Empat Bulan Tak Terima Gaji, Ratusan Karyawan PT Condong Pertanyakan Nasibnya

?????????????????????????????????????????????????????????

garutexpress.id- Ratusan pekerja perkebunan milik PT Condong yang mengaku sudah empat bulan terakhir tak mendapatkan gaji. Tak hanya itu, mereka juga mempertanyakan keberadan uang koperasi serta uang pensiun yang sudah puluhan tahun mereka tabungkan akan tetapi higga kini tidak ada kejelasan.

“Sudah empat bulan terakhir ini kami tak lagi mendapatkan hak kami berupa gaji dari PT Condong. Di sisi lain, tenaga kami hingga saat ini masih terus digunakan,” ujar perwakilan karyawan PT Condong, Dayat (55) saat datang ke kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Garut, Senin (13/7/2020).

Dayat yang saat itu datang bersama perwakilan karyawa lainnya, Kuraesin (50), menyebutkan, mereka tak menerima gaji dari perusahaan tempat mereka bekerja sejak bulan Februari. Pada bulan Mei, pihak perusahaan sempat membayarkan gaji bulan itu tapi itu pun hanya baru 15 persennya saja.

Dikatakannya, mereka bekerja sebagai buruh petik di perkebunan karet dan sawit yang disebu-sebut milik keluarda cendana tersebut. Per bulannya, rata-rata mereka dibayar Rp 1.100.000 oleh pihak perusahaan. Namun terhitung sejak Februari lalu, mereka tak lagi mendapatkan gaji mereka.

Menurut Dayat, perkebunan PT Condong terbentang luas di wilayah Kecamatan Cikelet dan Pakenjeng. Pada awalnya, perkebunan ini memiliki karyawan hingga 1.400 orang akan tetapi kini hanya tinggal sekitar 800 orang yang tersisa. Semua karyawannya, sudah empat bulan terakhir ini tak lagi mendapatkan haknya berupa gaji.

Para karyawan, tutur Dayat, telah berupaya mempertanyakan hal itu kepada pihak perusahaan akan tetapi sellau tak mendapatkan jawaban. Hingga akhirnya, para karyawan mengetahui jika saat ini ternyata sudah terjadi penggantian jajaran pengurus di perusahaan mulai dari direktur hingga jabatan lainnya.

“Waktu masih kepengurusan atau direktur yang dulu, kami selalu mendapatkan jawaban terkait apa yang selama ini kami pertanyakan kepeda pihak perusahaan. Namun entah kenpa, sejak terjadi kepengurusan yang baru, seolah semuanya menjadi sangat tertutup dan kami pun tak pernah mendapatkan kejelasan terkait hak-hak kami,” kata Dayat.

Dikatakannya, beberapa waktu lalu para karyawan sempat berupaya untuk mempertanyakan kembali terkait gaji mereka kepada pihak perusahaan. Namun saat itu karyawan bukannya mendapatkan jawaban yang diharapkan akan tetapi malah mendapatkan tekanan dari aparat keamanan sehingga mereka pun menjadi ketakutan.

Selain itu, Dayat juga mengungkapkan dia dan sejumlah perwakilan karyawan juga sempat melaporkan hal ini ke pihak Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Garut. Hal ini bahkan sempat ditindaklanjuti oleh Disnaker dengan mempertemukan antara perwakilan karyawan dengan pihak personalia perusahaan akan tetapi kembali menemui jalan buntu.

Ketika pihaknya kembali mempertanyakan kepeda pihak Disnaker, disebutkan Dayat, pihak Disnaker hanya menyarankan agar pihak karyawan menemui langsung pihak perusahaan. Saran dari pihak Disnaker itu pun kemudian dilaksanakan oleh perwakilan karyawan, akan tetapi lagi-lagi mereka tak mendapatkan kejelasan dari pihak perusahaan.

Uang Koperasi dan Pensiun

Perwakilan karyawan lainnya, Kuraesin, menambahkan jika hak para karyawan yang tak diberikan oleh pihak perusahaan bukan hanya gaji selama empat bulan. Uang simpanan koperasi para karyawan selama puluhan tahun pun hingga saat ini juga tak ada kejelasan keberadaannya.

Sejak awal menjadi karyawan PT Condong, ucap Kuraesin, semua karyawan sudah diwajibkan untuk masuk koperasi dengan membayar simpanan awal sebesar Rp 350 ribu. Selain itu, tiap bulannya, gaji karyawan juga langsung dipotong mulai dari Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu per bulannya.

“Kami bekerja menjadi karyawan PT Condong itu sudah puluhan tahun dan saya sendiri sudah sejak sekitar tahun 1998. Besar potongan untuk uang koperasi tiap bulannya memang hanya Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu, tapi kalau dikalkulasikan selama puluhan tahun dan juga banyaknya jumlah karyawan, berapa uang kami yang keberadaannya saat ini juga tak jelas?,” kata Kuraesin.

Selain uang koperasi, tambahnya, ada juga uang pensiun yang juga saat ini keberadaannya juga tak jelas. Uang pensiun itu dulunya adalah uang untuk BPJS karyawan yang dipotong langsung dari gaji tiap bulannya sebesar Rp 20 ribu.

Disampaikan Kuraesin, sejak program BPJS dihapus oleh pemerintah, maka pihak perusahaan mengganti nama uang itu menjadi uang pensiun yang katanya bisa diambil ketika karyawan sudah keluar dari perusahaan. Namun, ketika sudah ada banyak karyawan yang keluar dan mau mengambil uang pensiun itu, pihak perusahaan pun tak bisa memberikannya dengan alasan uangnya tidak ada sehingga membuat para karyawan lebih kaget sekaligus kesal.

Diakui Kuraesin, sejumlah perwakilan karyawan sempat berupaya mendesak pihak perusahaan untuk menjelaskan keberadaan uang koperasi dan uang pensiun milik karyawan. Saat itu, pihak perusahan malah menjawab jika uangnya sudah tak ada karena dipinjam pihak perusahaan sebesar Rp 2 miliar lebih.

“Kami tentu saja tak terima dengan alasan yang diberikan pihak perusahaan karena kami benar-benar sangat membutuhkan uang kopersi dan uang pensiun itu untuk bekal kami. Sudah berpuluh-puluh tahun gaji kami relakan untuk dipotong pihak perusahaan karena kami ingin punya tabungan untuk bekal setelah pensiun. Eh sekarang uangnya malah raib entah ke mana?,” ucap Kuraesin sambil menegaskan akan terus berupaya mendesak pihak perusahaan untuk membayarkan uang yang sudah mejadi hak para karyawan.

Hingga berita ini dtulis, belum ada tanggapan dari pihak PT Condong. Sejumlah jajaran pengurus perkebunan yang dicoba dihubungi, belum ada yang merespon. (*)

Reporter : Ahen

Editor     : ER


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here