Kayu Tebangan di Lahan Jalan Poros Tengah Diduga Digunakan untuk Bangun Villa Pejabat Garut

garutexpress.id- Rencana Pemkab Garut membangun ruas jalan poros tengah, terus menuai kontroversi. Setelah pembangunannya menabrak kawasan hutan di Gunung Cikuray, pohon-pohon yang ditebang karena lahannya dijadikan jalan, kayunya diduga digunakan untuk membangun villa di kebun milik salah seorang pejabat di Pemkab Garut.

Hendra (30), warga Desa Sukamurni yang dihubungi lewat telepon genggamnya mengungkapkan, dari temuannya di lahan kebun milik salahseorang pejabat di Garut yang ada di blok Kongsi di kawasan Gunung Cikuray yang rencananya akan dilalui oleh jalan poros tengah, ditemukan bangunan villa dua lantai yang sedang dibangun yang seluruhnya terbuat dari kayu.

Ia menduga, kayu-kayu yang digunakan untuk membangun villa tersebut  didapat dari kayu-kayu sisa tebangan dari lahan yang telah dibangun jalan poros tengah. Karena, bangunan tersebut terlihat menggunakan kayu pinus dan beberapa kayu pohon endemik.

“Kayu-kayunya sepertinya dari pohon-pohon yang ditebang di jalan poros tengah, karena ada kayu pinus dan kayu endemik, seperti pohon-pohon yang ditebang di ruas jalan poros tengah,” katanya.

Menurut Hendra, apa yang ditemukannya merupakan sebuah pembiaran dari Perum Perhutani sebagai pemangku kawasan. Karena, jika masyarakat biasa mengambil kayu, langsung ditindak secara hukum.

Ia memperkirakan kayu yang telah digunakan untuk pembangunan villa tersebut mencapai 10 kubik kayu. Karenanya, Hendra memohon aparat penegak hukum bisa menyikapi soal pembangunan jalan poros tengah. Karena, ada indikasi kuat pembangunan tersebut sangat kuat kepentingan pribadi pejabat Garut.

Related Post

“Jadi ini kepentingan pribadi saja, agar jalan lewat ke kebun pejabat itu, bukan untuk kepentingan masyarakat banyak,” tandasnya.

Di atas lahan puluhan hektare yang dikebuni oleh pejabat tersebut, menurut Hendra sama sekali tidak ada pohon tegakan. Padahal, saat pertama kali akan menggarap kebun di wilayah itu, perjanjiannya akan ada pohon tegakan dengan perbandingan 40 persen pohon tegakan dan sisanya kebun.

“Dulu perjanjiannya juga menanam pertanian tidak pakai mulsa, tapi kenyataannya pakai mulsa,” katanya.

Menurutnya, dari temuannya di kebun milik pejabat tersebut, pekerjanya tidak ada orang Desa Sukamurni sebagai warga setempat. Justru yang bekerja di kebun tersebut adalah warga Kecamatan Pasirwangi.

“Tadi kita juga menanyakan para pekerja disana, mereka kebanyakan orang pasirwangi, jadi tidak ada orang Sukamurni yang kerja disana,” katanya.  (*)

Reporter : Tim GE

Editor    : ER


Juragan Farhan:
Leave a Comment

This website uses cookies.