Orari Menilai Robohnya Tower ATR/BPN adalah Kesalahan Teknis dari Pekerja

Garutexpress.id – Organisasi Amatir Radio Indonesia (Orari) menilai kecelakaan kerja yang berdampak robohnya tower di Kantor ATR/BPN Kabupaten Garut itu karena kesalahan teknis dari para pekerja. Selain itu penyangga tower sudah usang dan berkarat.

Menurut Ketua Orari Kabupaten Garut, Yayat, menyebut pekerjaan menurunkan tower itu sempat ditawarkan pihak BPN ke Orari. Namun tak ada kelanjutan komunikasi setelah pihak BPN datang ke Kantor Orari.

“Setelah lebaran sekitar dua minggu lalu ada dari BPN datang ke sini. Menawarkan pekerjaan menurunkan tower. Tapi setelah itu, putus komunikasinya,” ujar Yayat di Kantor Orari Garut, Jalan Pembangunan, Kecamatan Tarogong Kidul, Senin (15/6).

Tower jenis three angel itu biasanya memiliki tiga kawat penyangga. Namun tower yang ada di BPN Garut memiliki empat kawat penyangga agar lebih memperkuat tower.

Alasannya posisi tower berada di atas bangunan kantor. Melihat kondisinya, tower itu sebernarnya masih dalam kondisi bagus. Menurutnya, tower itu dipasang pada 2008.

“Artinya sudah 12 tahun usianya. Kondisi tower bagus, cuma memang kawat penyangganya yang sudah karat,” katanya.

Seharusnya, tower itu diturunkan minimal oleh lima orang. Empat orang bertugas memegang kawat penyangga dan satu lainnya naik ke atas tower. Namun kasus di BPN, hanya empat orang yang bekerja.

“Jadi ada satu kawat yang tak dipegang. Seharusnya saat mau menurunkan itu, empat kawat penyangga dilonggarkan. Tapi ini ada dua kawat yang dikencangkan dan dua lain dilonggarkan. Akibatnya tower jadi berayun dan ambruk,” ujarnya.

Awalnya jika pekerjaan itu diambil oleh Orari, pihaknya ingin membuat surat perjanjian dan jaminan asuransi. Pasalnya menurunkan tower itu merupakan pekerjaan yang berbahaya.

“Mereka katanya mau bayar Rp 6,5 juta sampai tower beres diturunkan. Padahal pekerjaannya cukup berisiko. Jika sama kami dikerjakan, mau beli kawat baru karena kondisi kawat lama memang sudah karat,” katanya.

Robohnya Tower Pernah Terjadi

Yayat menyebut, kejadian serupa pernah terjadi beberapa tahun lalu di tower milik salah satu stasiun radio di Garut, Tower ambruk karena sudah lama usianya. Untuk wilayah kota, sudah tak ada tower komunikasi yang berusia tua. Rata-rata, tower komunikasi yang ada masih baru dipasang beberapa tahun.

“Kayak tower yang di SMK 2 Garut sama SMP 1 Garut itu masih bagus. Kalau di kecamatan-kecamatan sudah enggak ada tower komunikasinya,” ujarnya.

Kondisi tower yang harus diperhatikan yang berada di kawasan pantai karena rentan terkena karat dari air laut. Selain itu, tower milik stasiun radio juga harus diperhatikan karena rata-rata disimpan di atas bangunan.

Sumber : Tribun
Editor : Sidqi Al Ghifari


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here