Penjaga Makam di Garut, Tinggal di Gubuk Mirip Kandang Kambing

Idah Wati (53) saat ditemui di kediamannya yang mirip kandang kambing di Kampung Bojong, Desa Lebakagung, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut, Jawa Barat.*

Garutexpress.id – Kemiskinan di Kabupaten Garut, Jawa Barat nampaknya menjadi persoalan yang belum tertuntaskan. Salah satu contohnya, seorang janda penjaga makam yang harus tinggal di sebuah gubuk yang mirip kandang kambing.

Idah Wati (53), selama tujuh tahun tinggal di gubuk yang beratapkan terpal tersebut. Ia terpaksa tinggal di sana karena rumahnya hangus terbakar.

Rumah panggung itu didirikan Idah di tanah wakaf. Di bagian depan rumah, langsung berhadapan dengan makam.

Rumah itu berukuran sekitar 3×2 meter. Semua bahan bangunan terbuat dari kayu. Di bagian dinding rumahnya, hanya ditutup kain terpal bekas.

Hanya ada dua ruangan yang terdiri dari tempat tidur dan sebuah dapur. Tak ada jamban di dalam rumah.

Untuk buang air, ada sebuah toilet di luar rumah yang hanya ditutup karung dan empat buah kayu. Biasanya warga menyebut toilet itu dengan nama WC ‘helikopter’.

Sehari-hari Idah mengandalkan kebutuhan dari pemberian orang yang berziarah dan sejumlah tetangga.

“Alhamdulillah suka ada peziarah yang kasih uang atau makanan. Tetangga juga sering bantu,” ucap Idah ditemui di rumahnya Kampung Bojong, Desa Lebakagung, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Idah hanya berprofesi sebagai pembersih makam. Ia tak punya pilihan dengan tinggal di gubuk reot tersebut. Tak jarang saat hujan besar, ia harus mengungsi karena rumahnya bocor.

“Biasanya suka ke mushola di dekat rumah kalau hujan. Listrik juga ambil dari mushola,” katanya.

Idah tak banyak mengeluh dengan kondisinya. Sebelum tinggal di gubuk itu, ia bersama suami dan anak angkatnya tinggal di saung di tengah kebun milik orang lain di Kelurahan Sukanegla, Kecamatan Garut Kota. Setelah itu, ia pindah ke sebuah rumah milik orang lain.

“Sudah tiga kali pindah-pindah tempat tinggal. Suami saya dulu kerjanya hanya buruh di pabrik kulit di Sukaregang,” kata Idah.

Idah berharap bisa dibuatkan tempat tinggal yang lebih layak. Tinggal di gubuk alakadarnya itu pun sering membuat Idah tak bisa tidur pulas.

“Kalau hujan kehujanan, terkadang pindah ke teras mushola yang ada di dekat gubuk,” pungkasnya.

Rumah Idah pertama kali dilaporkan oleh seorang peziarah ke Babinsa di Desa Lebakagung. Setelah itu, Babinsa melaporkan keadaan Idah ke pihak kecamatan. (*)


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here