RUU PKS Ditunda, Kekerasan Seksual Makin Menggila?

Oleh: Prima Satriya Januarta

RANCANGAN Undang-undang Penghapusan kekerasan seksual disingkat RUU PKS di tunda (Lagi). Setelah dijadwalkan masuk dalam prolegnas tahun 2020 kini  RUU PKS kembali digeser oleh DPR dari prolegnas 2020 ke 2021. Sementara itu jumlah kasus kekerasan seksual makin menghawatirkan saja. Bayangkan saja angka kasus kekerasan seksual yang ada dalam catatan tahunan Komnas Perempuan pada tahun 2020, teracatat sebanyak 431.471 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan dan ditangani sepanjang tahun 2019. Angka tersebut besarannya naik sebanyak 6% dari tahun sebelumnya (406.178 kasus). Komnas Perempuan juga mencatat selama kurun waktu 12 tahun kekerasan terhadap perempuan meningkat hampir 8 kali lipat.

DPR menganggap bahwa rancanga undang-undang Penghapusan Kekerasan seksual itu sulit dalam pembahasan nya dan juga dianggap tidak terlalu mendesak untuk diprioritaskan dalam prolegnas tahun 2020.DPR lebih mengutamakan RUU yang dianggap dapat memulihkan dengan cepat kondisi perekonomian negara di masa pandemi ini.

Alih-alih demi kelancaran dan pulihnya ekonomi perlindungan akan harkat dan martabat manusia dikesampingkan.

Akhir-akhir ini kerap terjadi kasus kekerasan seksual yang sangat menghawatirkan dan tidak beradab membuat rasa cemas masyarakat terutama kaum perempuan yang seringkali menjadi korban dalam kasus kekerasan seksual. Seperti yang terjadi di Lampung Timur, seorang anak korban dugaan pemerkosaan kembali mengalami dugaan kekerasan seksual, bahkan dijual, yang disebut dilakukan oleh petugas Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Lampung Timur berinisial DA.Korban yang berinisial N pada November 2019 di tawari di rehabilitasi di rumah aman milik negara sejak saat itu korban mengalami serangkaiantindakan kekerasan seksual yang dilakukan oleh DA.

Tidak hanya mendapat kekerasan seksual korban juga dijual oleh pelaku. Sungguh sangat ironis dan mengerikan ketika korban masih saja mengalami kekerasan seksual walau sudah ditempatkan di rumah aman milik negara.

Di Garut pada 30 juni 2020 telah terjadi peristiwa pemerkosaan seorang perempuan berusia 16 tahun yang dilakukan oleh 7 orang pria. Korban di bawa oleh pelaku ke rumah kosong dan dicekoki dengan obat sehingga korban merasa tidak berdaya dan menjadi objek kebiadaban para pelaku kekerasan seksual.

Setelah itu korban ditinggalkan sendiri di rumah kosong itu kemudian korban melaporkan kejadian tersebut. Betapa menghawatirkannya kasus kekerasan seksual ini yang makin marak terjadi.

Di masa pandemi ini ternyata krisis tidak hanya menghantui pada sektor perekonomian ternyata yang lebih mengerikan krisis ini mulai timbul dalam sektor moral yang makin merosot nilainya. RUU PKS yang diharapkan menjadi kekuatan untuk menghapuskan atau menekan angka kekerasan seksual malah ditunda seperti disingkirkan begitu saja dalam keadaan yang sebenarnya sedang mendesak ini.

DPR dinilai tidak sensitif kepada kasus kekerasan seksual yang terus saja bertambah. Pemerintah juga terkesan biasa-biasa saja dalam menanggapi isu maraknya kekerasan seksual di Indonesia. Tanpa langkah tegas yang di dasarkan pada hukum yang kuat mungkin usaha penghapusan kekerasan seksual hanya akan berjalan di tempat.

Sudah sepatutnya RUU PKS ini menjadi prioritas karena harkat dan martabat manusia itu sangatlah penting dan harus dijaga. Karena kekerasan seksual adalah kejahatan terhadap kemanusiaan. Mari kita simak konsiderans dari RUU PKS :

  1. bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan rasa aman dan bebas dari segala bentuk kekerasan sesuai dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
  2. bahwa setiap bentuk Kekerasan Seksual merupakan kejahatan terhadap martabat kemanusiaan dan pelanggaran hak asasi manusia yang harus dihapus;
  3. bahwa Korban Kekerasan Seksual harus mendapat perlindungan dari negara agar bebas dari setiap bentuk Kekerasan Seksual;
  4. bahwa bentuk dan kuantitas kasus Kekerasan Seksualsemakin meningkat dan berkembang, namun sistem hukum Indonesia belum secara sistematis dan menyeluruh mampu mencegah, melindungi, memulihkan dan memberdayakan Korban serta menumbuhkan pemahaman dan kesadaran masyarakat untuk menghapuskan Kekerasan Seksual;
  5. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d, perlu dibentuk Undang-Undang tentang Penghapusan Kekerasan Seksual;(draft Rancangan Undang-undang Penghapusan kekerasan seksual )

Sudah terbayang jika kita simakkonsideran dari RUU PKS bagaimana kecerahan sistemasi hukum yang mengatur penghapusan kekerasan seksual di Indonesia nantinya. Dan hari ini kita masih berharap pemerintah maupun DPR untuk segera mengesahkan RUU tersebut agar bisa menjadi pedoman dan perlindungan bagi para penyintas dan kaum yang rentan menjadi korban kekerasan seksual di Indonesia. Karena kekerasan seksual adalah kejahatan terhadap kemanusiaan, kemanusiaan yang harus kita jungjung tinggi derajatnya.

Bayangkan bila suatu sore kamu sedang duduk di beranda sambil melihat handphone menikmati sore itu. Di dalam handphone kamu membuka suatu situs media online untuk mengetahui kabar baik hari ini. Ternyata dalam media online itu kamu melihat ada sesuatu yang trending sesuatu yang sangat penting.

Kamu melihat di dalam nya termuat berita tentang kekerasan seksual yang biadab. Kamu membaca berita itu dan melihat inisial nama korban nya seperti inisial nama seseorang yang paling kamu sayangi. Setelah kamu mencurigai kesamaan inisial dan umur korban itu, kamu mencoba mencari tahu kabar orang itu.

Kamu  mulai menghubungi nya lewat telfon ternyata tidak dijawab dan kamu mencoba menghubunginya lagi dan lagi tapi sama saja tidak ada jawaban. Setelah beberapa saat munculah notifikasi di handphone kamu yang berisikan pesan pemberitahuan dari pihak kepolisian jika benar orang yang paling kamu sayang itulah yang menjadi korban kekerasan seksual manusia yang tidak beradab hari itu.

Bayangkan bagaimana hancurnya perasaanmu sebagai orang terdekat korban terlebih lagi bagaimana hancurkan perasaan dan hidup korban yang mengalami kekerasan seksual itu. Seketika sore yang indah itu menjadi sore paling kelam dan kamu hanya bisa meresapi campur aduknya emosi dalam perasaanmu melihat orang yang paling kamu sayangi itu menderita dan hancur dalam ketidakadilan yang dideritanya. Sungguh sangat mengerikan bukan ?

Dengan melihat atau merasakan yang namanya injustice mungkin hidup akan memberikan kita beberapa pilihan. Apa kita harus menindak ketidakadilan itu dengan ketidakadilan lain nya atau kita menindak ketidakadilan itu dengan keadilan atau kita tidak menindaknya sama sekali.

Semoga saja keadilan menjadi milik kita bersama bukan menjadi milik pihak yang lebih berkuasa. Semoga kita senantiasa terus berbahagia Seperti yang diucapkan filsuf Yunani Aristocles bahawa “Keadilan, kebenaran, kebebasan, itulah pangkal dari kebahagiaan”

Semoga saja dengan tulisan sederhana ini yang bahkan mempunyai banyak kekurangan nya tersendiri, bisa menjadi sarana pengingat akan Kejinya kekerasanbseksual dan penting nya penghapusan kekerasan seksual. Karena dengan kita menjadi sadar akan biadab dan jahatnya kekerasaan seksual mungkin akan bisa menekan angka kasus kekerasan seksual di Indonesia.

Panjang Umur semua hal yang baik. (*)


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here