Tiba di Cinunuk, Gubernur Jabar Disambut Seni Boboyongan

SENI Boboyongan menyambut kedatangan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, di Desa Cinunuk, Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut, Ahad (26/1/2020)/ foto: Useu G Ramdani/ garutexpress.id.***

garutexpress.id – Ratusan warga Desa Cinunuk Kecamatan Wanaraja Kabupaten Garut sejak pagi sudah berkumpul di halaman kantor desa. Warga yang berjubel untuk menunggu kedatangan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil.

Saat rombongan gubernur tiba, seluruh masyarakat menyambut hangat dengan lambayan tangan ke arah Gubernur Jawa barat yang akrab di sapa Kang Emil itu. Tak lama kemudian, aneka tetabuhan gamelan seperti kendang, terompet serta gong terdengar ditabuh para nayaga.

Tabuhan gamelan yang terdengar itu, rupanya mengiringi para penari dan para jawara silat yang memperlihatkan jurus-jurus khas Jawa barat.

Pemandangan tersebut terbilang langka. Penari dan para pesilat berkolaborasi dalam satu panggung dengan tabuhan gamelan yang sama pula. Seni tradisi yang disuguhkan para seniman itu disebut warga Cinunuk seni Boboyongan.

Puncaknya, beberapa anggota seni boboyongan tiba-tiba terlihat diangkat ke atas oleh rekannya yang lain. Jika melihat adegan itu, pasti akan teringat kepada para artis band yang merebahkan dirinya ke bawah penonton yang menyambutnya dengan pegangan tangan secara bersamaan lalu diangkat.

Ridwan Kamil yang saat itu tengah asyik menaripun terlihat kaget. Tak lama kemudian, tubuh Kang Emilpun terlihat dipegang beberapa pemain boboyongan. Tak ayal lagi, Kang Emil diangkat dengan posisi terlentang.

Related Post

Walaupun terlihat agak takut, Gubernur yang tubuhnya diangkat ramai-ramai dalam seni boboyongan, Ridwan Kamil nampak senang.

Menurut catatan beberapa literatur, Seni Boboyongan sudah ada sejak tahun 1910. Kesenian ini merupakan kolaborasi beberapa alat seni seperti terompet, kendang, kentungan, gamelan karawitan dan banyak yang lainnya.

Selain itu, penarinyapun berkolaborasi dengan pemain silat yang terdiri dari laki-laki dan perempuan tak terkecuali anak-anak. Inti dari kesenian ini adalah bentuk protes dan sindiran warga masyarakat Garut umumnya masyarakat Sunda akan ketidakadilan yang terjadi pada zaman pemerintahan kolonial Belanda. Hal tersebut dikatakan Cahridin (42) salah satu anggota kesenian boboyongan khas Desa Cinunuk Garut.

“Seni boboyongan yang diciptakan oleh Raden Jaya Diwangsa, putra dari Raden Wangsa Muhammad atau biasa disebut Eyang Papak yang juga merupakan bentuk kerinduan akan hadirnya pemimpin arif nan bijaksana dari warga Jawa barat asli,” ungkap Cahridin, Ahad (26/01/2020).

Kini, kesenian Boboyongan terus dilestarikan oleh warga Desa Cinunuk. Bahkan saat ini, Boboyongan bukan hanya dimainkan para orang tua saja. Pemuda-pemudi generasi penerus di Desa Cinunuk secara serius mempelajari kesenian tersebut.

Sedikitnya saat ini ada 65 orang warga Cinunuk yang menjadi pemain sekaligus pelestari seni tradisi Boboyongan warisan leluhur Sunda buhun. (*)

Penulis : Useu G Ramdani
Editor : ER


Juragan Farhan:
Leave a Comment

This website uses cookies.