Cigatas : Bayang-bayang Penggusuran Ruang Hidup Sampai Kerusakan Lingkungan?

Oleh : Prima Satriya J

TOL Cileunyi-Garut-Tasikmalaya atau di singkat CIGATAS mulai memasuki tahap pembebasan lahan. Tol yang rencana nya dibangun pada tahun 2022 itu di Garut memiliki panjang 37,25 kilometer dan membutuhkan lahan sebanyak 475,63 hektare dengan jumlah 3.544 bidang tanah di tujuh kecamatan ( Kadungora, Leles, Banyuresmi, Lewigoong, Cilawu, Karangpawitan dan Garut Kota). Tol yang memakan anggaran sekitar Rp. 20 Triliyun itu rencannya akan menghubungkan Cileunyi sampai Cilacap melintasi Garut dan Tasikmalaya.

Pembangunan tol ini menjadi janji presiden Jokowi semasa kampanye pada tahun 2019 saat berada di Garut. Janji beliau nampaknya sudah benar terealisai melihat tahapan pembangunan tol Cigatas ini terus mengalami kemajuan tahap.

Sementara itu pemerintah Kabupaten Garut merespon dengan baik pembangunan tol ini, karena pembangunan tol ini dianggap dapat memajukan dan meramaikan sektor ekonomi dan pariwisata di Kabupaten Garut. Tentu dengan lintasan tol Cigatas ini orang-orang akan mudah menyinggahi Kabupaten Garut dan bisa lebih mudah memasuki objek wisata di Garut.

Kemudahan akses menjadi manfaat bagi Kabupaten Garut yang terlintasi tol Cigatas ini. Seperti waktu tempuh Garut-Bandung yang biasa nya memakan waktu 2-3 jam bahkan lebih bisa dipersingkat dengan adanya tol ini yakni sekitar 1-2 jam.

Tentu ini akan menjadi kemajuan di bidang sarana transportasi dan perhubungan juga akan memudahkan bagi pendistribusian yang mendukung pertumbuhan pada sektor perekonomian Kabupaten Garut.

Pembangunan tol ini juga berpotensi menjadikan Kabupaten Garut sebagai kawasan industri. Karena letaknya yang strategis memudahkan akses ke luar daerah. Potensi ini akan menciptakan iklim investasi yang baik bagi sektor perindustrian primer, sekunder dan tresier, seperti  peternakan, Manufaktur dan beragam pelayanan jasa. Ini juga akan berdampak positif bagi ketersediaan lapangan kerja baru yang bisa menyerap angka pengangguran yang ada di Garut.

Namun di sisi lain dari manfaat kemajuan sektor perekonomian dan pariwisata, ada dampak buruk terhadap lingkungan dan penggusuran ruang hidup. Seperti yang kita semua bayangkan pembangunan tol ini membutuhkan ribuan hektare bidang lahan yang sebagiannya adalah ruang hijau dan ruang hidup masyarakat. Bayang-bayang penggusuran ini tentu akan menjadi momok menakutkan bagi masyarakat yang terdampak. Pasalnya kampung halaman dan tanah kelahirannya terancam berubah dari hunian menjadi beton-beton hasil pembangunan.

Juga terhadap dampak lingkungan tentu pengalihan fungsi lahan terbuka hijau juga hutan akan menyebabkan turunnya pasokan udara segar yang menyebabkan makin tingginya kadar polusi udara. Belum lagi jika benar Garut akan dijadikan kawasan industri ini akan sangat berdampak buruk bagi lingkungan hidup masyarakat Garut.

Bayang-bayang penggusuran di tengah masa pandemi Covid-19 ini mungkin akan jauh lebih mengerikan bagi masyarakat yang terdampak. Karena seperti yang kita semua rasakan , hidup pada masa pandemi ini adalah ujian yang cukup berat karena kita mendapatkan kesulitan untuk beraktivitas sehari-hari dan juga mendapat kesulitan mencari mata pencaharian.

Jika dilihat dari segi manfaatnya apakah mayoritas masyarakat Garut akan merasakan manfaat tersebut. Karena pembangunan tol ini hanya akan memajukan sektor perindustrian bukan pada sektor pertanian dan sektor perdagangan yang pada umumnya dijalankan secara tradisional oleh masyarakat Garut.

Pengurangan lahan produktif sangat berpotensi bila pembangunan ini terwujud dan akan berdampak pada penurunan ketersediaan pangan di Kabupaten Garut, yang tentu akan dirasakan oleh masyarakat Garut jika sewaktu-waktu kenaikan harga pangan terjadi.

Menjelang resesi pemerintah seharusnya memperkuat sektor pertanian agar ketersediaan pangan dan stabilitas harganya tetap terjaga. Juga bayang-bayang PHK masal tentu menghantui sebagian besar masyarakat pekerja di Kabupaten Garut karena dampak dari resesi yang diprediksi akan datang.

Tentu dampak kerusakan lingkungan dan Penggusuran lahan bukanlah harga yang sebanding jika dibandingkan dengan kemajuan sektor ekonomi dan pariwisata yang hanya akan dirasakan sebagian kecil masyarakat Garut. Karena dampak kerusakan lingkungan adalah dampak kerusakan sifatnya jangka panjang terlebih lagi seperti yang kita semua ketahui bahwa iklim dunia sedang tidak baik-baik saja. Menimbang berbagai macam kerusakan lingkungan dan ancaman pencemaran lingkungan yang akan berdampak jika kawasan industri terwujud adalah ancaman yang serius bagi kita.

Banyak dari sebagian masyarakat Garut yang menolak pembangunan tol ini karena dianggap menjadi ancaman penggusuran ruang hidup mereka. Juga tentu kita semua memprediksi akan adanya monopoli pembebasan tanah yang dilakukan segelintir setan-setan tanah yang serakah. Karena pembangunan jalan tol ini akan sangat menguntungkan bagi para pemodal dan pengusaha. Ini akan mempersempit ruang hidup atau hunian masyarakat Garut . Juga dampak kesenjangan sosial yang mungkin akan makin menghawatirkan. Karena persaingan dalam berusaha akan semakin ketat.

Bayangkan saja masyarakat Garut yang pada umumnya menjalani profesi sebagai buruh, tani dan pedagang kecil. Tidak akan terlalu menikmati perubahan ini, ditambah lagi bila perindustrian mulai ditingkatkan akan banyak pabrik-pabrik baru yang memakan lebih banyak lagi lahan-lahan hijau produktif yang menjadi sumber mata pencaharian masyarakat Garut dan juga efek yang ditimbulkan industri baru adalah akan adanya produksi polusi baru, limbah baru dan pencemaran lingkungan baru.

Kita tentu saja berharap pemerintah Kabupaten Garut dapat menimbang kembali manfaat dan mudaratnya pembangunan ini. Apa yang benar-benar diperlukan masyarakat Garut itulah hendaknya yang harus diprioritaskan. Juga memperhatikan masalah dampak lingkungan yang akan terjadi. Karena itu akan menjadi ancaman serius yang kita semua akan rasakan.

Semoga saja kemajuan dalam pembangunan demi kemajuan ekonomi ini terwujud tanpa mengabaikan kepentingan lingkungan hidup. Karena masalah lingkungan hidup adalah hal yang mendasar bagi kehidupan kita semua. Dengan terjaganya lingkungan hidup akan menciptakan kualitas hidup yang sehat dan baik.

Dan juga semoga pembangunan ini tidak menjadi hantu perampas tanah yang membayang-bayangi setiap orang yang terdampak. Kompensasi yamg diberikan haruslah adil dan merata agar tidak menuai konflik dan meminimalisir penderitaan atas hilangnya lahan kampung halaman mereka yang terdampak.

Penulis adalah pegiat literasi di Komunitas Perpustakaan Jalanan Garut.***


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here