Finni Siti Rachmani, Dengan Seni Tari Bertekad Harumkan Indonesia di Pentas Dunia

garutexpress.id- Kecintaannya akan seni tradisi khususnya menari membawa gadis kelahiran Garut 13 Agustus 1996 ini begitu gandrung mendalami seni tari hingga akhirnya masuk ke Institut Seni Budaya Indonesia di Bandung dengan memilih Fakultas Seni Pertunjukkan Jurusan Seni Tari.

Finni Siti Rachmani, begitu nama lengkap putri dari pasangan Ariief Rachman dan Ade Aminah ini. Sejak kecil ia sangat menyukai seni tari. Tak heran, semasa di bangku sekolah, yakni  ketika berseragam  SMPN 2 Garut dan SMAN 11 Garut, Finni menjadi anadalan sekolahnya di berbagai perlombaan.

Seabreg prestasi dalam kepiawainya menari ini tentu membuat bangga almamater dan guru-guru di sekolahnya. Berikut deretan prestasi yang pernah diraih putri kesayangan bapaknya ini. Di antaranya, Juara 1 FLS2N  SMP dan SMA di tahun 2011,2012,2013,2014. Juara 1 lomba jaipong tingkat Jawa Barat 2015, dan banyak lagi prestasi lainnya di bidang seni tari.

Saat diwawancarai garut express, Finni  mengaku, dirinya sangat menyayangkan terhadap pemerintah setempat yang kurang begitu mengeksplorasi seni tradisi, khususnya seni tari.

“Ya, sangat disayangkan ya, pemerintah khususnya Disbudpar Garut  kurang mengeksplorasi seni tradisi ini, khususnya seni tari. Padahal, saya kira dengan dieksplornya seni secara maksimal ini akan mendongkrak kemajuan dunia pariwisata,”  ungkap Finni, yang juga alumni SD Muhammadiyah-1 Garut ini.

Finni mengungkapkan, seni tradisi ini akan lebih menarik jika dikemas semenarik mungkin. Dengan dikemasnya seni tradisi ini akan mampu menyeimbangi zaman modern.

“Dengan beraneka ragamnyanya seni budaya di  Garut, saya yakin para seniman di Garut akan mampu memajukan seni tradisi  ini, sehingga mampu mengharumkan nama Garut, bahkan Indonesia di kancah internasional. Dan peran serta pemerintah, khususnya Disbudpar Garut sangat penting,” ungkapnya.

Related Post

Sebagai penari profesional, Finni telah beberapa kali mentas di berbagai ivent, baik skala lokal, regional hingga internasional. Sebut saja, ia sempat mentas di Kuala Lumpur – Malaysia dalam agenda rapat besar KBRI di tahun 2015, Menari di Pangkalanbun-Kalimantan untuk mengisi acara Paguyuban Pasundan 2014, penari opening- closing PON XIX 2016, dan banyak lagi.

Terkait peran serta kaum muda dalam seni tradisi, Finni mengingatkan, bahwa kaum muda jangan terlena dengan seni moderen yang serba digital. Karena seni tradisi, menurutnya takan tergantikan dengan robot.

“Menurut saya, memang sih kalangan muda di Garut sebagian besar sudah terhipnotis dengan budaya luar dan merasa bodo amat ketika melihat sebuah pertunjukan seni tradisi. Saya selaku pelaku seni merasa miris dan sedih.  Padahal jika ditelaah, seni tradisi khususnya di  Garut memiliki makna-makna yang baik untuk kelangsungan hidup. Zaman semakin kini semakin canggih, dan modern, bakal ada masanya semua memakai elektronik atau robot. Seorang penari tradisi tidak mungkin bisa digantikan robot, karena robot tidak akan segemulai penari tradisi. Ya kalo bukan kita kalangan muda yang melestarikan budaya, siapa lagi,” tutur gadis yang bercita-cita bekerja di KBRI ini, seraya menebar senyum ramahnya.

Diharapkannya, pemerintah bisa memperhatikan eksistensi seni tradisi ini sehingga mampu menjadi penopang pembangunan.

“Saya berharap, pemerintah bisa memperhatikan seni dan budaya di Garut. Saya yakin dengan dioptimalkannya eksplorasi terhadap seni tradisi ini akan menjadi penopang pembangunan juga loh. Saya rasa, untuk saat ini peran pemerintah dalam menyediakan sarana dalam kegiatan publikasi dan ruang kreasi seni tradisi ini agak minim,” katanya.

Dengan berbekal ilmu seni tarinya, Finni bertekad hendak membawa harum Indonesia ke pentas dunia.

“Dengan ilmu seni tari yang saya miliki, saya sangat ingin membawa harum nama Indonesia ke pentas dunia. Dengan seni tradisi ini juga kita bisa  mengenalkan budaya Indonesia ke berbagai negara di belahan dunia,” pungkasnya. (*)

Penulis : ER


Juragan Farhan:
Leave a Comment

This website uses cookies.