Kerusakan Hutan dan Hulu Sungai Cimanuk Picu Banjir di Kawasan Cikajang

garutexpress.id- Kampung Parohan dan Kampung Badak di Desa Margamulya Kecamatan Cikajang, Senin (11/5/2020) sore sekitar pukul 16.00 dilanda banjir. Banjir menerjang dua kampung tersebut setelah Sungai Cibarengkok yang merupakan anak sungai Cimanuk meluap.

Tubagus Agus Sofyan Kepala Bidang Kesiapsiagaan dan Pencegahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut mengungkapkan, luapan sungai tersebut terjadi setelah hujan deras mengguyur kawasan Cikajang dan sekitarnya sejak siang hari.

Akibat banjir tersebut, menurut TB di Kampung Parohan 3 rumah terendam setinggi 50 centimeter dan pondok pesantren di kampung tersebut pun terendam diantaranya ada masjid, asrama santri serta dua ruang kelas madrasah. Selain itu, ada juga 6 rumah terendam di kampung lainnya.

“Ketinggian  banjir antara 50 centimeter sampai 1 meter, arusnya deras tapi setelah hujan mereda banjir tidak lama juga mereda,” katanya.

Andri Gerhana, aktivis lingkungan di Kecamatan Cikajang yang dihubungi Selasa (12/05/2020) mengungkapkan, fenomena banjir di Kecamatan Cikajang, sejak beberapa tahun belakangan, memang telah seperti langganan di saat musim penghujan. Padahal, sebelumnya tidak pernah ada banjir di Cikajang.

“Banjir di daerah Desa Margamulya ini, baru yang pertama terjadi. Kemungkinan, tiap tahun bisa terjadi banjir di Margamulya kalau sudah seperti ini,” katanya.

Sebelum Margamulya, menurut Andri ada Desa Mekarjaya di Cikajang yang juga jadi langganan banjir tiap tahun. Musim penghujan ini saja, sudah lebih dari tiga kali terjadi banjir di Desa Mekarjaya.

Andri melihat, bencana banjir di Kecamatan Cikajang yang sebelumnya tidak pernah terjadi, penyebabnya adalah rusaknya kawasan-kawasan perkebunan yang dikelola oleh BUMN dan BUMD perkebunan.

“Ada lahan perkebunan milik PDAP (BUMD) yang saat ini dikelola masyarakat ditanami tanaman semusim, luasannya mencapai ratusan hektare,” jelasnya.

Manajer Program Pemulihan Lingkungan Hidup Yayasan Tangtudibuana, Usep Ebit Mulyana menambahkan, banjir bandang yang saat ini menjadi langganan di Kecamatan Cikajang, terjadi karena kelalaian para pemangku kawasan perkebunan dan hutan.

“Ada tatakelola PHBM Perhutani yang tidak baik, ada juga karena kelalaian perkebunan dalam mengelola lahan yang sudah tidak produktif lagi hingga berubah fungsi menjadi lahan pertanian semusim,” katanya.

Lahan-lahan tersebut, menurut Ebit ada di dalam kawasan tiga gunung yaitu Cikuray, Papandayan dan Mandalagiri yang ada di Cikajang dan semuanya adalah kawasan hulu Sungai Cimanuk. Pemerintah daerah sendiri, menurutnya harusnya sudah jauh-jauh hari merespon fenomena tersebut karena sudah ada sejak 10 tahun ke belakang.

“Ke depan, isu lingkungan harus jadi perhatian pemerintah daerah. Harus ada road map pemulihan kawasan di hulu-hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) agar tidak ada lagi banjir bandang,” katanya.

Sebagai langkah awal, menurut Ebit pemerintah daerah bisa melakukan evaluasi terhadap program-program PHBM yang dilakukan Perhutani dan juga mengevaluasi pengelolaan lahan di perusahaan perkebunan.

“Untuk KSDA, kita memohon agar segera melakukan peninjauan ulang kawasan. Karena, ada indikasi aktivitas pertanian sudah masuk kawasan konservasi,” katanya. (*)

Reporter : AMK

Editor    : ER


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here