Hari ini Garut Jadi Trending Twitter, Ternyata ini Penyebabnya

Garutexpress.id – Kata “Garut” mendadak trending di jagad media sosial twitter. Pemicunya cuaca dingin di Kabupaten Garut, Jawa Barat yang terjadi beberapa pekan ini.

Salah satu akun twitter, @mksdlu menuliskan Orang garut dan sekitarnya, ari kalian lebaran mandi teu? Seraya menambahkan foto kondisi cuaca di Garut.

Akun lainnya, @nazwa_adhari menuliskan, ada apa nih garut trending, btww gw tinggal di garut selatan dingin bangettttt udah kek dia aja.

Sampai berita ini diturunkan, sudah ada 1.363 netizen yang menulis hastag Garut. Tagar ini terus bertambah seiring banyaknya warga Garut yang turut meramaikan jagad media sosial twitter.

Diberitakan sebelumnya, sepekan belakangan ini cuaca dingin di Kabupaten Garut dirasakan warga setempat. Mereka mengeluhkan rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang.

“Ia benar satu pekan belakangan ini, kota Garut makin dingin. Saya tadi pake motor dinginnya menusuk hingga ke tulang,” kata Aep, warga Tarogong kepada “GE”, Minggu (26/7/2020).

Cuaca dingin cukup ekstrim dirasakan di kawasan Cikajang. Warga yang ditemui “GE” saat pemutaran film merasakan dingin yang begitu hebat.

Bahkan berdasarkan pantauan, warga yang hadir dalam pemutaran filem itu sampai mengeluarkan asap dari mulutnya akibat dinginnya cuaca di sekitar.

“Di sini memang selalu dingin namun satu pekan belakangan ini dirasakan lebih ekstrim,” ujar Ai (32), saat ditemui di lokasi pemutaran film di Lapang Desa Mekarsari, Cikajang, Garut, Jawa Barat.

Berdasarkan pantauan “GE” dari pantauan cuaca google di malam hari cuaca di Kota Garut sampai 17° sementara di Kecamatan Cikajang tembus hingga 14°.

Dilansir dari Kompas.com, prakirawan cuaca BMKG, Nanda Alfuadi menyebut bahwa udara dingin yang terjadi di malam menjelang pagi hari, ada dua hal yang mempengaruhi.

Dua hal tersebut yakni kandungan uap air di atmosfer dan kecepatan angin.

“Kandungan uap air di atmosfer yang cukup rendah di wilayah Indonesia bagian selatan dalam beberapa pekan ini menyebabkan radiasi gelombang panjang dari Bumi, yang dapat menghangatkan atmosfer Bumi lapisan bawah, terlepas ke angkasa,” kata Nanda.

Sehingga, energi yang digunakan untuk menghangatkan atmosfer di lapisan bawah akan lebih kecil dibandingkan ketika kandungan uap air di atmosfer relatif cukup banyak.

Hal ini secara kasat mata, lanjut Nanda, juga terlihat dari berkurangnya tutupan awan dalam beberapa pekan ini dibandingkan dengan bulan lalu.

“Kondisi atmosfer yang cukup kering tersebut diperkuat dengan kecepatan angin dari selatan Indonesia yang cukup kuat sehingga seolah udara di Indonesia bagian selatan terasa semakin dingin,” terang Nanda.

Meski demikian, katanya, saat ini belum merupakan puncak kemarau sehingga kondisi ini bukan merupakan kondisi yang paling signifikan.

“Diprakirakan pada Agustus dan awal September nanti kondisi dingin akan semakin terasa di wilayah Jawa, Bali, NTB, dan NTT,” jelas Nanda. (*)

Reporter: Mahesa


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here