Perjuangan KH Samanhudi, Patahkan Monopoli Perdagangan China

Garutexpress.id – Tahun 1911 pedagang pribumi mendapat perlakuan berbeda oleh Belanda, saat itu Belanda lebih dekat dengan pedagang Tionghoa. Monopoli para pedagang China pun terus menjadi-jadi dengan ditopang bantuan dari pemerintahan kolonial saat itu.

Melihat kondisi pribumi yang tidak diperlakukan secara adil, KH Samanhudi merasa pedagang pribumi harus mempunyai satu organisasi sendiri untuk membela kepentingan mereka, ia lalu mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI) tahun 1911 di Solo. Dengan organisasi itu KH Samanhudi bergerak membela kaumnya, para pedagang batik pribumi.

KH Samanhudi dikenal dengan nama Wiryowikoro dan atau Sudarno Nadi dilahirkan di Solo pada tahun 1868. Ia hanya mengenyam pendidikan Sekolah Dasar, itu pun tidak sempat ia selesaikan. Setelah itu ia belajar agama Islam di Surabaya sembari berdagang batik.

Berdirinya SDI ternyata mendapat riak sambutan yang hangat dari masyarakat. SDI mulai menjamur dengan cabang-cabang diluar kota Solo dan cukup membuat Belanda merasa terusik.

Kemudian pada tahun 1912 atas tas dorongan beberapa penurus dan anggota, SDI pun bersalin menjadi sebuah partai politik dengan berubah nama dari SDI menjadi SI (Sarekat Islam) pada tanggal 10 September.

Sarekat Islam

Pasca bersalinnya nama menjadi SI, organisasi itu setiap tahun kian bertambah anggotanya. Menjelang kongres pertamanya pada tanggal 25-26 Januari 1913 di Surabaya, anggota SI sekitar 80.000 orang. Lalu meningkat menjadi 360.000 orang, tiga tahun kemudian. Pada tahun 1918, jumlah anggotanya semakin bertambah menjadi 450.000 orang. Setelah mengepakan sayap, SI mempunyai tujuan :

“Akan berikhtiar, supaya anggota-anggotanya satu sama lain bergaul seperti saudara, dan supaya timbullah kerukunan dan tolong menolong satu sama lain antara sekalian kaum muslimin, dan lagi dengan segala daya upaya yang halal dan tidak menyalahi wet-wet (undang-undang, hukum-pen) negeri (Surakarta) dan wet-wet Gouvernement, …berikhtiar mengangkat derajat, agar menimbulkan kemakmuran, kesejahteraan dan kebesaran negeri.”

Perkebangannya yang sangat pesat tanpa diawasi oleh penguasa kolonial, Residen Surakarta membekukan SI. Pembekuan itu menimbulkan berbagai kerusuhan dan pergolakan rakyat.

Melihat kondisi tersebut, pemerintah Belanda akhirnya mencabutnya pada tanggal 26 Agustus 1912 dengan pembatasan wilayah organisasi SI hanya boleh ada di Surakarta. Kondisi itu membuat KH Samanhudi segera membenahi organisasi tersebut dengan mencari seorang pemimpin yang handal , guna mengahadapi pemerintahan kolonial Belanda.

H Oemar Said Cokroaminoto yang bergabung dengan SI pada Mei 1912 kemudian ditugaskan untuk menyusun anggaran dasar. Tanpa menghiraukan catatan pembatasan wilayah oleh Residen Surakarta, Cokroaminoto pun kemudian menyusun Anggaran Dasar baru untuk SI di seluruh Indonesia sekaligus meminta pengakuan pemerintah untuk menghindari “pengawasan preventif dan represif secara administratif”.

Dilakukanlah pertemuan SI di Yogyakarta pada tanggal 18 Februari 1914 diputuskan untuk membentuk pengurus pusat yang terdiri dari Haji Samanhudi sebagai Ketua Kehormatan, Cokroaminoto sebagai ketua, dan Gunawan sebagai Wakil Ketua. Pengurus Central (Pusat-pen) Sarekat Islam itu diakui pemerintah Belanda pada tanggal 18 Maret 1916.

Pilihan KH Samanhudi atas kepercayaannya kepada Cokroaminoto tidak salah, di tangan Cokroaminoto SI pun mengalami kemajuan yang sangat pesat yang tidak hanya memperjuangkan kepentingan dagang namun juga kepentingan politik.

Pada tahun 1920. KH Samanhudi tidak lagi aktif sebagai pengurus SI, karena kesehatannya yang kian terganggu. Di tahun itu KH Samanhudi tidak aktif lagi, usaha batiknya pun ikut mengalami kemerosotan.

Meskipun kesehatannya yang kian memburuk, semangat KH Samanhudi tidak padam. Ia terus bergerak pada kepentingan nasional.

Pasca kemerdekaan ia kembali melibatkan diri dalam misi mempertahankan kedaulatan negara, dengn mendirikan Barisan Pemberontakan Indonesia Cabang Solo dan Gerakan Persatuan Pancasila untuk membela RI yang sedang menghadapi ancaman serangan Belanda.

Ketika terjadi Agresi Militer II yang dilancarkan Belanda, ia membentuk laskar Gerakan Kesatuan Alap-alap yang bertugas menyediakan perlengkapan, khususnya bahan makanan untuk para prajurit yang tengah berjuang.

Tutup Usia

KH Samanhudi tutup usia pada tanggal 28 Desember 1956 di Klaten dan dikebumikan di Desa Banaran, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukohardjo, Jawa Tengah.

Organisasi yang dirintasnya memberikan sumbangsing yang besar terhadap perjuangan bangsa Indonesia. Atas jasa-jasanya pada negara, KH Samanhudi dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan berdasarkan SK Presiden Republik Indonesia No. 590 Tahun 1961, tanggal 9 November 1961.

Samanhudi adalah seorang perintis, Organisasi yang dirintisnya memberikan sumbangan yang besar bagi perjuangan bangsa Indonesia. Satu hal yang menarik dalam diri tokoh Sarikat Islam ini adalah ketika dia memilih Cokroaminoto sebagai penggantinya memimpin SI.

Penulis : Sidqi Al Ghifari
Editor : SID


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here