Penghina Guru di Medsos Minta Maaf, PGRI Garut Tetap Lakukan Langkah Hukum

garutexpress.id- Kasus pencemaran nama baik dan penghinaan terhadap guru yang dilakukan oleh DI (45) warga Kampung Dangiang, RT 02, RW 01, Desa Dangiang, Kecamatan Banjarwangi, Kabupaten Garut, Jawa Barat, terus bergulir, Senin (28/07/2020).

Saat ini pihak Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Garut terus melakukan upaya hukum dengan menyerahkan kasus tersebut kepada kuasa hukumnya Silgar & Partners.

Menurut kuasa hukum PGRI yang diwakili Anton Widiatno SH, kasus tersebut telah dilakukan mediasi antara PGRI dengan DI yang difasilitasi oleh pihaknya.

“Alhamdulillah ada itikad baik dari saudara DI yang memohon maaf atas cuitan status Face book nya yang dirasa telah menghina profesi mulia guru, dan saudara DI datang memenuhi undangan kami untuk melakukan mediasi dengan PGRI Kabupaten Garut,” ungkap Anton.

Sementara DI sendiri mengaku menyesal atas perbuatannya yang serampangan menghina profesi guru. Ia berkilah, sama sekali tak ada niatan menghina profesi guru, ia mengaku hanya menumpahkan kekesalannya akan situasi saat ini.

“Saya memohon maaf kepada seluruh guru yang ada di Indonesia umumnya, khusunya yang berada di Kabupaten Garut, karena kebodohan dan ketelodaran saya sehingga telah menyakiti perasaan mereka, sekali lagi mohon dimaafkan atas semua kesalahan saya,” katanya.

Seperi diketahui, sebelumnya sebuah unggahan dengan kata-kata kasar dari akun facebook Dede Iskandar memicu  emosi para guru di Kabupaten Garut. Unggahan itu menyebut jika guru menerima gaji buta selama pandemi Covid-19.

Dede juga menyebut seharusnya guru tak diberi gaji karena sekolah diliburkan selama pandemi Covid-19

Nagara ngagajih buta ieu mah hayoh we sakola di liburkeun, kudunamah guru nage ulah digajih meh karasaeun sarua kalaparan (negara kasih gaji buta, terus saja sekolah diliburkan, harusnya guru juga jangan di gaji supaya ikut merasakan kelaparan),” tulis Dede dalam unggahannya.

Akun Dede Iskandar kini sudah tak bisa ditemukan. Namun tangkapan layar status Dede Iskandar sudah menyebar di kalangan guru sejak pekan lalu.

Asep Sopian, guru SMP di Garut mengaku tak terima dengan unggahan Dede. Ia menyebut jika unggahan Dede itu tak berdasar.

“Padahal kami ini masih memberi pelajaran secara daring ke anak-anak. Kata siapa gaji buta, dia tidak merasakan sulitnya bikin mater daring,” kata Asep ditemui di Gedung PGRI Garut, Jalan Pasundan, Selasa (28/7/2020).

Para guru, lanjutnya, semakin sakit hati dengan komentar Dede Iskandar di kolom komentar. Bahkan ada komentar Dede yang menyebut lebih baik menjadi penjahat ketimbang sekolah.

“Kalau dia minta maaf pasti kami sampaikan. Tapi permintaan maaf tak akan menghentikan proses hukum. Kami akan tetap melaporkan soal unggahannya itu sebagai efek jera,” tandasnya.(*)

Reporter : Tim GE

Editor     : ER


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here