Bisnis Perumahan Bersubsidi Menggeliat di Tengah Pandemi

Perumahan Situgede Madani, salahsatu perumahan bersubsidi di kawasan Desa Situgede, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut.***

garutexpress.id- Bisnis perumahan terutama rumah subsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di Kabupaten Garut mulai kembali bergeliat.

Di awal pandemi, penjualan rumah subsidi anjlok hingga 60 persen. Pihak bank sebagai pemberi fasilitas pembiayaan juga enggan mengambil risiko. Akad kredit rumah sempat tersendat karena melihat situasi ekonomi.

Ketua Himpunan Perumahan Rakyat (Himperra) Garut, Widi Nugraha, menyebut sejak bulan Juni masyarakat mulai kembali mengajukan kredi rumah. Akad kredit pun sudah mulai dilakukan.

“Kendala pasti ada, terutama di ruang gerak karena efek corona. Ada zona yang belum dikunjungi sehingga menghambat percepatan proses kredit,” ujar Widi ditemui di Villa Rancabango, Kecamatan Tarogong Kaler, Selasa (25/8/2020).

Penjualan rumah sempat merosot karena ekses pandemi. Perlahan, penjualan rumah kembali meningkat hingga 30 persen dibanding masa awa pandemi.

“Dari perbankan juga sudah menyambut baik. Percepatan (proses kredit) khususnya untuk MBR tak dipersulit. Masyarakat masih bisa tetap menikmati fasilitas,” ujarnya.

Terkait adanya beberapa syarat baru seperti cicilan yang harus dibayar konsumen lebih dari sekali, Widi menyebut suatu kewajaran. Bank juga ingin memiliki kepastian jika konsumen bisa melakukan pembayaran.

“Untuk di Garut, kebutuhan MBR ini masih belum terpenuhi. Deadlocknya masih besar karena banyaknya jumlah penduduk,” ujarnya.

Kebutuhan rumah yang tinggi, tak diimbangi ketersediaan lahan. Hanya ada 18 persen lahan yang bisa dijadikan pemukiman.

“Akhirnya untuk MBR harus cari tempat yang lebih jauh. Biar harga tanah lebih murah,” katanya.

Wakil Bupati Garut, Helmi Budiman, mengatakan, ketersediaan tanah di Garut sangat sempit. Dari 310 ribu hektare lahan yang ada, sebanyak 82 persen meruapakan lahan konservasi.

“Hanya ada 18 persen untuk perumahan. Jadi tidak terlalu banyak. Di lapangan tanah murah masih banyak, cuma agak jauh lokasinya,” ujar Helmi.

Helmi memprediksi, harga lahan di Garut akan semakin mahal dengan terbatasnya lahan. Ditambah jumlah penduduk Garut yang mencapai 2,7 juta maka kebutuhan rumah akan semakin banyak.

Sementara itu, Dedi Suryadi, salah seorang pelaku usaha perumahan di kawasan Desa Situgede, Kecamatan Karangpawitan Garut mengatakan, saat ini bisnis perumahan bersubsidi di Kabupaten Garut cukup kompetitif.

“Banyak memang pebisnis perumahan, khususnya perumahan bersubsidi yang menawarkan berbagai keunggulan masing-masing. Perlu diingat, membeli perumahan diibaratkan membeli asset yang tak pernah ada ruginya. Harga rumah sekaligus tanahnya itu akan terus berkembang seiring perkembangan zaman. Membeli perumahan itu tak seperti membeli gadget, semahal apapun harga gadget setelah dipakai, maka akan anjlok harganya. Tidak seperti perumahan yang assetnya tak lekang dimakan waktu,” tutur Dedi, pengelola bisnis perumahan Situgede Madani di salah satu kawasan strategis yang akan dilintasi jalan baru, yakni Jalan Lintas Karangpawitan yang saat ini sedang dalam proses pembebasan lahan oleh pihak Pemkab Garut melalui Dinas PUPR. (*)

Reporter  : FW
Editor      : ER


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here