Sejarah Masuknya Orang China di Kabupaten Garut Hingga Kuasai Perdagangan

Kondisi pusat perbelanjaan Kabupaten Garut/ Pengkolan yang saat ini dikuasai etnis Tionghua.

Garutexpress.id – Secara historis, kedatangan orang-orang Cina ke Jawa Barat terjadi sejak Abad V seiring dengan kedatangan Fa Hien (seorang pendeta agama Budha) yang terdampar di Kerajaan Taru-managara (Groeneveldt, 1960: 42). Akan tetapi, belum ditemukan bukti historis dan arkeologis yang menunjukkan bahwa kedatangan orang-orang Cina pada masa itu untuk menetap.

Migrasi orang-orang Cina untuk menetap di Pulau Jawa terjadi pada masa VOC yang mengelurkan kebijakan mengenai kepen-dudukan di Nederlandsch- tertarik oleh cepatnya perkembangan kota Batavia (Jakarta) dan dibukanya daerah Priangan (Bandung, Cianjur, Garut, Sumedang, Tasikmalaya, dan Ciamis) untuk para pedagang Cina (Vasanty, dalam Koentjaraningrat, 1984: 346).

Para imigran Cina tersebut terdiri dari suku Bangsa Hokkien, Teo-Chiu, Hakka (Khek), dan Kanton yang berasal dari Provinsi Fukien dan Kwangtung. Pemukiman kaum etnis Cina di daerah Priangan mendapat izin dari Pemerintah Kolonial Hindia Belanda pada 1872. Jumlah mereka yang datang ke kota Garut, baik yang sudah berkeluarga maupun yang belum, pada masa itu sulit dipastikan karena kedatangan mereka tidak sekaligus, melainkan secara bertahap.

Namun demikian, berdasarkan studi kependudukan di Pulau Jawa yang dilakukan oleh P. Blekker (1870: 40-41) diketahui bahwa jumlah orang Cina di Garut (dahulu namanya Limbangan) berjumlah 6 orang yang semunya berdiam di Kota Garut (masa itu disebut juga Distrik Negeri).

Baru pada 1930, menurut Encyclopedie van Neder-landsch-Indie, jumlah kelompok etnis Cina dapat dipastikan yakni 1.683 orang.

Pada 2002, jumlah mereka yang termasuk Warga Negara Indonesia (WNI) adalah 2.573 orang dan yang termasuk Warga Negara Asing (WNA) berjumlah 69 orang (Kantor Statistik BPS Kabupaten Garut, 2002: 24 dan 46).

Pada mulanya kelompok etnis Cina di Kota Garut menempati tempat yang telah ditentukan oleh Pemerintah Kolonial Belanda, yaitu di daerah Sukaregang Hilir. Akan tetapi, mulai 1920-an dan 1930-an mereka sudah mulai berangsur pindah ke sekitar Pengkolan, yakni di Chineesche voor Straat (sekarang Jl. A. Yani) dan Groete Weg (sekarang Jl. Ciledug) (lihat peta 1).

Peta perpindahan Kawasan Pecinaan di Kabupaten Garut.(*)

Perpindahan itu, selain karena pada 1914 dihapuskannya peraturan surat jalan bagi orang-orang Cina dan pada 1915 dihapuskannya pemukiman khusus orang-orang Cina (Tan, 1981: xiv). Juga tempat pemukiman kelompok etnis Cina tersebut tidak bisa menampung lagi penduduknya akibat pertambahan penduduk.

Kondisi Pengkolan (Jalan Ahmad Yani) Tahun 1895.(*)

Alasan lain, perpindahan mereka ke sekitar Pengkolan (pusat kota) adalah mencari tempat yang strategis guna menyambung hidupnya sebagai pedagang. Peraturan Pemerintah Kolonial Belanda lainnya yang secara tidak langsung mendukung perkembangan ekonomi kelompok etnis Cina di Kota Garut, yakni berlakunya Undang-undang (UU) Agraria 1870, yang melarang orang-orang yang bukan “pribumi” untuk memiliki tanah pertanian (Tan, 1981: xiv).

UU Agraria ini juga membuka Pulau Jawa bagi perusahaan swasta (Ricklefs, 1991: 190) Tentu saja UU Agraria tersebut membatasi kelompok etnis Cina untuk memperoleh hak milik tanah secara lebih leluasa.

Menurut Regering Reglement (Peraturan Pemerintah) 1907, penduduk Hindia Belanda digolongkan secara rasialis ke dalam orang Eropa (Europeanen), orang Timur asing (Vreemde Oosterlingen), dan orang Bumiputra (Inlanders), yang masing-masing dikenakan hukum perdata yang berbeda, walaupun dalam hukum pidana semuanya disamakan. Orang Cina, sebagai golongan Timur asing di dalam soal-soal hukum dagang malahan disamakan dengan hukum Eropa (Staatsblad van Nederlandsch-Indie no. 204 tahun 1907; Wertheim,1959: 133-153).

Menurut Onghokham, pemisahan penduduk secara rasialis pada masa pemerintahan Kolonial Belanda di Indonesia bisa disebut sebagai sistem politik apartheid (Onghokham, 2017: 3). Sistem politik itu pernah juga diterapkan di Afrika Selatan sekitar 1930 hingga 1994. (*)

Sejarah Masuknya Orang China ke Garut Part 1
Bersambung…ke Part 2

Sumber: https://www.researchgate.net/
Penulis: Kunto Sofianto, Widyo Nugrahanto, Agusmanon Yuniadi, Miftahul Falah Program Studi Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran e-mail: kunto.sofianto@unpad.ac.id, widyo.nugrahanto@unpad.ac.id, agusmanon@unpad.ac.id, miftahul.falah@unpad.ac.id


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here