Anak-anak dan Masa Pandemi

Oleh : Prima satriyajanuarta

PADA tanggal 23 juli yang bertepatan dengan hari ini di tetapkan menjadi hari anak nasionaloleh pemerintah yang di selaraskan dengan tanggal penetapan Undang-undangKesejahteraan Anak pada tanggal 23 Juli 1979. Berbeda dengan hari anak internasional yang jatuh pada tanggal 1 juni dan sementara hari anak Universal di peringati pada tanggal 20 November.

Anak-anak adalah generasi penerus bangsa, harta yang paling berharga yang dimiliki bangsa. Anak-anak menjadi suatu golongan masyarakat yang terpenting yang harus kita rawat, didik, jaga, biming dan lain lain.  Karena Anak-anak lah yang nantinya akan menjadi cikal bakal generasi penerus bangsa dan pada tangan Anak-anak lah masa depan bangsa kita terwujud.

Seperti yang kita ketahui di masa pandemi covid-19 ini, ruang gerak hidup masyarakat sedang di batasi, peningkatan kecemasan karena terus bertambahnya infeksi corona virus jadi masalah hidup sehari-hari. Karena bayang-bayang infeksi virus corona dapat menghantui siapa saja termasuk anak-anak.

Hal ini harus menjadi perhatian kita karena menimbang kondisi mental Anak-anak yang masih rentan akan tekanan kecemasan dan ketakutan di masa pandemi. Kita harus senantiasa menjaga kegembiraan mereka walaupun harus di rumah saja.

Di masa pandemi ini juga kita tentu merasakan bagaimana sulitnya bepergian keluar dengan di haruskan nya mematuhi semua protokol kesehatan yang di anjurkan agar senantiasa terhindar dari infeksi virus corona ini.

Hal ini juga berlaku pada Anak-anak dan yang tentunya lebih harus menjadi tanggung jawab orang tua untuk membimbing nya dan menjaga nya agar tetap terlindungi dari bahaya covid-19 ini. Pada masa seperti ini tentu bukan saja kondisi fisik Anak-anak yang harus di jaga tetapi juga kesehatan mental pada anak yang harus terus di perhatikan karena jika tidak itu akan berdampak pada kesehatan mental jangka panjang Anak-anak.

Sebisa mungkin Anak-anak harus di jauhkan dari hal-hal yang bisa menimbulkan kecemasan dan ketakutan yang berlebih. Seperti hal nya berita-berita buruk yang setiap hari kita lihat di media tentang penambahan kasus infeksi covid-19 dan juga angka kematian yang bertambah sebisa mungkin harus kita jauhkan dari Anak-anak karena hal-hal seperti itu sangat berpotensi menciptakan paranoid pada anak.

Sebuah organisasi pangan dan pertanian dunia atau FAQ(Food andAgricultureOrganization) mengumumkan perihal ancaman krisis pangan dunia yang akan sangat menghawatirkan bagi kebutuhan nutrisi dan protein Anak-anak. Pemerintah Indonesia merespon pengumuman itu dengan menyusun program distribusi bantuan sosial (Bansos) yang sifatnya karitatif.

Dalam pidatonya pada tanggal 9 april lalu Jokowi mengklaim bahwa pemerintah memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat dan meningkatkan daya beli masyarakat di lapisan bawah melalui pemberian bansos berupa sembako, uang tunai dan pembebasan tarif listrik rumah tangga serta insentif bagi calon tenaga kerja melalui kartu prakerja.

Celakanya seperti yang sudah kita prediksi bansos menjadi komoditi elite-elite politik demi kepentingan elektabilitas. Seperti di daerah-daerah yang akan melaksanakan pilkada serentak bansosbisa saja di gunakan sebagai komoditi politik untuk mereka misalnya dengan menempelkansticker atau gambar mereka pada handsanitizer, sembako, masker dan lain-lain.

Juga lebih parah lagi ketika pendistribusian bansosdinilai tidak merata karena kesalahan-kesalahan pada pendataan, realisasi distribusi bansos ini angat berpotensi masuk pada kantong oknum politisi itu sendiri. Kekacauan distribusi realisasi bansos ini sungguh akan sangat berdampak buruk pada masyarakat yang membutuhkan.

Karena seperti yang kita ketahui pada masa pandemi ini banyak sekali orang yang kehilangan pekerjaan entah itu di PHK, di rumahkan atau pun di istirahatkan. Intinya akan ada banyak pengangguran baru dan penurunan taraf kemampuan ekonomi masyarakat yang lebih meluas. Fenomena ini tentu akan sangat berpengaruh pada kondisi asupan gizi dan nutrisi Anak-anak. Karena harga pangan yang bisa saja sewaktu-waktu melambung karena krisis sehingga tidak terjangkau oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Bank dunia juga memperingatkan kita akan adanya ancaman resesi. Ancaman ini menjadi momok menakutkan bagi negara kita pasal nya pertumbuhan ekonomi Pada kuartal I 2020 hanya mencapai pertumbuhan sebesar2,97 persen kurang dari pertumbuhan pada kuartal I 2019 yang mencapai 5,07 persen.

Ini menjadi gambaran bayang-bayang resesi yang sedang menghampiri kita terlebih lagi pada kuartal II pertumbuhan ekonomi nasional kita di prediksi mengalami defisit sebesar 5 persen. Pada tanggal 15 juli menteri keuangan mengungkapkan bahwa pada kuartal II tahun ini ekonomi Indonesia akan mengalami kontraksi di kisaran -3,5 persen sampai -5,1 persen dan titik tengah pada -4,3 persen.

Jika krisis ekonomi terjadi ni akan berpotensi melebar pada krisi sosial  yang rentan memicu konflik, kerusuhan, perang saudara dan keruntuhan rezim kekuasaan. Dalam sejarah,Indonesia pernah mengalami kerusuhan hebat yang bahkan mampu menumbangkan rezim yang berkuasa pada saat itu yang dewasa ini kita sebut sebagai reformasi. Jelas krisis akan berdampak buruk bagi masyarakat terlebih lagi pada anak-anak yang sangat membutuhkan gizi dan nutrisi demi pertumbuhan dan perkembangan nya.

Kita tentu berharap pemerintah bisa mengeluarkan kebijakan yang tepat dan menjalan kan langkah-langkah yang sesuai dengan kebutuhan rakyat indonesia. Karena mau tidak mau kita hidup dalam negara Republik yang artinya yang paling harus di utamakan adalah tindakan demi kepentingan publik bukan kepentingan segelintir kelompok ataupun segelintir orang yang tentu selalu kita curiga dalam melihat kebijakan-kebijakan yang di keluarkan oleh pemerintah.

Merespon ancaman krisis ini presiden mengeluarkan peraturan  presiden PERPRES No. 82 tahun 2020 tentang pembentukan Komite PenanganananCorona Virus Disase2019 (Covid-19) dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Yang bertujuan mempercepat penanganan Covid-19 dan juga mempercepat mewujudkan pemulihan ekonomi nasional.

Semoga saja dengan langkah yang di lakukan pemerintah ini bisa menjadi sarana untuk mengakhiri dampak pandemi Covid-19 di indonesia yang semakin hari kabarnya semakin menghawatirkan saja, dan semoga juga pemulihan ekonomi nasional dapat terwujud dalam tempo yang sesingkat-singkatnya agar tidak menjadi dampak yang buruk bagi kehidupan ekonomi sosial masyarakat khususnya untuk keberlangsungan hidup anak-anak.

Tumbuh kembang Anak-anak harus menjadi prioritas kita dan prioritas pemerintah karena sejatinya merekalah yang akan menjadi cikal bakal penerus bangsan. Maju tidak nya bangsa kita di masa mendatang ada pada tangan Anak-anak hari ini.

Tentu saja kita menginginkan agar Anak-anak kita menjadi Anak-anak yang sehat dan kuat serta tumbuh dan berkembang secara sempurna demi mewujudkan kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang.

Maka dari itu kita mengharapkan langkah-langkah yang bijak dari pemerintah agar senantiasa menjadi pendukung bagi terwujudnya pertumbuhan Anak-anak yang sempurna serta menjadi tugas kita bersama untuk membimbing dan melindungi mereka agar senantiasa lelah sehat secara jasmani maupun rohani.

Semoga pemerintah mengutamakan kepentingan rakyat dalam langkah pengananan Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional. Karena seperti yang di ucapkan oleh seorang Filsuf dan Negarawan romawi kuno, Marcus TulliusCicerobahwaKebahagiaan rakyat, itulah hendaknya sebagai undang-undang tertinggi”. Demikian tulisan sederhana ini saya tujuan pada para pembaca agar bisa di maknai dengan sebijak-bijak nya dan sehormat-hormat nya.

Selamat Hari Anak Nasional !

Penulis adalah pegiat literasi di komunitas perpustakaan jalanan Garut

 

 


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here