Korban Tewas Insiden Tower Ambruk di Garut Ternyata Anggota RAPI, Ini Kronologisnya

garutexpress.id- Pekerja tower yang meninggal saat tengah membongkar tower di Kantor ATR/BPN Kabupaten Garut merupakan anggota Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI). Ada empat orang yang terlibat dalam pekerjaan menurunkan tower itu.

Ketua RAPI Kabupaten Garut, Dodi Mulyadi, pekerjaan itu tak berhubungan dengan organisasinya. Orang-orang yang bekerja itu merupakan anggota RAPI. Mereka bekerja secara pribadi.

“BPN menawarkan ke pribadi masing-masing (pekerja). Hanya yang mengerjakannya orang RAPI yang sudah biasa naik (memasang dan menurunkan tower komunikasi). Itu pribadi masing-masing. Kalau menawarkan ke RAPI juga tidak akan diterima,” ucap Dodi melalui sambungan telepon.

Dodi yang juga terbiasa memasang tower komunikasi, mengaku tak mau mengambil pekerjaan itu karena kondisi tower yang sudah berkarat. Risikonya tentu sangat besar dan tak sebanding dengan bayaran yang diberikan.

“Saya juga sudah tahu kondisi tower di BPN itu. Memang sudah tua dan berbahaya. Makanya kalau tahu mereka ambil pekerjaan ini, saya larang,” katanya.

Dodi mengaku tak pernah mendapat tawaran dari BPN untuk menurunkan tower tersebut. Ia baru mengetahui terjadi kecelakaan kerja dari saluran radio.

“Sudah dua minggu mengerjakannya. Saya lihat dari rumah di Jalan Mawar (sekitar 500 meter dari Kantor BPN) tower enggak kelihatan, perasaan saya pasti runtuh. Saat dicek, ternyata anggota RAPI yang menurunkan dan kecelakaan kerja,” katanya.

Keempat orang yang menerima pekerjaan itu yakni Daud, Surya, Deni, dan Yusup. Dari informasi yang diterimanya, kawat seling tower putus dan menyebabkan roboh. Saat melihat ke lokasi kejadian, kondisi kawat memang sudah berkarat.

“Kalau saya tahu dan lihat kontruksinya, lebih baik jangan dikejakan. Meski pakai alat keamanan, tetap saja berbahaya. Hembusan angin juga memengaruhi saat menurunkan tower itu,” ujarnya.

Kecelakaan kerja yang berdampak robohnya tower di Kantor ATR/BPN Kabupaten Garut dinilai Organisasi Amatir Radio Indonesia (Orari) karena kesalahan teknis dari para pekerja. Selain itu, kawat penyangga tower juga sudah usang dimakan karat.

Menurut Ketua Orari Kabupaten Garut, Yayat, menyebut pekerjaan menurunkan tower itu sempat ditawarkan pihak BPN ke Orari. Namun tak ada kelanjutan komunikasi setelah pihak BPN datang ke Kantor Orari.

“Setelah lebaran sekitar dua minggu lalu ada dari BPN datang ke sini. Menawarkan pekerjaan menurunkan tower. Tapi setelah itu, putus komunikasinya,” ujar Yayat di Kantor Orari Garut, Jalan Pembangunan, Kecamatan Tarogong Kidul, Senin (15/6/2020).

Tower jenis three angel itu biasanya memiliki tiga kawat penyangga. Namun tower yang ada di BPN Garut memiliki empat kawat penyangga agar lebih memperkuat tower.

Pasalnya posisi tower berada di atas bangunan kantor. Melihat kondisinya, tower itu sebernarnya masih dalam kondisi bagus. Menurutnya, tower itu dipasang pada 2008.

“Artinya sudah 12 tahun usianya. Kondisi tower bagus, cuma memang kawat penyangganya yang sudah karat,” katanya.

Seharusnya, tower itu diturunkan minimal oleh lima orang. Empat orang bertugas memegang kawat penyangga dan satu lainnya naik ke atas tower. Namun kasus di BPN, hanya empat orang yang bekerja.

“Jadi ada satu kawat yang tak dipegang. Seharusnya saat mau menurunkan itu, empat kawat penyangga dilonggarkan. Tapi ini ada dua kawat yang dikencangkan dan dua lain dilonggarkan. Akibatnya tower jadi berayun dan ambruk,” ujarnya.

Awalnya jika pekerjaan itu diambil oleh Orari, pihaknya ingin membuat surat perjanjian dan jaminan asuransi. Pasalnya menurunkan tower itu merupakan pekerjaan yang berbahaya.

“Mereka katanya mau bayar Rp 6,5 juta sampai tower beres diturunkan. Padahal pekerjaannya cukup berisiko. Jika sama kami dikerjakan, mau beli kawat baru karena kondisi kawat lama memang sudah karat,” katanya.

Yayat menyebut, kejadian serupa pernah terjadi beberapa tahun lalu di tower milik salah satu stasiun radio di Garut, Tower ambruk karena sudah lama usianya. Untuk wilayah kota, sudah tak ada tower komunikasi yang berusia tua. Rata-rata, tower komunikasi yang ada masih baru dipasang beberapa tahun.

“Kayak tower yang di SMK 2 Garut sama SMP 1 Garut itu masih bagus. Kalau di kecamatan-kecamatan sudah enggak ada tower komunikasinya,” ujarnya.

Kondisi tower yang harus diperhatikan yang berada di kawasan pantai karena rentan terkena karat dari air laut. Selain itu, tower milik stasiun radio juga harus diperhatikan karena rata-rata disimpan di atas bangunan. (*)

Reporter  :  FW

Editor      :  ER


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here