Kisah Pilu dr. Emma Pascainsiden di Puskesmas Pameungpeuk Soal Jenazah yang Diduga Korban COVID-19

garutexpress.id- Pacaterjadi kehebohan soal jenazah salah seorarng warga yang sebelumnya diduga terjangkit virus corona (COVID-19) beberapa hari yang lalu. Tiba-tiba ada kabar mengejutkan di lingkungan Puskesmas Pamuengpeuk-Garut.

Adalah dr. Emma Risdiyana, salah seorang dokter yang bertugas sudah lebih 10 tahun ini di Puskesmas Pameungpeuk, secara tiba-tiba mengundurkan diri dan harus pulang ke kampung halamannya di Tasikmalaya.

Sang dokter ini mengundurkan diri, setelah ada insiden kerumunan warga yang menuntut di Kantor Kecamatan Pameungpeuk, setelah menjelaskan kalau warga Kampung Cidahon meninggal dunia bukan akibat COVID-19.

Saat insiden tersebut yang terjadi usai magrib, dr. Ema Risdiyana dengan tegar memberikan penjelasan terkait kematian salah seorang warga Cidahon, yang awalnya dianggap positif corona. Tidak ada perwakilan dari Pemkab Garut, hanya pihak Kecamatan yang mendampingi.

Mundurnya dr. Emma Risdiyaan menimbulkan pertanyaan besar bagi semua pihak. Tak terlintas malam yang membuat mencekam merupakan malam terakhir bagi sang dokter.

“Saya sangat menyayangngkan dengan mundurnya dr. Emma pasca simpang siurnya jenazah yang dari Tangerang terindikasi COVID-19. Ia hanya menjalankan perintah pimpinan tak melihat harus mengorbankan jabatan yang telah diabdikan di Garut Selatan,” ujar Ade Kaca, Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Sabtu (9/5/2020).

Ade menyebut, pengabdian sebagai tenaga medis yang merupakan garada terdepan dalam COVID-19, harus dihargai, walaupun tidak ada dukungan dari pihak Pemkab Garut yang saat insiden terjadi.

“Saya gak mau menyebutkan kalau dr. Emma korban penanganan covid-19, dengan ada dua surat yang berbeda terkait jenazah yang dikirim dari Tangerang itu,” ucapnya.

Ade juga mengaku kecewa dengan sikap dua pimpinan di Kabupaten Garut yang tidak mau menghadapi massa yang datang ke Kecamatan.

“Kemana mereka saat insiden terjadi. Seharusnya Bupati dan Wakil Bupati Garut datang kalau tidak sekalipun menugaskan tim gugus tugas covid-19, tingkat Kabupaten,” ujarnya.

Ade juga menambahkan, kejadian yang terjadi di Pameungpeuk merupakan lambatanya penanganan dan pencegahan yang dilakukan Pemkab Garut.

“Saya terus meminta lakukan tracking contak dan rapid test. Hingga sekarang tidak digubris. Padahal untuk mengantisipasi terjadinya penyebaran,” pungkasnya.

Mundurnya dr. Emma ini juga menyisakan kisah pilu yang mengiringi kepergiaannya dari Puskesmas Pameungpeuk tempatnya mengabdi.

Sempat beredar video detik-detik kepulangan dr.Emma dari Pusekesmas Pamuengpeuk dengan diiringi bait-bait kata puitis yang menyatakan kecintaannya kepada sosok sang dokter. Bahkan  sosok dr Emma juga menjadi viral dengan ramainya tanggapan dan dukungannya untuk dr Emma yang mundur dari Puskesmas Pameungpeuk, justeru saat dirinya sangat dibutuhkan.

Berikut petikan tulisan yang disertakan dalam video itu :

“We love you dokter Emma.
Semoga sehat selalu, dok..
Dokter adalah orang yang selalu kami banggakan, orang yang selalu kami rindukan..

Pernahkan kita berpikir, bahwa ada orang tangguh yang mengupayakan agar kehidupan masyarakat aman, terhindar dari penyakit, terhindar dari marabahaya yang enggan menyerah..

Bahkan rela menukarkan nyawanya demi sebuah pencapaian luar biasa. Secuil ungkapan untuk menyampaikan terima kasih atas keberaniannya, keberanian di medan laga dengan modal kegigihan untuk tumpah darahnya..

Terima kasih pahlawanku, disini kami siap melanjutkan perjuanganmu, semangatmu selalu menggelora di dada kami..

Engkaulah pahlawanku..
Engkaulah pejuangku..

Terima kasih dr. Emma ku..
Kasih sayangmu, pengertianmu, kebijaksanaanmu akan selau kami kenang..
We love you dr. Emma Risdiana..

Kami berharap, dokter kembali..
Mengemban tugas mulia bersama kami Team UPT PKM Pameungpeuk. Semoga dokter sekeluarga selalu sehat..
Aamiin.. YRA.
Semangat ya, dok.. (*)

Reporter : Tim GE

Editor     : ER


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here