Manuskrip Kuno yang Dipercaya Sebagai Hadiah Sunan Gunung Jati kepada Pangeran Papak

Garutexpress.id – Manuskrip kuno sisa peninggalan jaman dulu masih banyak terdapat di berbagai wilayah Indonesia, terutama tatar Sunda. Manuskrip-manuskrip tua tersebut memiliki isi yang berbeda-beda. Mulai dari kumpulan doa, cerita tokoh besar, syiar agama ataupun catatan yang dipercaya sebagai sejarah pada masanya.

Tulisannya pun beragam, seperti tulisan berbahasa suku-suku lokal Indonesia, tidak sedikit pula ditemukan manuskrip bertuliskan bahasa arab yang hingga saat ini, sudah banyak manuskrip kuno yang diterjemahkan.

Dari terjemahgan itulah diketahui isi dan pesan dari manuskrip tersebut. Namun banyak pula manuskrip yang hingga saat ini belum diterjemahkan.

Salah satunya terdapat di Desa Cinunuk dan tersimpan rapih serta dianggap sebagai salah satu benda bersejarah bagi warga. Manuskrip ini sekarang menjadi daya tarik bagi warga yang datang untuk berwisata religi maupun berziarah di komplek makam Pangeran Papak Desa Cinunuk Kecamatan Wanaraja Kabupaten Garut.

Manuskrip yang bentuknya sekilas menyerupai sebuah buku itu di tulis dengan huruf arab. Menurut salah seorang sesepuh di Desa Cinunuk, Iden Suparno kitab atau manuskrip ini di buat dari kulit kayu saeh dan biasa di sebut warga dengan nama “Daluang Saeh”.

Iden yang mengaku sebagai salah seorang keturunan Raden Wangsa Muhammad yang lebih di kenal dengan nama Pangeran Papak ini menyatakan bahwa sampai saat ini isi dari manuskrip ini belum ada terjemahannya.
“Isinya itu entah memang berupa salinan kitab suci Al-quran, kumpulan doa-doa atau sebuah naskah cerita,” ungkapnya saat diwawancarai GE Minggu (26/01/2020).

Ia menambahkan kedepannya akan berusaha menggandeng ahli sejarah untuk bisa menterjemahkan naskah-naskah tersebut.

Beberapa bagian manuskrip memang sudah rusak di makan usia. Tetapi di bagian yang masih utuh, tulisan berbahasa arab masih sangat tertuang dengan jelas.

Warga sekitar percaya, bahwa manuskrip ini merupakan hadiah yang di berikan oleh Syarif Hidayatullah atau yang lebih dikenal sebagai Sunan Gunung Jati kepada Pangeran Papak saat Pangeran Papak mengunjungi Sunan Gunung Jati di Cirebon.

“Bagaimanapun, benda seperti ini harus terus dijaga kelestariannya oleh warga setempat, Karena tokoh yang dulu memegang kitab atau manuskrip ini sangatlah dihormati masyarakat. Makam Pangeran Papak pun yang dipercaya warga sebagai penyebar syiar Islam itu pun selalu dipenuhi oleh para peziarah” Tandasnya.

Penulis : Useu G Ramdani
Editor : Sidqi AG


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here