Stok Darah Minim, UTD PMI Garut Tak Bisa Lagi Gelar Donor Darah

garutexpress.id- Pasca larangan acara keramaian yang melibatkan masyarakat banyak dikeluarkan oleh pemerintah sebagai langkah antisipasi penyebaran virus Corona. Sudah tiga minggu ini, para petugas donor darah di Unit Transfusi Darah (UTD) PMI Garut tidak lagi bisa menggelar acara donor darah.

Penghentian kegiatan donor darah massal tersebut, otomatis membuat pemenuhan kebutuhan darah bagi pasien semua rumah sakit di Garut pun tidak lagi bisa dipenuhi oleh PMI. Jika ada pasien yang membutuhkan darah, PMI pun meminta keluarga pasien membawa pendonor sendiri ke UTD PMI Garut.

“Sudah hampir tiga minggu tidak ada lagi donor darah, harusnya ada dua donor darah massal di Kampus Unpad Garut yang biasa menghasilkan 300 sampai 400 labu darah dan kampus STIKES Karsa Husada yang biasa menghasilkan 200-an labu darah, tapi semua dibatalkan panitia,” jelas Agus Koswara, petugas pelayanan di UTD PMI Garut, Kamis (26/03/2020).

Pembatalan kegiatan donor darah tersebut, tidak lepas dari kebijakan pemerintah terkait larangan adanya acara keramaian. Karenanya, PMI tidak bisa berbuat banyak dan memahami betul apa yang menjadi dasar kebijakan tersebut.

Selain donor darah di dua perguruan tinggi tersebut, menurut Agus, donor darah massal yang skalanya lebih kecil, juga semuanya dibatalkan. Padahal, dari kegiatan donor darah massal di dua kampus tersebut saja, sudah bisa memenuhi kebutuhan darah sampai akhir bulan.

Karena kesulitan mendapatkan pendonor, menurut Agus, saat ini pihaknya mencoba mencari solusi agar donor darah tetap bisa dilakukan meski tidak harus ada keramaian agar stok darah bisa tetap aman. Salahsatunya adalah, dengan cara bagi pihak yang minta penyemprotan disinfektan di lingkungannya, harus juga ikut donor darah.

“Karena PMI ini diberi bantuan oleh pusat sarana untuk penyemportan, jadi bagi mereka masyarakat ataupun kantor, BUMN, BUMD atau pihak-pihak yang lainnya, yang mau mengadakan penyemprotan, bisa negosiasi dengan cara barter dengan donor,” katanya.

Cara seperti ini, menurut Agus dilakukan untuk menjaga stok darah yang ada di PMI. Karena, jika sampai stok darah tidak ada sama sekali, maka pasien yang membutuhkan akan kesulitan. Terutama, mereka yang jadi penderita Thalasemia yang di Garut saja dalam satu bulan harus tersedia 600 labu darah.

Jika para penderita Thalasemia sampai tidak bisa mendapatkan transfusi darah secara tepat waktu, menurut Agus, hal tersebut bisa berdampak buruk hingga kematian bagi penderita Thalasemia. “Bisa, bisa berdampak kesana (kematian),” jelas Agus.

Namun, cara barter tersebut, menurut Agus juga belum bisa membuat kebutuhan darah tiap bulannya di Garut bisa terpenuhi. Makanya, PMI Pusat juga telah mengeluarkan himbauan agar masyarakat tetap mendonorkan darahnya, meski caranya berbeda dengan mendatangi kantor UTD PMI di daerahnya masing-masing.

“Setelah himbauan donor darah di PMI dikeluarkan, sampai akhir bulan ini saja, kita masih butuh 700 labu darah, belum nanti bulan April, makanya kita berharap masyarakat tetap mendonorkan darahnya dengan datang ke PMI,” katanya.

Dihubungi terpisah, Pipin Ramdani, Ketua Harian Yayasan Thalasemia Indonesia Cabang Garut mengakui, pemberlakuan siaga Corona, sangat berdampak pada ketersediaan labu darah di Unit Donor Darah (UDD) PMI dan bank darah yang ada di RSU dr Slamet Garut.

Menurut Pipin, saat ini sedikitnya ada 285 anak-anak penderita Thalasemia di Garut yang harus melakukan transfusi darah secara rutin. Ada penderita Thalasemia yang harus transfusi satu bulan sekali, dua minggu sekali hingga satu minggu satu kali yang dilakukan di beberapa rumah sakit mulai dari RSU dr Slamet Garut, RS Guntur dan RSUD Pamengpeuk.

“Untuk kebutuhan rutin 285 anak-anak kami saja sebulan butuh 600 labu darah,” jelas Pipin saat dihubungi, Kamis (26/03/2020) siang lewat aplikasi pesan.

Pipin menyampaikan, sampai saat ini belum ada teknologi yang mampu membuat darah buatan. Karenanya, menurut Pipin kebutuhan darah bagi penderita Thalasemia saat ini, satu-satunya jalan hanya bisa didapat dari para pendonor yang secara sukarela mendonorkan darahnya.

“Hanya dari pendonor sukarela saja kami berharap kebaikan agar bisa ikut menyumbangkannya,” harapnya.(*)

Penulis : AMK

Editor    : ER


Berita Lainnya :

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here