dikemas higienis dengan kemasan menarik. Untuk haraganya, kemasan kecil dibanderol Rp 50 ribu, dan kemasan besar Rp 125 ribu per bungkusnya.

Untuk pemasaran kopi bubuk dalam kemasan ini untuk saat ini dijual di wilayah Cikajang dan kecamatan terdekat. Dalam sebulannya Hen’s Cofee mampu menjual prduknya hingga 500 kg. Selain itu, mereka juga menjual KOPI dalam bentuk biji kopi atau green been dengan tujuan Kota Garut dan wilayah lainnya.

“Kami berterima kasih kepada Dinas Perkebunan yang selalu mendampingi kami dan ikut mempromosikan produk kami ini. Kami juga berharap Disperindag (Dinas Perindustian dan Perdagangan) Kabupaten Garut bisa membantu kami untuk mengembakan hasil produksi pertanian lokal terutama kopi,” harapnya.

Seperti diketaui, berdasarkan data dari Bidang Perkebunan pada Dinas Pertanian kab Garut, produksi biji kopi asal daerah tersebut pada 2012 lalu mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Tercatat, untuk kopi jenis Arabika total hasil panen tahun sebelumnya hanya 100 ton, dan pada tahun ini (2020) meningkat menjadi 300 ton, hasil tersebut didapat dari hasil panen di atas lahan perkebunan kopi seluas 90 hektare. (*)

Reporter : Viki
Editor     : ER


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here