Pembauran Pendidikan dalam Sejarah Masuknya Orang China ke Garut

Garutexpress.id – Bagi kelompok etnis Cina kelangsungan pendidikan setelah kemerdekaan Indonesia (1945) berjalan normal. Sejak zaman Kolonial Belanda hingga 1960-an, orang-orang Cina memiliki sekolah khusus, yakni Sekolah Cina Tionghoa Hwee Koan (THHK) di Lio, Jl. Gunung Payung dan Sekolah Rakyat Partikulir di Jl. Ciledug. Sekolah Cina di Lio merupakan kelanjutan dari zaman sebelumnya, sedangkan Sekolah Rakyat Partikulir didirikan sekitar 1947/1948.

Pada masa itu kurikulum di Sekolah Cina THHK diubah lagi seperti pada masa Hindia Belanda. Pelajaran Bahasa Jepang sejak kemerdekaan RI 1945 dihapus dan diganti dengan Bahasa Indonesia (Bahasa Melayu). Adapun kurikulum yang diterapkan di Sekolah Rakyat Partikulir hampir sama dengan kurikulum yang diterapkan pada Sekolah Christelijk Hollandsch Indlandsche Chineesche School (CHICS) pada masa Kolonial Belanda yang berlokasi di Talun, dengan pengantar Bahasa Belanda.

Digunakannya Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar, karena para orang tua (Cina) masih banyak yang “mencintai” dan bisa berbicara bahasa Belanda sehingga mendorong kepada anak-anaknya untuk bersekolah di sana. Di sekolah itu, juga merupakan sekolah campuran orang Cina dan bumiputra yang terutama berasal dari golongan kelas menengah ke atas, di antaranya anak bupati, anak pengusaha kaya, dan anak dokter (dr. Tachmat dan dr. Maskawan).

Sekolah Rakyat Partikulir merupakan cikal-bakal Sekolah Rakyat (SR) Daya Susila, yang sekitar 1950 dipindahkan ke Jl. A. Yani (sampai sekarang). Sesudah berakhirnya pendudukan Tentara Belanda, orang-orang Cina yang diwakili Nio Tian Soe mengusulkan kepada pemerintah Republik Indonesia (RI) agar Bahasa Belanda tetap diajarkan di sekolah Daya Susila.

Namun usul itu ditolak, karena kurikulumnya harus disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku di Negara RI. Sejak saat itulah, bahasa Indonesia selain sebagai bahasa pengantar, juga merupakan mata pelajaran pokok di sekolah itu.

Pada 1953 didirikan juga Sekolah Menengah Pertama (SMP) Daya Susila di Jl. A. Yani (sekarang di depan SMP I & II) dan SMP Sekolah Cina THHK di Jl. A. Yani di pinggir Bioskop Chung Hwa Hwee (bekas Bioskop Sumbersari) untuk menampung mereka yang ingin melanjutkan ke sekolah lanjutan tingkat pertama.

Pada tahun itu didirikan juga Bioskop Chung Hwa Hwee untuk membantu biaya penyelenggaraan pendidikan bagi Sekolah Cina THHK yang berada di Jl. Gunung Payung dan Jl. A. Yani. Ide untuk mendirikan tempat hiburan tersebut diilhami oleh orang-orang Cina di Kota Tegal (Jawa Tengah) yang telah lebih dulu mendirikan bioskop dan kolam renang untuk membantu pendidikan.

Keuntungan dari bioskop itu, terutama digunakan untuk kesejahteraan para pengajarnya. Bioskop Sumbersari di Kota Garut sudah tutup sekitar 1990-an. Ketika terjadi perbedaan ideologi di kalangan orang-orang Cina yang pro Cina Peking versus Cina yang pro Taipei (Taiwan) maka di Kota Garut pada 1950 didirikan sekolah Cina Pin Min yang berkiblat ke Cina Taipei.
Sekolah itu, yang terletak di Jl. Ciwalen (sekarang dipakai SD Ciwalen), terdapat enam buah sekolah tingkat Sekolah Dasar (SD) dan tiga buah tingkat SMTP. Akibat perbedaan paham antara sekolah Pin Min versus sekolah Cina THHK yang berada di Lio maka mereka selalu bersaing dan tidak pernah sejalan.

Namun demikian, perbedaan tersebut tidak pernah menimbulkan bentrokan fisik di antara mereka (Sofianto, 2001: 124). Pada 1958 sekolah Cina Pin Min dilarang oleh pemerintah. Alasannya, karena pemberontakan daerah Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia/ Perjuangan Semesta (PRRI/ Permesta), persenjataannya disokong oleh Taiwan (Suryadinata, 1984: 160-161).

Bagi orang Cina yang ingin melanjutkan sekolah ke tingkat Sekolah Menengah Tingkat Atas (SMTA) harus ke kota lain, terutama Bandung atau Jakarta karena pada masa itu di Kota Garut sekolah khusus tingkat SMTA bagi orang-orang Cina tidak ada. Memang pada 1963 didirikan juga Sekolah Menengah Atas Katolik (SMAK) di Jl. Bank (sekarang dipakai Sekolah Menengah Tingkat Pertama/SMTP Yos Sudarso), namun sekolah itu tidak bisa menampung semua orang yang berminat masuk sekolah karena merupakan sekolah umum yang bisa menampung, baik orang Cina maupun orang bumiputra.

SMAK yang didirikan atas prakarsa Yayasan Katolik ditutup pada 1965, dengan alasan bahwa ada desakan masyarakat, terutama Yayasan Muhammadiyah, agar sekolah yang disokong oleh Yayasan Katolik ditutup. Setelah peristiwa kudeta G 30 S 1965, sekolah Cina THHK yang berlokasi di Jl. Gunung Payung (Lio) dan Jl. A. Yani (di pinggir Bioskop Chung Hwa Hwee) ditutup. Alasannya, karena perkumpulan Chung Hwa Hwee diduga terlibat gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI). Sekolah Cina tersebut yang di Jl. Gunung Payung akhirnya dipakai oleh Sekolah Teknik Menengah Negeri (STMN), sedangkan
Patanjala Vol. 10 No. 2 Juni 2018: 171 – 186 180 yang dipinggir Bioskop Chung Hwa Hwee digunakan Sekolah Menengah Ekonomi (SMEA) PGRI.

Demikian pula Bioskop Chung Hwa Hwee dan gedung Perkumpulan Chung Hwa Hwee di Jl. Ciledug diambil-alih oleh Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia/Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAMI/ KAPPI) dan kemudian diserahkan kepada Korem 062 Tarumanagara dan Kodim 0611/Garut.

Setelah berada di bawah Korem dan Kodim, bioskop tersebut namanya diganti menjadi Bioskop Sumbersari, sedangkan gedung Perkumpulan Chung Hwa Hwee di Jl. Ciledug dijadikan gedung Pusat Koperasi Pegawai Negeri (PKPN) Garut.

Semenjak ditutupnya sekolah Cina THHK maka mereka terpaksa pindah ke sekolah-sekolah swasta yang pelajarannya disesuaikan dengan sekolah-sekolah negeri, seperti Daya Susila, Yos Sudarso, dan Dharma Bhakti, yang tingkatannya hanya tingkat Taman Kanak-kanak (TK) sampai dengan Sekolah Menengah Tingkat Pertama (SMTP).

Dapat dikatakan bahwa hampir tidak ada orang Cina yang memasuki sekolah negeri yang ada di Kota Garut, meskipun sebenarnya (secara terbatas) mereka diperbolehkan memasuki sekolah negeri. Sekolah-sekolah negeri di Kota Garut seolah hanya menampung murid kaum bumiputra, baik dari sekitar Kota Garut maupun dari luar Kota Garut.

Pada 1973 didirikan Sekolah Menengah Tingkat Atas (SMTA) swasta yang dapat menampung orang Cina. Sekolah itu adalah Sekolah Menengah Atas Kristen/Protestan (SMAK) yang terletak di Jl. Bratayuda. Pelajaran di sekolah itu, yang gurunya hampir 90% dari SMTA Negeri, disesuaikan dengan kurikulum sekolah negeri.

SMAK tidak hanya menerima murid dari kelompok etnis Cina, tetapi juga menerima murid dari kaum bumiputra. Bagi orang Cina, yang terutama keturunan WNI, kehadiran SMAK merupakan wadah untuk membaurkan diri dengan kaum bumiputra. Jumlah murid antara orang Cina dan kaum bumiputra berimbang sehingga di lingkungan sekolah nampak adanya pergaulan yang intim dan saling mengunjungi di luar sekolah.

Kebiasaan saling mengunjungi merupakan sesuatu yang baru di antara generasi muda kelompok etnis Cina dan kaum bumiputra. Pada masa sebelumnya sangat jarang terjadi acara saling mengunjungi dilakukan oleh kedua belah pihak. Sayang sekali sekolah ini terpaksa tutup sekitar 1998 karena kekurangan murid, terutama orang Cina yang mampu kebanyakan sekolah di Bandung untuk mempersiapkan diri memasuki Perguruan Tinggi, terutama Perguruan Tinggi Swasta. (*)

Sejarah Masuknya Orang China ke Garut Part 2
Bersambung…ke Part 3

Sumber: https://www.researchgate.net/
Penulis: Kunto Sofianto, Widyo Nugrahanto, Agusmanon Yuniadi, Miftahul Falah Program Studi Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran e-mail: kunto.sofianto@unpad.ac.id, widyo.nugrahanto@unpad.ac.id, agusmanon@unpad.ac.id, miftahul.falah@unpad.ac.id


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here