Produksi Surpet Kampung Kasur, Bisnis Warisan Leluhur di Banyuresmi

Dua orang pekerja sedang menyelesaikan pembuatan 'Surpet' di salah satu rumah prduksi surpet milik Endang di Kampung Kubang, Desa Sukamukti, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, Senin (21/1/2020)/ foto: Useu G Ramdani/ garutexpress.id.***

garutexpress.id.- Puluhan orang warga terlihat mondar-mandir sambil memanggul gulungan kasur, lalu  dimasukan ke dalam mobil box dan truk yang nampak berderet di pinggir jalan yang tidak terlalu lebar, maklum jalan desa. Di pojok lain, terlihat para ibu-ibu sedang sibuk menjejalkan majun ke dalam kantung bahan kasur karpet atau biasa disingkat surpet.

Suasana itu bisa terlihat sepanjang hari, bahkan tak jarang, di malam hari sekalipun kegiatan warga seperti itu bisa kita temukan. Itulah sekilas gambaran aktifitas warga kampung kasur yang berlokasi di Desa Sukamukti, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut.

Bisnis membuat kasur merupakan warisan turun temurun dari leluhur. Saking lamanya, sampai-sampai tidak ada seorang warganya yang bisa menyebutkan sejak kapan mulai adanya produksi kasur di kampungnya.

Kepala Desa Sukamukti Dadan Hamdani (baju batik), bersama Endang ‘Kasur’ salah satu pengusaga surpet (Kasur karpet) di Kampung Kampung Kubang, Desa Sukamukti, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut.***

Beberapa tahun lalu, warga kampung kasur masih memproduksi kasur kapuk warisan leluhur. Tetapi, pergeseran jaman yang diikuti dengan hal-hal baru, sebagian besar para pembuat kasur kapuk kini beralih membuat kasur karpet atau surpet. Peralihan ini terjadi pada tahun 2018 yang secara tidak langsung menjadi pendongkrak perekonomian warga yang sangat pesat.

Salah seorang pengrajin surpet, Endang (45) mengatakan, sejak beralih dari pembuat kasur kapuk menjadi pembuat surpet, ia mampu menyerap tenaga kerja hingga 20 orang. Upah kerja rata-rata setiap orangnya Rp 100.000,- per hari. Saat ini Endang yang akrab disapa Endang Kasur mengaku, omzet setiap bulannya bisa mencapai Rp 360.000.000,-.

Kasur karpet yang ia buat, dipesan oleh konsumen dari dalam kota maupun luar kota, bahkan tak sedikit pemesan yang datang dari luar provinsi seperti Palembang dan Lampung. Kasur karpet dengan ukuran 180 x 140 cm dijual dengan harga Rp 180.000, sedangkan surpet ukuran 180 x 200 cm dibandrol Rp 200.000,-.

Dalam satu bulan, Endang bisa menjual sebanyak 2000 buah surpet. Sedangkan untuk bahan baku, Endang mendapatkannya dari pabrik-pabrik tekstil di Bandung.

Menurut Endang, bisnis surpet bukan tanpa kendala, saat ini harga surpet agak menurun, sedangkan bahan baku sendiri terus mengalami kenaikan harga.

Sentra produksi kasur atau surpet ini berada di Kampung Kubang RW 02 dan RW 07, Desa Sukamukti, Kcamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut. Di kampung ini, sedikitnya ada 500 Kepala Keluarga (KK) setiap harinya bisa memproduksi surpet dalam jumlah yang banyak.

Saking banyaknya permintaan dari pembeli, kampung surpet di Desa Sukamukti ini mampu menyerap ribuan tenaga kerja, bahkan sedikitnya ada 500 orang pekerja yang berasal dari luar desa.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Desa Sukamukt, Dadan Hamdani. Dadan menyebut, sejak beralih dari membuat kasur kapuk ke surpet, geliat perekonomian warganya sangat terasa. perputaran uang di kampung kasur mencapai 10 miliar setiap bulannya.

Sampai saat ini, warga kampung kasur biasa bekerjasama dengan pihak perbankkan dalam urusan modal. Sentuhan bantuan dari pemerintah belum dirasakan optimal.

Sebagai kepala desa, Dadan bertekad akan memperjuangkan supaya produksi kasur karpet di desanya semakin maju dan meluas. Beberapa langkahpun sudah dilakukannya untuk membantu para pengrajin terutama dalam marketingnya,  termasuk pemasaran sistem online.

Dadan berharap adanya bantuan dari pemerintah dalam permodalan. Disamping itu, bantuan mesin pembuat bahan baku sangatlah dibutuhkan. Sampai saat ini, bahan baku didatangkan dari luar kota, sehingga modal pembelian bahan baku yang harus dikeluarkan sangatlah tinggi.

“Tentu saja semua itu mempengaruhi tingkat pengeluaran modal para pengrajin. Apabila kita sudah mempunyai mesin pembuat bahan baku. Harga pembelian yang harus dikeluarkan oleh para pengrajin kasur karpet bisa dikontrol dan bisa memberikan untung lebih bagi masyarakat,” pungkasnya. (*)

Penulis : Useu G Ramdani

Editor   : ER

 


Berita Lainnya :

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here