Pencairan BOS di Garut Masih Tertunda, Pihak Sekolah Kelimpungan Cari Pinjaman

Garutexpress.id – Sepuluh dari 27 sekolah dasar (SD) di Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, hingga kini belum menerima biaya operasional sekolah (BOS) tahap dua tahun 2020. Akibatnya, untuk membiayai operasional — termasuk membayar guru honorer — pihak sekolah harus ngutang kepada pihak ketiga.

Koordinator Wilayah (Korwil) Bidang Pendidikan Kecamatan Cisewu, Agus Rajab, mengatakan pencairan dana BOS untuk 27 SD di wilayah kerjanya semestinya berlangsung pada pertengahan puasa lalu atau sekitar tanggal 20 Mei 2020. Namun entah kenapa waktu itu pencairan BOS hanya untuk 17 SD dan 10 SD lagi direncanakan cairnya setelah lebaran.

“Setelah lebaran, sejumlah kepala SD di Cisewu kembali menanyakan kepada pihak Bank Jabar Banten (BJB) soal pencairan BOS. Namun lagi-lagi pihak BJB mengatakan belum ada transfer dana BOS ke rekening 10 SD itu. Ketika kami tanyakan kemungkinan kapan bisa cair, pihak BJB belum bisa memastikannya,” terang dia, Sabtu (6/6/2020) pagi.

Agus menambahkan, keterangan yang sama soal belum adanya kepastian kapan waktunya pencairan BOS tahap dua itu datang juga dari Dinas Pendidikan Kabupaten Garut. Ketika ditanyakan olehnya, ternyata belum cairnya dana BOS tahap kedua tahun 2020 terjadi hampir di seluruh sekolah di Indonesia.

“Informasi yang kami terima sekitar 50 persen sekolah di Indonesia belum menerima BOS tahap kedua. Memang baru tahap kedua yang tidak lancar karena pada pencairan tahap pertama lancar-lancar saja. Sementara untuk pencairan ketiga (terakhir) sekitar bulan Oktober yang akan datang, juga belum bisa dipastikan apakah bakal lancar atau tidak,” ujarnya.

Menurut Agus, lambatnya pencairan BOS tahap kedua murni karena dari pusatnya belum ada transfer dana. Pihak Dinas Pendidikan Garut pun belum bisa memastikan kapan waktunya pencairan BOS itu dapat dilakukan.

“Jadi untuk sementara bagi ke-10 SD terpaksa ‘berpuasa’ dari penggunaan biaya operasional sekolah. Hanya untuk membayar guru honorer terpaksa ngutang dulu ke pihak ketiga,” kata dia seraya tidak menjelaskan siapa pihak ketiga dimaksud.

“Yang pasti bukan ke koperasi guru. Pasalnya, saat ini guru-guru di Kecamatan Cisewu tidak memiliki koperasi setelah koperasi yang dulu pernah dimilikinya mengalami kebangkrutan pasca ditinggal sejumlah pengurusnya yang meninggal dunia,” tambah Agus.

Ia mengatakan, dana BOS untuk 10 SD di Cisewu yang belum cair besarnya mencapai Rp250 jutaan. Masing-masing sekolah akan menerima BOS sebesar Rp25 juta, dan apabila cair nanti tiap SD harus langsung membayar utang ke pihak ketiga sebesar Rp10 jutaan.

“Utang sebesar itu digunakan untuk gaji dan tunjangan hari raya (THR) guru honorer yang pada saat lebaran lalu wajib dikeluarkan pihak sekolah,” ujar Agus. (*)

Editor: Citra Kharisma


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here