Mengenang Sang Maestro, H. Usep Romli HM Lepas Seragam PNS Pilih Jadi Jurnalis

garutexpress.id- Kabar duka dari Limbangan Garut seolah mengingat kembali karya-karya monumental sekaligus prestisius yang pernah digoreskan H. Usep Romli H.M.

H. Usep Romli dikenal sebagai sastrawan Sunda terkemuka yang lahir di Limbangan, Garut, Jawa Barat pada 16 April 1949 silam. Dia dikenal sebagai penulis buku anak-anak dalam bahasa Indonesia dan Sunda. Sejumlah artikel dan tulisannya pun bertebaran di sejumlah media cetak mainstream ketika itu.

Diketahui, H. Usep lulus dari Sekolah Pendidikan Guru (SPG) pada 1966 dan menjadi guru SD di Kadungora, Garut. Dia juga menjadi koresponden untuk mingguan Fusi (1972), Giwangkara (1972-76), Harian Pelita (1977-1979), Harian Sipatahunan (1979-1980).

Ada kisah menarik dalam perjalanan karirnya sebagai jurnalis. Ketika hendak dipindahkan menjadi pegawai di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan di Bandung, dia malah memilih untuk melepas seragam pegawai negeri sipil (PNS) nya dan mendedikasikan hidupnya sebagai wartawan di Harian Umum Pikiran Rakyat sampai pensiun.

H. Usep sudah mulai menulis, terutama dalam bahasa Sunda, sejak masih duduk di Sekolah Pendidikan Guru. Banyak sajak dan cerita pendek (cerpen) nya yang dimuat di beberapa media cetak berbahsa Sunda, di antaranya majalah Kalawarta, Kudjang, Mangle, Hanjuang, Giwangkara, dan Galura. Kegemarannya ini dia teruskan ketika menjadi guru dan wartawan.

Sebagai wartawan ia pernah ditugaskan ke Afghanistan untuk membuat laporan/ liputan tentang perlawanan kaum Mujahidin-Taliban melawan pendudukan Uni Soviet, saat itu. Kemudian H.Usep juga pernah dikirim untuk mereportase konflik d jazirah Arab, mulai dari perang teluk- Iran-Iraq, Palestina hingga meliput ke daerah konflik mengerikan di negeri Balkan, Bosnia Herzegovina-Serbia.

Kemampuannya berbahasa Arab yang dipelajarinya di pesantren, membantunya dalam tugas-tugas jurnalistik tersebut.

Sejak masih sekolah di SPG, Usep menulis sajak dan cerita pendek dalam bahasa Sunda, dimuat dalam berbagai media. Banyak yang telah dibukukan.

Ia pun banyak menulis buku bacaan Anak-kanak, baik dalam bahasa Sunda maupun bahasa Indonesia.

Berikut sejumlah karya sastra dan buku anak-anak (dalam bahasa Sunda dan bahasa Indonesia) yang menghiasi khasanah literasi di Jawa Barat dan Indonesia :

Si Ujang Anak Peladang (1973)
Pahlawan-pahlawan Hutan Jati (1974)
Nyi Kalimar Bulan (1982)
Oray Bedul Macok Mang Konod (1983)
Bongbolongan Nasrudin (1983)
Aki Dipa (1983)
Pertaruhan Domba dan Kelinci (1984)
Dongeng-dongeng Araheng (1993)

Kumpulan Sajak

Sebelas Tahun (1979)
Nu Lunta Jauh (1992)
Kumpulan Cerita Pendek
Ceurik Santri (1985)
Nganteurkeun (1986)
Jiad Ajengan (1991)
Sanggeus Umur Tunggang Gunung (2009)
Sapeuting di Cipawening (2010)

Novel

Bentang Pasantren (1983)

Buku Non Fiksi 

“Percikan Hikmah” anekdote Sufistik (1999)
“Zionis Israel di Balik Serangan AS ke Irak” (2003)

Penghargaan

Hadiah Sastra Mangle (1977)
Hadiah Sastra LBSS (Lembaga Basa jeung Sastra Sunda) 1995, untuk puisi.
Hadiah Sastra LBSS 2001, untuk essey
Hadiah Sastra LBSS, 2004, untuk essey
Hadiah Sastra LBSS, 2007, untuk cerpen
[Hadiah Sastra Rancage] (2010) untuk “Sanggeus Umur Tunggang Gunung”
Hadiah Sastra Rancage (2011) untuk jasanya kepada dunia sastra Sunda
Anugerah Budaya Pemprov.Jabar kategori Seni Sastra (2012).

Sejumlah data di atas baru beberapa saja dari karya H.Usep Romli HM yang tercatat di Wikipedia. Sejumlah karya sastra, artikel, serta tulisan yang kental dengan dakwah Islam sempat mewarnai sejumlah media online dan media cetak hingga akhir hayatnya.

Kecintaannya pada dunia jurnalistik menjadi pemicu produktivitas menulis H. Usep Romli hingga menjelang akhir hayatnya. Mulai dari generasi jadul hingga generasi milenial penikmat kejurnalistikan bisa dipastikan pernah menikmati karya karya Almarhum.

Kini, Sang maestro telah mendahului kita menghadap Illai Rabbi. Beberapa hari sebelum tutup usia, H. Usep Romli HM sempat menyampaikan pesan kepada beberapa juniornya. Termasuk kepada penulis.

Menurut Cecep Koswara, salah seorang wartawan senior di tabloid Sunda Galura (Grup Pikiran Rakyat), almarhum adalah sosok jurnalis sejati yang tak tergantikan.

Sebelum berpulang ke hadirat Sang Khalik, menurut Cecep, almarhum sempat memesan tanaman herbal untuk penawar rasa sakitnya.

“Almarhum (H. Usep Romli HM) bukan sekedar senior saya. Ia adalah guru jurnalistik saya. Tentunya saya sangat kehilangan. Beberapa hari sebelum meninggal dunia, beliau sempat pesan dicarikan Daun Afrika, obat herbal untuk penawar sakitnya. Sulit rasanya mencari pengganti seorang jurnalis sejati seperti almarhum. Saya hanya bisa berdoa untuk beliau, semoga khusnul khatimah,” tutur Cecep, seraya menahan tangisnya.

Pesan almarhum H.usep Romli juga sempat disampaikan ke redaksi garutexpress, hanya beberapa hari sebelum meninggalkan dunia fana ini.

Pada hari Sabtu (4/7/2020) almarhum (H.usep Romli HM) sempat mengirim pesan via whatsapp, ia menanyakan, kapan koran garut ekxpress terbit kembali. Bahkan ia menitipkan sebuah tulisan (artikel) berjudul “Sebungkus Makanan untuk Orang Lapar,” alamrhum juga menuliskan petikan tulisan karya terahirnya itu :

“Sebagai manusia, memang ia tidak luput dari kekhilafan. Al insanu ma’alul khatha’. Tujuh hari sudah ia melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai ibadahnya selama 70 tahun tersebut.”

Selamat jalan Sang Maesrto… Insha Allah Husnul Khatimah. (*)

Reporter : Kang Encép


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here