Menyingkap Silsilah Sejarah Sunan Rumenggong Limbangan-Garut

garutexpress.id- Berdasarkan Sejarah Limbangan, bahwa Sejarah Keluarga Besar Limbangan (Garut) dimulai sejak keberadaan Kerajaan Rumenggong atau Keprabuan Kerta Rahayu, yang rajanya bernama Prabu Rakean Layaran Wangi atau Prabu Jayakusumah.

Bila dikaitkan dengan nama Limbangan, Sejarah Keluarga Besar Limbangan (Garut) dimulai sejak Keprabuan Galeuh Pakuan (pecahan dari Kerajaan/Keprabuan Rumenggong) yang dirubah namanya, menjadi Kabupaten Limbangan oleh Adipati Limansenjaya atau Prabu Wjayakusumah atas perintah Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati di Cirebon pada tahun 1525 M.

Menurut Sajarah Silsilah Asal Usul Limbangan, bahwa Sunan Rumenggong adalah masih keturunan Prabu Jaya Dewata (Prabu Siliwangi) dari Nyi Putri Inten Dewata (putra Dalem Pasehan Timbanganten) dan masih saudara dari Sunan Ranggalawe (Ratu Timbanganten).

Sunan Rumenggong mempunyai 3 putra, yaitu :

Prabu Mundingwangi atau Sunan Cisorok Nyi Putri Buniwangi/Nyi Rambut Kasih Lh. + 1470 Dalem emas (dari isteri keduanya).

Nyi Putri Buniwangi atau Nyi Putri Rambut Kasih menikah dengan Prabu Layakusumah putra Sri Baduga Maharaja dari Ratu Anten. Prabu Layakusumah adalah raja di Keprabuan Pakuan Raharja (Cicurug Sukabumi) sebagai vazal Kerajaan Pakuan Pajajaran (Bogor).

Pada sebagian rundayan silsilah Limbangan, Nyi Rambut Kasih sering dirancukan dengan Nyi Ambet Kasih putra Ki Gedeng Sindangkasih (Cirebon). Nyi Ambet Kasih adalah isteri dan saudara sepupu dari Prabu Jaya Dewata, yang saat itu masih bernama Raden Pamanahrasa putra Prabu Dewa Niskala. Prabu Dewa Niskala saat itu masih sebagai putra mahkota Kerajaan Sunda Galuh, yang rajanya adalah Maharaja Linggawastu Kancana (1371-1475 M) yang berkedudukan di Kawali (Ciamis).

Di daerah Sindangkasih Majalengka, adapula seorang putri yang menjadi Ratu Sindangkasih benama Nyi Putri Rambut Kasih (petilasannya “Pasir Lenggik “di daerah Sindangkasih Majalengka).

Menurut sesepuh di daerah Sindangkasih (Majalengka), dia itu adalah putra Prabu Jaya Dewata, yang ketika agama Islam mulai memasuki daerah Majalengka , dia menolak untuk menganut agama Islam. Ratu Sindangkasih bagi masyarakat di Majalengka, terkenal dalam cerita legenda “Majalengka.”

Menurut riwayat lain, disebutkan bahwa bahwa Sunan Rumenggong dari isteri pertama tidak mempunyai putra, tetapi memelihara Putri Ambetkasih/Nyi Putri Buniwangi putra Sunan Patinggi Buniwangi.

Dari isteri keduanya Sunan Rumenggong dikaruniai 6 orang putra, yaitu :

Dalem Mangunharja (Sunan Galunggung) Dalem Singaharja Nagaparana Dalem Manggunrembung/Prabu Mundingwangi (Sunan Cisorok) Dalem Mangunreksa (Sunan Manglayang) Dalem Manguntaruna (Purbalingga Jawa Tengah) Dalem Emas (Sunan Bunikasih) Dalem Mangunkusumah (Lemah putih Depok).

Menurut riwayat, bahwa pada + tahun 1600 M Nagaparana pernah mengadakan pemberontakan, yang menyebabkan tewasnya Tumenggung Wangsanagara (Sunan Kareseda) putra Prabu Wijayakusumah (Sunan Cipancar) di suatu tempat yang sekarang disebut Ragahiyang di Gunung Sadakeling. Pemberontakan ini dapat dipadamkan oleh Dalem Santowaan cucu Prabu Mundingwangi (Dalem Cibolerang Wanaraja).

Setelah wafat Sunan Rumenggong dimakamkan di Kampung Poronggol (sekarang termasuk Desa Ciwangi Kecamatan Limbangan). Sedangkan saudaranya, Sunan Patinggi makamnya ada di Kampung Nangkujajar Limbangan. (*)

Dari berbagai sumber

Editor : ER


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here