Cuaca Dingin di Garut Mencapai 17° – 14° Ternyata ini Penyebabnya menurut BMKG

Garutexpress.id – Sepekan belakangan ini cuaca dingin di Kabupaten Garut dirasakan warga setempat. Mereka mengeluhkan rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang.

“Ia benar satu pekan belakangan ini, kota Garut makin dingin. Saya tadi pake motor dinginnya menusuk hingga ke tulang,” kata Aep, warga Tarogong kepada “GE”, Minggu (26/7/2020).

Cuaca dingin cukup ekstrim dirasakan di kawasan Cikajang. Warga yang ditemui “GE” saat pemutaran film merasakan dingin yang begitu hebat.

Bahkan berdasarkan pantauan, warga yang hadir dalam pemutaran filem itu sampai mengeluarkan asap dari mulutnya akibat dinginnya cuaca di sekitar.

“Di sini memang selalu dingin namun satu pekan belakangan ini dirasakan lebih ekstrim,” ujar Ai (32), saat ditemui di lokasi pemutaran film di Lapang Desa Mekarsari, Cikajang, Garut, Jawa Barat.

Berdasarkan pantauan “GE” dari pantauan cuaca google di malam hari cuaca di Kota Garut sampai 17° sementara di Kecamatan Cikajang tembus hingga 14°.

Dilansir dari Kompas.com, prakirawan cuaca BMKG, Nanda Alfuadi menyebut bahwa udara dingin yang terjadi di malam menjelang pagi hari, ada dua hal yang mempengaruhi.

Dua hal tersebut yakni kandungan uap air di atmosfer dan kecepatan angin.

“Kandungan uap air di atmosfer yang cukup rendah di wilayah Indonesia bagian selatan dalam beberapa pekan ini menyebabkan radiasi gelombang panjang dari Bumi, yang dapat menghangatkan atmosfer Bumi lapisan bawah, terlepas ke angkasa,” kata Nanda.

Sehingga, energi yang digunakan untuk menghangatkan atmosfer di lapisan bawah akan lebih kecil dibandingkan ketika kandungan uap air di atmosfer relatif cukup banyak.

Hal ini secara kasat mata, lanjut Nanda, juga terlihat dari berkurangnya tutupan awan dalam beberapa pekan ini dibandingkan dengan bulan lalu.

“Kondisi atmosfer yang cukup kering tersebut diperkuat dengan kecepatan angin dari selatan Indonesia yang cukup kuat sehingga seolah udara di Indonesia bagian selatan terasa semakin dingin,” terang Nanda.

Meski demikian, katanya, saat ini belum merupakan puncak kemarau sehingga kondisi ini bukan merupakan kondisi yang paling signifikan.

“Diprakirakan pada Agustus dan awal September nanti kondisi dingin akan semakin terasa di wilayah Jawa, Bali, NTB, dan NTT,” jelas Nanda. (*)

Reporter: Mahesa
Editor: Kharisma


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here