Suara Pekerja Seks Komersial “Booking Online” Garut

Oleh: Prima Satriya Januarta

MUNGKIN sudah tidak asing lagi bila kita mendengar stilah Open BO (Bookingonline) khususnya bagi kaum milenial. Yang dipahami sebagai seorang pekerja seks komersial (PSK) yang berbasis online atau menggunakan media sosial untuk sarana pemasaran dan prasarana pendistribusian jasa seks komersial.

Dalam sejarah, prostitusi sudah ada dan dipraktikan sejak beberapa ribu tahun yang lalu seperti pada peradaban Babilonia, Mesir kuno , Palestina kuno, Yunani kuno, Romawi kuno.

Prostistusi kala itu seringkali dipraktikan dengan cara perbudakan, yaitu ketika seseorang menawan perempuan untuk diperjual belikan demi memenuhi hawa nafsu laki-laki. Sejarah prostitusi adalah sejarah panjang tentang eksploitasi dan penindasan yang patriarkis.

Hari ini prostitusi masih juga dipraktikan, namun jarang dilakukan secara terang-terangan melainkan secara tersembunyi dan terselubung . Lantas bagaimana mereka mempromosikan layanan jasa seks komersialnya itu ? Jawabannya beragam ada yang menggunakan sistem Booking Online, ada juga yang dipromosikan lewat para mucikari dan banyak lagi.

Kita sebut saja inisia lS (19) seorang pekerja seks komersial yang ditanyai oleh penulis di Garut kota pada Rabu 08 Juli 2020 , S (19) mengaku menggunakan sistem open BO untuk mempromosikan jasa pelayanan seks komersialnya di daerah Garut.

S (19) telah terjun ke dunia malam sejak di bangku sekolah menengah tepatnya kelas 1 SMA. Berangkat dari menjalankan pekerjaan sebagai pemandu lagu, S (19) merasa tidak tercukupi oleh hasil pekerjaannya karena dia harus memenuhi kehidupannya dengan mandiri tanpa bantuan orang tuanya yang bercerai pada saat usia nya baru 11 tahun, tepat nya waktu ia baru menginjak kelas 6 SD dan S (19) meninggalkan rumah saat menginjak bangku SMA.

S (19) terjun ke dunia malam bukan karena semata-mata untuk mencari kesenangan dan menjalankan gaya hidup yang hedonis. S (19) melakukan itu melainkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari seperti untuk makan, bayar kosan dan sekolah (saat S (19) masih bersekolah dan dia putus sekolah pada saat menginjak kelas 2 SMA).

Bukan main resiko tinggi yang harus dihadapi S (19) dalam pekerjaannya saat ini dari mulai ditipu pelanggan iseng, diteror oleh orang yang tidak bertanggung jawab, juga diintai oleh Intel. Tapi semua resiko itu ditanggung S(19) demi memenuhi kebutuhan hidupnya untuk sekedar hidup.

“Saya sering sekali kehabisan uang buat makan sampai-sampai saya mengidap penyakit lambung yang cukup mengkhawatirkan,“ tutur S(19) saat sedang diwawancarai penulis di Garut kota rabu 08 Juli 2020. S(19) seringkali kehabisan uang untuk makan juga bayar kosan karena menurut pengakuannya dia hanya mencari pelanggan pengguna jasa seks sekali dua kali dalam sebulan karena dia sendiri sangat cemas akan resiko dan bahaya yang harus iya tanggung.

“Saya melakukan pekerjaan ini karena terpaksa, ya sudah bagaimana lagi ijazah saya sampai SMP nyari kerja yang halal juga susah sedangkan saya kan harus makan, bayar kosan dan lain nya,“ tutur S(19) saat ditanya penulis pada Rabu 08 juli 2020.

S(19) menarif layanan jasa seks nya sebesar Rp. 400.000 per setiap kali “main” yang rata-rata berdurasi 15-30 menit. Dengan uang hasil open bo itu, S(19) memenuhi kehidupan sehari-hari nya. Tanpa bantuan orang tua maupun sanak famili S(19) menjalankan hidupnya sendiri.

“ Mereka (publik) sering kali memandang rendahan bahkan menganggap sampah kepada orang-orang seperti saya ini (PSK) tanpa mereka mau mengerti kalo orang-orang yang mencari uang seperti saya ini sangatlah susah dan beresiko tinggi dan cenderung menjadi pilihan terakhir saat keadaan sosial ekonomi sedang susah-susahnya apalagi sekarang di masa pandemi,” tutur S(19) saat diwawancarai penulis di Garut kota Rabu, 08 Juli 2020.

Para pekerja seks komersial itu memanfaatkan media sosial sebagai sarana pemasaran jasa pelayanan seks nyayang di nilai mudah, efisien dan hemat biaya ketimbang harus menggantungkan nasib dan peruntungannya kepada seorang mucikari.

“ Waktu naas saya pernah dipergok intel dan diancam di tangkap jika saya terus menjalankan profesi saya ini, tapi ya karena prinsip saya adalah hidup ini hidup saya sendiri terserah saya mau cari uang kaya gimana juga karena alasan saya adalah untuk melanjutkan keberlangsungan hidup saya hari demi hari,” tutur S, lirih.

Sampai sekarang S(19) masih menekuni profesinya sebagai Pekerja seks komersial. Dia berharap publik bisa lebih mengerti keadaannya. Karena menjadi PSK itu bukan semata-mata kehendak, melainkan karena keterpaksaannnya atas tekanan sosial ekonomi yang sangat sulit.

Ironis sungguh sangat ironis, di tengah gencarnya pembangunan terbukanya pintu masuk investasi secara besar-besaran semakin tingginya pajak yang diterapkan ternyata negara tidak mampu meminimalisir angka kemiskinan masyarakatnya minimal mensejahterakan masyarakat kelas bawah dengan lapangan pekerjaan yang mudah dimasuki bagi orang yang berpendidikan rendah.

Sungguh sistem ekonomi kapitalisme di negara ini sangat berdampak buruk pada sebagian besar kelas masyarakat Indonesia, yakni kelas menengah bawah dan kelas pekerja. Yang rasanya semakin hari-semakin susah ditekan oleh keadaan sosial ekonomi yang makin sulit , yang secara teoritis lebih mengutamakan keuntungan para pemilik modal dari pada para kaum pekerja.

Masyarakat seakan semakin lemah dengan keadaan inflasi, devaluasi dan juga defisitnya pendapatan akhir-akhir ini karena krisis global yang di akibatkan oleh pandemi Novel corona Virus Disase-19 (Covid-19).

Meski masa pandemi Covid-19 belum berakhir, S(19) tetap menjalankan profesinya seperti biasa tanpa protokol keamanan yang berlebih yang tentunya sangat beresiko tinggi tertular oleh virus corona. Terlebih lagi kasus positif Covid-19 di Jawa Barat masih mengalami peningkatan per harinya. Walaupun kasus pasien positif di Garut sudah bisa dibilang nihil sejak pasien terahkir positif Covid-19 dinyatakan sembuh pada Senin 6 Juli 2020.

“Saya punya rencana untuk ke depannya mau benar-benar meninggalkan pekerjaan saya ini dan beralih ke pekerjaan yang seperti orang kebanyakan kerjakan. Nanti, pas saya sudah mendapatkan ijazah SMA saya yang akan saya peroleh dari program pendidikan Paket C, Semoga saja saya di beri kelancaran jalan oleh tuhan untuk menggapai hidup yang lebih baik daripada hari ini,” tutur S(19) saat diwawancarai oleh penulis di Garut kota pada Rabu 08 Juli 2020.

Dengan ini mungkin kita bisa lebih memberikan pengertian kepada para pekerja seks komersial di Garut khususnya. Terlebih lagi, kita berharap pemerintah secepatnya menyediakan lapangan pekerjaan yang halal dan mudah diakses oleh kalangan sosial mana pun karena sejatinya mereka sangat membutuhkannya untuk keluar dari jurang gelap prostitusi. (*)

 

 


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here