Karena Karantina, Warga Desa Samida Merasa Tersiksa Tak Bisa Kemana-mana

Sejumlah warga tengah menjalani swab test di Kampung Baeud, Desa Samida, Kecamatan Selaawi, Kabupaten Garut, Kamis (11/06/2020)***

garutexpress.id- Gugus Tugas Covid-19 Provinsi Jawa Barat (Jabar) dan Kabupaten Garut menggelar tes swab massal di Kampung Baeud, Desa Samida, Kecamatan Selaawi, Kabupaten Garut, Kamis (11/6/2020). Ditargetkan, 1.000 warga di kampung itu diambil sampelnya untuk diperiksa.

Pantauan garutexpress.id, antusias warga untuk melakukan tes swab tampakmasih rendah. Dari target 1.000 orang yang dites, hingga sore hari baru sekira 250 orang yang datang memeriksakan diri di dua lokasi pelaksanaan tes swab di kampung itu. Padahal, terdapat sekira 559 kepala keluarga (KK) yang dikarantina mandiri di Kampung Baeud.

Kendati demikian, terdapat pula warga yang menyambut baik pelaksanaan tes swab massal itu. Salah seorang warga yang melakukan tes swab, Aus Komaria (58 tahun) mengaku tenang setelah melakukan tes swab. Selama ini, ia mengaku was-was karena terdapat pasien positif Covid-19 di kampungnya.

“Ya tenang setelah dites. Apalagi kalau hasilnya bisa cepat,” tukasnya.

Sebelum menjalani tes swab massal, sekira 558 KK warga di Kampung Baeud telah menjalani karantina mandiri sejak 29 Mei. Sebab, di kampung itu ditemukan delapan pasien positif Covid-19.

Aus mengatakan, selama karantina mandiri dirinya hanya menjaga warung di rumahnya. Namun, warga tak bisa keluar kampung karena seluruh akses jalan ditutup dan dijaga oleh petugas.

Kendati demikian, kebutuhan pangan warga selama karantina mandiri ditanggung oleh pemerintah. “Saya dapat beras dan lauk-pauk selama karantina,” ujarnya.

Aus berharap karantina mandiri dapat segera diakhiri. Sebab, selama karantina warga tak bisa beraktivitas. “Semoga cepat selesai. Soalnya sudah capek, mau seperti biasa,” kata dia.

Salah seorang warga lainnya, Suwendi (47) mengaku sudah bosan dengan karantina mandiri yang dilakukan di kampungnya. Sebab, selama karantina, warga sama sekali tak bisa keluar dari kampung. “Kerja tidak bisa. Tak bisa kemana mana, hanya di rumah saja, tersiksa” keluhnya.

Diharapkannya, dengan adanya kegiatan tes swab massal,  tak ada lagi penambahan kasus positif Covid-19 dari kampungnya. Sebab, warga khawatir karantina mandiri akan dilanjutkan. Menurut dia, warga ingin kembali beraktivitas normal seperti sedia kala.

Sementara itu, seorang warga lainnya, Ode Hermawan (43) mengatakan, selama karantina mandiri hanya berdiam diri di rumah. Menurut dia, warga masih bisa beraktivitas, tapi hanya di sekitar kampung.

Beberapa warga masih berkebun, tapi lebih banyak yang tidak bekerja. Warga dilarang untuk keluar kampung, kecuali untuk keperluan darurat.

“Dengan ada tes massal ini, sebenarnya kita juga menyambut. Soalnya dengan ini bisa dipastikan keadaan kita,” katanya.

Ia mengatakan, saat ini warga sudah bosan dengan karantina mandiri. Warga umumnya menolak jika karantina mandiri harus dilanjut. Sebab, banyak dampak yang dirasakan warga akibat pelaksaan karantina mandiri di Kampung Baeud.

Menurut Ode, bukan dampak ekonomi yang paling membuat warga kesal dengan pelaksanaan karantina mandiri. Lebih dari itu, warga lebih kesal dengan stigma masyarakat. Akibatnya, kondisi psikologi warga Kampung Baeud terganggu.

Ia mengaku banyak mendengar pandangan negatif dari masyarakat sekitar kepada warga Kampung Baeud. Seolah-olah, kata dia, warga Kampung Baeud itu membawa sesuatu yang negatif.

“Dari kampung sebelah kadang suka menghindar dan mencemooh kita kalau bertatap muka. Saya kan punya anak, kalau anak saya digituin juga kesal,” katanya.

Ode berharap, pemerintah dapat meningkatkan lagi sosialisasi kepada masyarakat agar tak ada lagi stigma kepada warga Kampung Baeud. Sebab, selama ini warga menanggung beban psikologis akibat stigma itu.

Hal yang sama dirasakan oleh Oop Hayatullah (32). Ia mengaku sering mendengar cemoohan kepada warga Kampung Baeud. Hal itu yang membuat warga menanggung beban psikologis.

“Kadang kalau ketemu di kebun, ada warga lain langsung bilang ‘awas ada orang Kampung Baeud’. Kalau tidak tahan emosi mah bisa ribut,” pungkasnya. (*)

Reporter : BAP

Editor     : ER


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here