Dua Bulan Terdampar di Pedalaman Papua, Warga Asal Garut Ini Minta Dievakuasi

Garutexpress.id – Di tempat nun jauh sana di Muara Tami Jayapura, Papua. Seorang warga Garut tergolek lemas tidak berdaya karena terserang malaria. Iwan Ridwansyah namanya, warga Kampung Cileles RT 03 RW 04, Desa Cibunar, Kecamatan Cibatu, Garut Jawa Barat.

Nyawa Iwan beruntung bisa tertolong, empat temannya yang sesama orang Garut membawanya ke Puskesmas terdekat dengan bantuan kendaraan dari penduduk setempat.

Emppat orang temannya termasuk Iwan adalah pekerja asal Garut yang mendapat borongan pembangunan kandang ayam di Papua. Kelima orang ini berasal dari satu kampung yang sama yakni, Zaki, Mohammad Yusuf, Asep Koswara, Tatang Sukendar dan Iwan sendiri.

“Kami tertahan di Papua karena engak bisa pulang ke Garut. Tidak ada penerbangan sipil karena kebijakan lockdown dari Pemda Papua,” kata Asep dilansir dari KONTAN, Jumat (29/5/2020).

Menurut Asep, saat ini, kondisi Iwan mulai membaik meski masih lemah dan belum bisa beraktivitas, hanya tidur-tiduran. Meski demikian, ancaman malaria ini saban hari selalu menghatui.

“Pas dua hari sebelum Lebaran, dia tidur sore hari karena sambil nunggu berbuka puasa. Malamnya mulai tersana panas dingin dan dikira masuk angin. Dua hari berikutnya tambah parah, engak mau makan. Minum pun tidak, bahkan muntah-muntah. Menggigilnya sampai kencang, makanya kami bawa berobat. Ternyata setelah diagnosa terkena malaria,” ungkapnya.

Asep menuturkan, sudah hampir dua bulan terdampar di Papua. Ia dan rekan-rekannya mulai menginjak tanah Papua pada 2 Maret 2020 lalu.

Tidak hanya Asep dan empat rekannya yang terkatung-katung di negeri orang, ada sekitar 100 warga lainnya asal Garut yang sama nasibnya.

“Selain tim saya, ada tukang gordyn, tukang cukur dari Banyuresmi dan lainnya, semua ingin pulang,” terang Asep.

Tidak Mendapat Bantuan Sosial

Warga pekerja dari luar dan terdampak Covid-19 tidak bisa pulang kampung akibat penutupan transportasi udara, laut, dan darat yang semuanya ditutup untuk angkutan orang. Kini, kondisi Asep dan rekannya dalam kondisi memprihatinkan. Pasalnya, sudah kehabisan bekal sedangkan dari pemerintah daerah juga tidak mendapat bantuan sosial lantaran penduduk pendatang.

“Kami semua atas nama warga Garut dan Jawa Barat sangat terasa imbas dari kebijakan Provinsi Papua. Bekal hidup kami semakin tipis. Kegiatan usaha dan kerjaan semua terhenti dan kami pun enggak punya penghasilan lain. Menggunakan dana stok yang ada untuk menutupi beban hidup di sini. Bantuan pun engak ada yang kami terima baik dari Pemprov Papua ataupun Jabar,” jelasnya.

Asep pun bingung harus mengadu kemana karena lokasinya berada di tengah perkebunan transmigran yang jauh dari pemukiman warga.

“Sedangkan kami di Garut meninggalkan anak istri yang harus diberikan nafkah dan biaya hidup. Mungkin saya mewakili warga Garut yang mengungkapkan keadaan di sini (Papua/red),” bebernya.

Tidak Mendapat Respons dari Pemerintah Jabar

Asep pernag mengadukan kondisinya kepada Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil melalui akun media sosial, namun sampai hari ini aduannya tak kunjung mendapat respons.

Related Post

“Saya coba tag ke Pak Ridwan Kamil di Facebook, tapi enggak ada respon dan massanger pun tak dijawab. Sekarang, kami memohon kepada Bapak Presiden Jokowi untuk mengevakuasi kami dari Papua, karena sudah tidak sanggup lagi bertahan. Teman-teman kami sudah mulai stres. Kepada TNI/Polri juga tolong bantu kami bisa dipulangkan ke Garut,” harap Asep.

Kepala Staff Kodim (Kasdim) 0611 Garut Mayor Inf. Hamzah Budi Susanto mengatakan, soal evakuasi warga Garut yang terjebak di Papua akibat pembelakuan PSBB harus dibicarakan dengan banyak pihak terkait implikasinya.

Sebab, tidak menutup kemungkinan warga di daerah lain yang mengalami nasib serupa minta dievakuasi juga.
“Saya masih di Bandung, kalau pulang coba saya bicarakan dengan Pak Bupati atau dinas terkait. Kalau bisa kita punya data berapa banyak orang Garut yang punya masalah yang sama.Kalaupun ada upaya, pastinya ini akan menyebar ke daerah-dareah yang lain untuk minta dipulangkan juga,” tukasnya.

Putuh Kontrak Kerja

Satu rekan Asep lainnya yakni Tatang menambahkan, selama bekerja di Papua ia hanya menggarap pembangunan kandang ayam petelur selama satu setengah bulan, sesuai kontrak kerja. Namun saat hendak pulang kampung, pemerintah Jaya Pura memberlakukan lockdown.

“Bikin kandang ayam petelur dari bahan baja ringan ukuran 60 meter x 12 meter dan tinggi atap 12 meter . Setelah 50 hari, pekerjaan beres dan berharap kami bisa pulang ke kampung halaman. Tapi ternyata keputusan Pemerintah Jaya Pura lebih dulu memberlakukan lockdown,” keluhnya.

Tatang menuturkan, untuk makan dan keperluan sehari-hari memakai uang dari hasil upah kerja itu. Untuk keperluan mandi dan kakus harus menumpang pada warga pendatang lainnya, yang sudah lama tinggal di Papua. “Kebetulan ada orang Jawa (Semarang) yang baik hati. Mempersilakan MCK-nya untuk kami pakai bersama-sama,” ujarnya.

Segala usaha untuk bertahan hidup sudah dilakoni Tatang dengan mencoba mencari kerja serabutan, namun usahanya itu tidak lah mudah.

“Bantu-bantu yang penting bisa makan aja dulu. Dana hasil upah kita sisihkan untuk beli tiket pulang. Jangan sampai terganggu. Kami di sini tidur pun numpang di pondok orang lain. Team kami pun mulai stres dan banyak yang sakit-sakitan. Kadang kami juga malu oleh orang yang pondoknya kami tinggali,” akunya.

Dihantui Malaria

Tidak hanya dibayang-bayangi sulitnya menjalani hidup, setiap malam tiba Tatang dan rekannya selalu khawatir dan dibayang-bayangi nyamuk malaria yang telah menyerang Iwan, rekannya.

“Tidur tidak nyenyak karena nyamuk yang menyerang kami begitu banyak jenisnya. Bukan hanya nyamuk malaria. Nyamuk kecil-besar dan warnanya pun macam-macam, ada yang putih. hitam, hijau dan lainnya. Makanya kami beli kelambu yang ukuran 2×2 meter dengan kapasitas dalamnya lima orang,” jelas dia

Bukan hanya itu, kebutuhan bahan pokok pun tidak mudah mereka dapatkan. Pasalnya untuk membeli bahan pokok harus menempuh jarah sejauh 10 kilometer.

“Kami hanya makan cukup pake nasi dan mie instan saja. “Harapan saya untuk perintah terkait baik pemerintah kabupaten, provinsi dan pusat soyogianya memperhatikan kami-kami ini. Karena kami bukan peduduk yang ber-KTP Jayapura, maka kami pun tidak pernah merasakan bantuan apapun,” keluh Tatang.

Akibat tidak ada kejelasan hingga kapan bisa pulang kampung, Tatang mengaku lama-kelamaan uang untuk beli tiket habis juga untuk bertahan hidup. Di sisi lain, susah mendapatkan pekerjaan untuk sekedar makan.

“Sedangkan kami di sini tidak lagi punya kegiatan pekerjaan lagi karena kontrak kerja kami sudah putus. Mohon denga sangat kami berikan solusi supaya kami bisa keluar dari Papua. Kami bisa berkumpul dan menjalankan lagi aktivitas di tanah Jawa. Sebab, kami juga di Jawa (Garut) meninggalkan pekerjaan yang belum selsai,” harap Tatang.

Sumber : Kontan/Dadan M. Ramdan
Editor : Sidqi Al Ghifari


Sidqi Al Ghifari:
Leave a Comment

This website uses cookies.