Kelelahan Akibat Work From Home Bisa Menyebabkan Burnout Syndrome?

Alfi Fathiyyaturrizqi Aila (Mahasiswi Psikologi UIN SGD Bandung)

Oleh: Alfi Fathiyyaturrizqi Aila (Mahasiswi Psikologi UIN SGD Bandung)

Work From Home atau bekerja dari rumah telah disarankan pemerintah untuk mengurangi penyebaran Covid-19 yang telah menyebar sejak akhir 2019 kemarin. Virus ini menyebabkan banyak orang tidak bisa bekerja dan belajar seperti biasanya. Terlebih dokter dan pekerjaan lainnya yang merupakan garda terdepan bagi penanganan pasien Covid-19 tentunya juga pernah merasakan lelah karena mendapat pasien yang begitu banyak.

Bagaimana dengan pelajar dan mahasiswa? Sepertinya tidak jauh beda, mereka juga mengalami hal seperti itu. Seperti yang telah dilakukan oleh mahasiswa UIN SGD Bandung, mereka melakukan penelitian terhadap 265 subjek mahasiswa, dan hasilnya adalah jenis hambatan yang dialami responden selama perkuliahan daring adalah tugas yang menumpuk sebesar 30,6%, hambatan tersebut memengaruhi kondisi psikis responden, karena sebanyak 24% responden menyatakan bahwa hambatan tersebut sangat memengaruhi kondisi psikis mereka.

Dengan keadaan mereka yang selalu diam di rumah dan hanya melakukan kegiatan rumah juga ditambah pekerjaan dan tugas yang menumpuk membuat kondisi mereka tidak sehat. Terlebih mahasiswa belum memiliki konsep yang baik mengenai belajar dari rumah ini, seharusnya mereka telah membuat kebiasaan baru dengan kondisi ini.

Burnout adalah perilaku menarik diri dari pekerjaan yang seharusnya diselesaikan, mengalami kelelahan emosional, kelelahan fisik dan mental.

Faktor penyebab Burnout Syndrome

Faktor yang menyebabkan Burnout Syndrome biasanya terjadi pada individu yang professional terhadap pekerjaannya, karena jika pekerjaan mereka tidak baik tidak sempurna, mereka akan merasakan cemas yang hebat, merasa ada yang kurang, yang perlu diperbaiki. Faktor kedua adalah lingkungan, apakah lingkungan rumah individu tersebut aman, hubungan dengan keluarganya apakah baik atau tidak, itu juga memengaruhi. Faktor ketiga, adalah keadaan emossional. Jika individu tidak bisa mengontrol emossionalnya dalam masa pandemi ini, itu bisa menyebabkan burnout, karena emosi juga memengaruhi keadaan psikis seseorang. Maka sebaiknya bersabar, dan jangan terlalu meluap-luapkan emosi.

Tahap tahap Burnout

Di masa awal biasanya seseorang akan mengalami keadaan semangat luar biasa terhadap suatu pekerjaan, memiliki pemahaman yang baik, waktu yang tepat untuk melakukan pekerjaannya, bersikap positif dan energi yang luar biasa. Setelah itu, mereka akan mulai mengalami lelah, stress, keadaan tidak semangat, menurunnya motivasi dan jika dibiarkan maka hal ini akan terus berlanjut hingga mereka mulai menarik diri, berpandangan negatif, mengalami stress ekstream, depresi, dan marah. Dan pada tahap akhir, mereka sudah kehilangan minat melakukan pekerjaannya, bolos menjadi sebuah kebiasaan, sinisme tingkat tinggi, emosi emosi negatif keluar, dan tidak mampu lagi berinteraksi dengan orang lain.

Seperti yang dilansir di alodokter.com

Menurut Arrundina Puspita Dewi M.Psi, bahwa ada empat ciri seseorang terkena Burnout

  1. Lelah sepanjang waktu

Menurut Arrundina, burnout ditandai dengan fisik yang terus menerus merasa lelah seperti kehabisan tenaga sepanjang waktu meskipun aktivitas tidak sebanyak dari biasanya.

  1. Flu ringan, sakit perut, dan sariawan

Burnout mengakibatkan kekebalan tubuh menurun akibat stres berkepanjangan. Hal ini biasanya menimbulkan adanya keluhan fisik seperti flu ringan, sakit perut, dan sariawan.

  1. Selalu merasa gagal

Timbulnya perasaan merasa gagal dan ragu dengan kemampuan yang dimiliki. Hal ini ditandai dengan perasaan merasa tidak berdaya, merasa terjebak, kesepian bahkan hingga kehilangan motivasi.

4.Menghindari pekerjaan

Seperti menunda waktu penyelesaian tugas, terlambat ikut meeting online, atau perilaku lainnya yang terlihat menghindar dari tanggung jawab pekerjaan

(Menurut Arrundina Puspita Dewi, MPsi,).

Namun jika anda merasakan keadaan-keadaan yang telah disebutkan diatas, segera konsultasikan dengan psikolog, dan jangan langsung mudah men cap diri sebagai seseorang yang memiliki Burnout Syndrome, sebelum psikolog atau dokter yang memberi tahu keadaan anda.

Lalu bagaimana cara mengatasinya?

Setelah melihat Penelitian yang dilakukan oleh Hayati, Widyana, & Sholichah, 2015. Bahwa ternyata pemberian Stimulasi Humor dapat menurunkan Burnout syndrome yang terjadi pada seseorang. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hayati, dkk. (Hayati, Widyana, & Sholichah, 2015) Dari hasil tritment hanya terjadi SHS berpengaruh ke penurunan MBI sebesar 68%, sisanya masih ada faktor lain yang berpengaruh pada burnout study.

Stimulasi Humor bisa dengan menonton film, membaca novel, menonton acara komedi atau media hiburan lainnya yang menurut anda bisa mengeluarkan respon tertawa dan ekspresi bahagia. Hal tersebut akan mengaktifkan sistem kerja saraf parasimpatetis dengan membiasakan kondisi tubuh agar tetap dalam kondisi nyaman dan rileks. Tertawa dapat membuat kondisi seseorang menjadi normal kembali setelah dalam kondisi stress dan lelah.

Maka, jangan lupa tertawa hari ini, dan ciptakan suasana bahagia agar terhindar dari berbagai penyakit.

 

 


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here