Otto Iskandar Dinata dan Tubuhnya yang Tak Pernah Ditemukan

Garutexpress.id – 20 Desember 1952 Bandung tidak sedang berbunga seperti biasanya, hingga datang sebuah peti kematian tanpa isi. Seorang laki-laki terkemuka asal Lembang, Raden Otto Iskandar Dinata meninggal dunia.

Jasadnya tidak ditemukan hingga hari ini, peti kematian itu hanya diisi dengan pasir dan air laut. Penyebab dan kronologi kematiannya pun masih dalam teka-teki.

Laki-laki berjulukan si Jalak Harupat itu mempunyai banyak peran penting dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia, namun takdir berkata lain peran pentingnya itu tidak semulus langit biru kota Bandung yang indah. Kematian misterius telah menjemputnya.

Si Jalak Harupat itu lahir 31 Maret 1897, ia lahir dengan darah bangsawan Sunda, Nataamadja. Ia menempuh pendidikan dasarnya di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Bandung, kemudian melanjutkan di Kweekschool Onderbouw (Sekolah Guru Bagian Pertama) Bandung, serta di Hogere Kweekschool (Sekolah Guru Atas) di Purworejo, Jawa Tengah.

Setelah pendidikannya berhasil dirampungkan, Otto menjadi guru HIS di Banjarnegara, Jawa Tengah kemudian tahun 1920 ia hijrah ke tanah kelahirannya, Bandung. Menjadi pengajar di HIS dan perkumpulan Perguruan Rakyat.

Kini orang mengenal Otto Iskandar Dinata dari sekelumit kisahnya melalui buku-buku sejarah. Perannya sebelum kemerdekaan menjadikannya laki-laki yang ulet dan pandai, ia pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Budi Utomo cabang Bandung.

Selain aktif di dunia pendidikan, ia juga bergelut di organisasi budaya Sunda yakni, Paguyuban Pasundan dengan menjabat sebagai ketua pada periode tahun 1929 hingga 1942.

Otto juga menjadi anggota Volksraad semacam Dewan Rakyat atau DPR yang dibentuk pada masa Hindia Belanda, ia menjadi anggota parlemen selama tiga periode, yakni 1931-1934, 1935-1938, dan 1939-1942.

Selanjutnya, ia kemudian menjadi anggota BPUPKI dan PPKI yang dibentuk oleh pemerintah pendudukan Jepang sebagai lembaga-lembaga yang membantu persiapan kemerdekaan Indonesia.

Pasca Kemerdekaan

Pasca proklamasi kemerdekaan, Otto dipercaya dengan menjabat sebagai Menteri Negara pada kabinet yang pertama Republik Indonesia tahun 1945. Tugasnya mempersiapkan terbentuknya Badan Keamanan Rakyat (BKR) dengan tujuan menyatukan laskar-laskar perjuangan seluruh Indonesia.
Perannya itu cukup sulit bagi Otto, pasalnya saat itu melibatkan sejumlah pihak dari latar belakang militer yang berbeda, yakni Heiho bentukan Jepang, serta bekas prajurit KNIL bentukan Belanda dan mantan anggota Pembela Tanah Air (PETA).

Otto diperkirakan telah menimbulkan ketidakpuasan pada salah satu laskar tersebut. Ia menjadi korban penculikan sekelompok orang yang bernama Laskar Hitam, hingga akhirnya ia hilang dan diperkirakan dibunuh di daerah pesisir pantau Mauk.

Hilang untuk Selamanya

Banyak pihak yang tidak setuju dengan program penyatuan mantan pejuang itu, mereka yang tidak setuju membuat sendiri laskar-laskar.

Banyak versi yang menyebut Otto diculik tanggal 19 Desember 1945 oleh salah satu laskar di Tangerang, kemudian dibawa kesuatu tempat di Pantai Mauk.

Versi lain dalam buku Oto Iskandar di Nata : The Untold Stories karya Iip D Yahya mengatakan Laskar Hitam yang menculik Otto termakan isu yang disebarkan agen-agen NICA bahwa Otto adalah mata-mata Belanda.

Maksud NICA menyebarkan isu itu untuk menghilangkan orang-orang yang dianggap menghalangi upaya rekolonisasi Belanda.

Otto juga dituduh telah menjual Bandung dengan uang senilai satu juta gulden yang didapat dari perwira Jepang, Ichiki Tatsuo. Menurut Iip, boleh jadi ada tokoh lain yang memerintahkan Laskar Hitam menghabisi Otto.

Hingga hari ini misteri kematian Otto Iskandar Dinata tidak pernah terjawab, jenazahnya pun belum ditemukan. Hingga akhirnya pemerintah menetapkan tanggal 20 Desember 1945 sebegai hari kematian Otto Iskandar Dinata.

Otto Iskandar Dinata diangkat sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 088/TK/Tahun 1973, tanggal 6 November 1973. Sebuah monumen perjuangan Bandung Utara di Lembang, Bandung bernama “Monumen Pasir Pahlawan” didirikan untuk mengabadikan perjuangannya.

Nama Otto Iskandar Dinata juga diabadikan sebagai nama jalan di beberapa kota di Indonesia, namanya juga diabadikan sebagai nama salah satu stadion kebanggaan Persib Bandung dan warga Jabar. Stadion Si Jalak Harupat yang berlokasi di desa Kopo dan Cibodas, Soreang, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung.

Tetapi saya percaya, bahwa Indonesia yang sekarang dijajah pasti akan merdeka. Bangsa Belanda terkenal sebagai bangsa yang berkepala dingin hendaknya tuan-tuan bangsa Belanda memilih diantara dua kemungkinan: menarik diri dengan sukarela tetapi terhormat, atau tuan-tuan kami usir dengan kekerasan – Otto Iskandar Dinata 1897-1945

Penulis : Sidqi Al Ghifari
Editor : SID


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here