Menguak Mitos Kera “Kajajaden” di Tatar Sunda

FOTO : Ilustrasi, cyberspaceandtime.com.***

garutexpress.id- Tertangkapnya dua ekor kera yang masuk salah satu komplek padat penduduk di kawasan Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Selasa (26/05/2020) membuat heboh warga sekitar. Bahkan, beberapa warga sekitar mengaitkan tertangkapnya kera-kera tersebut dengan keberadaan kera jadi-jadian.

Banyak kisah yang menceritakan monyet atau kera adalah hewan jelmaan manusia (Jadi-jadian), orang Sunda menyebutnya ‘Kajajaden.’ Ini bisa dilihat dari beberapa cerita rakyat yang menceritakan mengenai seorang pria yang berbentuk seperti lutung sebangsa kera yang disebut lutung kasarung.

Penangkapan kera oleh warga di Komplek Saung Sari Wates, Desa Godog, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Selasa (26/5/2020).***

Di zaman modern ini, khusus di wilayah Tatar Sunda (Jawa Barat) beberapa kali sempat dihebohkan dengan kedatangan beberapa ekor monyet ke tengah pemukiman warga. Beberapa kera tersebut mengusik kehidupan masyarakat setempat. Tak sedikit warga yang menyebut-nyebut bahwa monyet-monyet tersebut adalah jelmaan manusia.

Ada cerita dari rakyat Jawa Barat, dikisahkan oleh pemuda yang sedang asyik berkumpul di kampung Ciputri kelurahan Cigugur Tengah, Kota Cimahi. Kala itu tiba-tiba saja muncul seekor monyet, dan langsung menarik perhatian.

Saat hendak ditangkap monyet itu melarikan diri, dan salah seorang pemuda melempar monyet itu dengan batu. Anehnya monyet itu tak mengerang kesakitan, tetapi tetap kabur masuk ke gorong-gorong yang berada di bawah rel kereta api.

Masih penasaran, mereka terus mencari dengan senter mengikuti arah monyet itu pergi. Namun betapa terkejutnya ketika melihat monyet itu berubah menjadi sosok manusia hitam, dengan mata yang besar dan gigi bertaring serta lidah menjulur. Itu sekilas, cerita masyarakat yang beredar selama ini terkait “kera kajajaden.”

Terkait monyet atau kera yang dianggap ‘jadi-jadian’ di Tatar Sunda, baru-baru ini petugas Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat bekerja sama dengan warga Desa Sukaraharja, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur, menangkap satu dari tiga ekor surili (spesies monye) yang berkeliaran di desa itu. Sebagian warga menganggap satwa dilindungi itu hewan jadi-jadian karena dikenal langka sementara wilayah itu jauh dari habitat hutan.

Melihat perkembangan itu, petugas BKSDA meminta monyet endemik atau khas Jawa Barat itu tidak ditakut-takuti apalagi sampai dibunuh. Hasilnya, surili yang dilaporkan berkeliaran di permukiman warga sejak 17 Januari lalu itu berhasil ditangkap Jumat 24 Januari 2020.

Menurut Kepala Bidang Wilayah I Balai BKSDA Wilayah Jawa Barat, Lana Sari, penangkapan oleh warga dengan alat bantu kandang perangkap yang diisi pisang. Pemasangannya di atas pohon dekat posisi surili terakhir dilihat warga.

Lana menyebut, sebagian warga setempat menganggap surili bukan hewan buas tapi makhluk jadi-jadian. “Mungkin karena dia (surili) pindah-pindah lokasinya,” ujarnya.

Ketika sosialisasi, petugas minta warga tidak menakut-nakuti satwa bernama ilmiah Presbytis comata itu. “Jangan membuat dia terancam, terluka, apalagi terbunuh,” ujarnya.

Adapun soal jumlah pasti surili yang berkeliaran, BKSDA belum memastikannya. “Kita tidak cari-cari ke radius desa, pokoknya kalau ada lapor,” katanya.

Fakta lain, surili yang berhasil ditangkap ternyata berkalung warna cokelat. Saat dipancing pisang dia masuk ke kandang perangkap. Lana mengatakan surili itu terkesan jinak.

“Surili kalau ketemu manusia biasanya kabur, kalau liar susah banget ditangkap,” ujarnya.

Dikatakannya, pemilik illegal sesuai Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya bisa dikenai sanksi pidana penjara maksimal 5 tahun dan denda maksimal Rp 100 juta. (*)

Dari berbagai sumber
Editor : ER


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here