Hingga Mei 2020 Ratusan Warga Garut Tercatat Terinfeksi HIV/AIDS

garutexpress.id- Di tengah pandemi Covid-19 yang belum jelas kapan berakhir, warga di Kabupaten Garut yang terinfeksi HIV/AIDS diam-diam terus bertambah.

Hingga Mei 2020, total warga Kabupaten Garut terinfeksi HIV/AIDS mencapai sebanyak 755 orang dengan 181 kasus kematian.

Mereka terinfeksi HIV/AIDS itu terdiri atas 324 kasus HIV dan 431 kasus AIDS tersebar di 39 dari 42 kecamatan yang ada di Kabupaten Garut.

Terdapat penambahan sebanyak 60 kasus HIV/AIDS dalam rentang tujuh bulan dari semula sebanyak 695 kasus pada Oktober 2019 dengan sebaran di 38 kecamatan.

Dari sebanyak 755 orang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA) itu, sebanyak 181 orang di antaranya meninggal.

Tren peningkatan temuan kasus penularan HIV/AIDS di Garut juga mengalami pergeseran dari semula didominasi populasi kunci/faktor resiko tinggi (resti) kalangan pengguna narkoba dan zat adiktif suntik (penasun) atau IDUs (injecting drug users) ke kalangan pelaku Seks Laki Seks (LSL).

Hingga Mei 2020, jumlah kasus HIV/AIDS pada kalangan LSL mencapai sebanyak 210 kasus terdiri atas 78 AIDS dan 132 HIV. Sedangkan penularan pada kalangan penasun mencapai sebanyak 188 kasus terdiri atas 135 AIDS dan 53 HIV.

Padahal pada Oktober 2019, temuan kasus HIV/AIDS pada kalangan LSL mencapai sebanyak 171 kasus, di bawah dominasi pada kalangan penasun sebanyak 188 kasus terdiri 135 AIDS dan 53 HIV.

Bertambahnya kasus HIV/AIDS dengan sebaran mencapai hampir seluruh wilayah kecamatan di Kabupaten Garut membuat dukungan semua pihak untuk penanggulangan dan pencegahan HIV/AIDS di Garut semakin mendesak.

Hal itu mengemuka pada kegiatan “Stake Holder Meeting Program NFMc GF ATM AIDS Dukungan Program Indonesia HIV Response: Eliminating the AIDS Epidemic in Indonesia by 2030” digelar Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Kabupaten Garut belum lama ini.

Menurut Ketua PKBI Cabang Kabupaten Garut Ahmad Sartono, hasil evaluasi PKBI menunjukkan kasus HIV/AIDS di Garut semakin bertambah. Sehingga diperlukan dukungan penanggulangan serta pencegahan dari instansi pemerintah maupun pihak lain.

“Jika tak diantisipasi, bisa menjadi penyakit bersama. Garut bisa terbebas penularan HIV/AIDS dengan itikad yang sama menanggulanginya,” tegasnya.

Direktur Eksekutif PKBI Kabupaten Garut Denden Supresiana, menambahkan, selain faktor LSL, dan Penasun, penyebaran HIV/AIDS di Garut juga terjadi karena faktor resiko pasangan resiko tinggi (resti) perempuan mencapai sebanyak 164 kasus terdiri 96 AIDS dan 68 HIV, faktor pasangan resti laki-laki mencapai sebanyak 34 kasus terdiri 18 AIDS dan 16 HIV, waria sebanyak 24 kasus terdiri 15 AIDS dan 9 HIV, wanita pekerja seks dua kasus AIDS, perinatal/anak sebanyak 16 kasus terdiri 11 AIDS dan 5 HIV, serta tak terindentifikasi lima kasus AIDS.

Berdasarkan golongan usia, mereka terinfeksi HIV/AIDS di Garut berusia berkisar satu hingga 59 tahun dengan didominasi kelompok usia produktif antara 25 hingga 39 tahun mencapai sebanyak 567 kasus, terdiri atas 322 AIDS dan 245 HIV.

Sedangkan dilihat dari jenis kelamin, mereka terinfeksi HIV/AIDS tersebut didominasi laki-laki mencapai sebanyak 509 orang terdiri 285 AIDS dan 224 HIV. Sedangkan ODHA perempuan mencapai sebanyak 246 orang, terdiri 146 AIDS dan 100 HIV.

Wilayah sebaran temuan kasus HIV/AIDS di Garut juga bertambah menjadi di sebanyak 39 kecamatan dari sebelumnya pada Oktober 2918 di 38 kecamatan dari 42 kecamatan.

Kasus HIV/AIDS terbanyak tetap didominasi Kecamatan Garut Kota mencapai 223 kasus terdiri 147 AIDS dan 76 HIV, disusul Kecamatan Tarogong Kidul sebanyak 103 kasus terdiri 31 AIDS dan 21 HIV, dan Kecamatan Tarogong Kaler sebanyak 31 AIDS dan 21 HIV.

Dari total sebanyak 755 kasus HIV/AIDS di Garut itu, sebanyak 181 ODHA di antaranya meninggal dunia. Selebihnya sebanyak 460 sudah menjalani terapi ARV.

Denden juga menyebutkan, estimasi Kemenkes pada 2015, kasus ODHA di Garut sendiri mencapai sebanyak 978 kasus. (*)

Reporter : Nul
Editor : ER


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here