COVID-19 Mewabah, Aktivitas Motor Trail Meningkat di Kawasan Konservasi

Aktivitas motor trail./ foto : ISITIMEWA.***

garutexpress.id- Ditengah Pandemi Corona (COVID-19) yang membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan social distancing, phsycal distancing hingga Pembatasan Sosial Bersakal Besar (PSBB). Di Garut, aktivitas para penggila motor trail di Garut dalam menjelajah alam, rupanya makin meningkat. Bahkan, hingga masuk ke kawasan konservasi baik cagar alam maupun taman wisata alam.

Menurut Kepala Seksi Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) seksi V Garut, Dodi Arisandi, hampir setiap hari ada saja kelompok-kelompok motor trail yang masuk kawasan konservasi, terutama di kawasan konservasi Kamojang.

“Paling ramai hari sabtu dan minggu, padahal kita sudah pasang portal di beberapa titik agar tidak masuk kawasan konsevasi baik di Cagar Alam maupun Taman Wisata Alam, tapi tetap diterobos,” ungkap Dody, saat dihubungi awak media, Selasa (4/4/2020).

Dijelaskan Dodi, masuk ke kawasan konsevasi, untuk kepentingan apapun harus menggunakan Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi (Simaksi) apapun kepentingannya. Semua itu, sudah diatur dalam peraturan perundang-undangan yaitu Perdirjen Perlindungan Hutan dan Pelestatian Alam No.P.7/IV-Set/2011.

Terkait kegiatan motor trail menurut Undang Undang 5 th. 1990 pasal 19 dinyatakan bahwa setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan kawasan suaka alam dengan ancaman 10 tahun penjara dan denda paling banyak 200 juta. Hal ini yang tampaknya belum banyak dipahami atau cenderung diabaikan oleh para pelaku atau penggiat motor cross.

“Kita persuasif saja, kita himbau para pemotor trail tidak masuk kawasan konservasi, kita akan segera keluarkan surat edaran kepada komunitas motor trail di Garut dan Bandung,” katanya.

Dody tadinya menyangka, ditengah Pandemi Corona, aktivitas motor trail di kawasan konservasi yang sebelumnya sudah menurun akan terus mengalami penurunan. Namun, kenyataannya ternyata malah lebih banyak yang naik ke kawasan konservasi.

“Mereka ada yang dari Bandung dan Garut, masuk dari kawasan Kamojang, ada juga yang dari Leles kemudian keluar ke arah datar kumeli,” jelasnya.

Dodi menegaskan, pihaknya sejak lama telah berupaya mengumpulkan data komunitas motor trail di Garut dan Bandung dengan maksud untuk menemui dan menyampaikan surat terkait larangan beraktivitas di kawasan konservasi, termasuk aktivitas motor trail.

“Namun, cukup sulit juga mengingat jumlahnya cukup banyak dan alamat sekretariat yang kurang jelas,” tukasnya.  (*)

Penulis   : Tim GE

Editor     : ER


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here