Keluarga Jenazah di Pameungpeuk-Garut Pertanyakan Surat yang Menyatakan Almarhum Positif COVID-19

garutexpress.id- Sempat heboh pemberitaan terkait jenazah yang diduga terjangkit COVID-19 yang dibawa ke Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut. Jenazah tersebut dibawa dari RS Sari Asih Kota Serang, Banten, baru-baru ini.

Belakangan, pihak Humas RS. Sari Asih, membantahnya, jika pasien yang meninggal itu terpapar COVID-19.

Humas RS Sari Asih Kota Serang Agus Ramadani seperti yang dilansir dari Tangerangnews.com menjelaskan, kronologi awal pasien datang ke RS Sari Asih Kota Serang pada Tanggal 21 Maret 2020, pihaknya langsung melakukan protokol pemeriksaan COVID-19.

“Pasien masuk melalui IGD, keluhannya mual, muntah, sulit makan dan minum. Diagnosa awal hanya Sirosis Hepatis. Lalu dilakukan screen COVID-19 di dada, tidak ada hasil (negatif COVID-19), dari lab juga tidak ada,” jelasnya, Rabu (29/04/2020).

Sementara itu, Vina Restu Riyanti salah seorang kerabat alamarhum yang beralamat di Kampung Cidahon, Desa Jatimulya, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut mengatakan pihak keluarga mempertanyakan terkait surat keterangan yang didapat dari Rumah Sakit Mayapada Tangerang yang menyatakan jenazah positif COVID-19.

“Pihak keluarga almarhum tidak punya surat itu dari rumah sakit Mayapada Tangerang, karena tidak pernah diberikan, hanya dapat informasi dari media sosial (facebook),” ujar Vina.

Vina mengaku, petugas dari Pemerintah Kecamatan, Polsek bahkan dari Polres Garut datang ke rumahnya untuk mengklarifikasi masalah tersebut. Namun belum bisa dibuktikan positif, pihak keluarga mengaku kebingungan pasalnya almarhum bukan dirawat di RS Mayapada, tapi di Sari Asih Kota Serang.

Related Post

“Memang pada awalnya masuk ke RS. Mayapada dan hanya diperiksa saja tanpa bisa melakukan tindakan apa-apa, dengan alasan tidak ada alat pengobatan gagal ginjal, batu empedu sama liver da kemudian beralih ke RS Sari Asih Serang”, jelasnya.

Menurut Vina, hasil CT Scan di RS Sari Asih Kota Serang bisa dibuktikan dengan surat keterangan yang menyatakan Almarhum berpenyakit gagal ginjal, liver dan batu empedu.

“Almarhum meninggal di rumah sakit Sari Asih dari pihak RS bertanya mau dibawa ke mana ? Soalnya jenazah tinggalnya di Cilegon sedangkan istrinya tinggal di Pameungpeuk Garut, jawab istrinya mau dibawa pulang saja ke Garut,” jelasnya.

Sampai saat ini pihak keluarga almarhum mempertanyakan keberadaan surat kedua dari RS Mayapada Tangerang yang ternyata di situ ada keterlibatan atas nama Dr. Ema yang belakangan diketahui sebagai dokter di RSUD Pameumgpeuk.

“Almarhum masuk ke RS Mayapada pada tanggal 20 April dan hanya 1 malam saja sampai tanggal 21 April, kemudian dipindahkan ke RS Sari Asih sampai meninggal pada tanggal 26 April 2020, jadi kabar dr. Ema yang telah memegang surat keterangan dari RS Mayapada selama 10 hari lalu sejak meninggalnya almarhum patut dipertanyakan, karena almarhum hanya dirawat selama 7 hari saja sampai meninggal dunia,” pungkasnya. (*)

Reporter : Tim GE

Editor     : ER


Juragan Farhan:
Leave a Comment

This website uses cookies.