Bank Diminta Waspadai Pencairan Simpanan Masyarakat Menengah ke Bawah, Ada Apa?

garutexpress.id- Peneliti Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani mengimbau industri perbankan mewaspadai pencairan simpanan masyarakat kelas menengah ke bawah. Kelompok masyarakat ini disebut mencairkan simpanan untuk bertahan hidup di tengah pandemi virus corona.

Namun, ia memprediksi kondisi tersebut tidak akan terjadi pada masyarakat kelas menengah ke atas yang dinilai memiliki kekuatan lebih untuk bertahan.

“Dana di bank sebagian akan digunakan untuk operasional, ini yang harus diperhatikan bank di era new normal,” ujarnya dalam diskusi virtual, Selasa (2/6/2020).

Terkait kredit, ia tidak menampik jika kinerja penyaluran kredit bank tahun ini cenderung lesu. Bahkan, Bank Indonesia (BI) memangkas proyeksi pertumbuhan kredit hanya sebesar 6 persen-8 persen.

Kinerja kredit tidak lepas dari proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini yang juga terdampak covid-19. Skenario terburuk pertumbuhan ekonomi versi Menteri Keuangan Sri Mulyani menyentuh minus 0,4 persen.

“Artinya, bank harus cari peluang baru walaupun pertumbuhan ekonomi rendah, tapi kalau perusahaan bisa cari celah itu bisa mendapat keuntungan,” imbuh dia.

Dalam situasi ini, kata dia, bank juga melakukan berbagai upaya efisiensi serta fokus pada fee based income (pendapatan berbasis komisi). Sebab, pendapatan bank akan berkurang karena banyaknya restrukturisasi kredit.

Pelonggaran kredit ini sesuai dengan ketentuan yang diberikan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kepada debitur terdampak pandemi. Hingga Maret, ia menilai kondisi perbankan masih menunjukkan kinerja yang baik. “Restrukturisasi diperkirakan antara 15-25 persen dari total kredit,” imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, ia juga mengimbau perbankan untuk menyiapkan strategi usai batas waktu restrukturisasi, yakni pada April 2021 mendatang. Pasalnya, pemerintah sendiri memprediksi pemulihan ekonomi membutuhkan waktu kurang lebih tiga tahun.

Dengan demikian, ia khawatir para debitur belum bisa memenuhi kewajiban mereka hingga batas waktu tersebut.

“Peran asosiasi penting karena yang bisa suarakan kondisi industrinya untuk mendapatkan perhatian pemerintah,” tandasnya. (*)

Sumber : cnnindonesia


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here