Jejak Hindia Belanda di Perkebunan Teh Cisaruni dan Stasiun Cikajang

garutexpress.id- Menurut catatan sejarah Hindia Belanda, sedikitnya ada delapan keluarga pengembang perkebunan di tatar Priangan, termasuk di wilayah Garut. Salah satunya perkebunan teh di wilayah Cikajang.

Dari penelusuran, perkebunan teh di Cikajang berada di daerah 18 kilometer ke arah Gunung Cikuray di selatan Garut. Cikajang merupakan daerah layaknya pelana, berada di lengkungan antara Gunung Cikuray dan Papandayan. Daerah ini didominasi perbukitan nan hijau. Udaranya sejuk mengarah dingin, mirip di dataran tinggi Pangalengan.

Antoni Holle, merupakan salah satu keturunan Karel Frederik Holle (1829-1896). KF Holle merupakan nama tersohor di Garut pada zaman itu, terlebih di daerah Cikajang.

Stasiun Cikajang.

KONDISI Stasiun Cikajang yang legendaris itu, kini kondisinya mangkrak, dibiarkan begitu saja. ****

Garut mengorbitkan KF Holle sebagai juragan sekaligus ‘pangeran teh’ dari Priangan Timur. Holle datang setelah kapal Sara Johanna merapat di dermaga Batavia pada 23 Februari 1844.

Catatan Hindia Belanda, sedikitnya ada delapan keluarga pengembang perkebunan Priangan yang harum namanya: Van Der Hucht, Kerkhovens, De Holles, Van Motmans, Bosscha, Mundt, Denninghofs Stelling, dan Van Heeckeren van Walien.

Di kawasan pegunungan Garut keluarga Holle cukup familiar. KF Holle mewarisi seluruh perkebunan teh yang ada di Cisaruni, Cikajang, dan Garut.

Lepas arah selatan Kota Garut, terhampar perkebunan teh di daerah Cikajang. Permadani hijau membentang sejauh mata memandang. Perkebunan teh ini berada di kaki Gunung Cikuray. Perkebunan sendiri dibuka KF Holle usai bermitra dengan Karel Albert Rudolf Bosscha di Pangalengan, Bandung. Perkebunan teh yang menjadi kebanggaan warga Cikajang kini dikelola PTPN VIII.

Selain perkebunan teh, tak banyak sisa tanda kejayaan KF Holle di Garut. Menurut Antoni Holle, satu masa pernah Hindia Belanda membuatkan satu tugu Holle di halaman utara Alun-alun Garut. Namun, patung itu dihancurkan pada masa kependudukan Jepang.

KF Holle bukan hanya terkenal dari urusan tanam dan menanam teh. Dia juga pernah didaulat sebagai Penasihat Urusan Dalam Negeri Hindia Belanda. Kepeduliannya terhadap pendidikan rakyat lokal, dibuktikannya dengan mendirikan `Sekolah Pribumi’ yang kini bangunannya beralih fungsi menjadi Mapolwiltabes Bandung.

Keluarga Holle di Belanda masih menganggap Garut adalah ibu tanah dari KF Holle, kami masih sering berkunjung.

Stasiun Cikajang, tertinggi di Indonesia

KF Holle meninggalkan kesan yang begitu mendalam bagi Hindia Belanda. Manifestasi perkebunannya terus berlangsung hingga sang pangeran teh tinggal nama.

Pada 1926, pemerintah Hindia Belanda berani bertaruh untuk membuat sarana penunjang yang terbilang mahal harganya. Buah Manifestasi mahal yang kemudian saya temukan tak jauh dari Pasar Cikajang.

Tempat itu bernama Stasiun Cikajang, reruntuhan stasiun lebih tepatnya. Stasiun Cikajang merupakan stasiun peninggalan kolonial. Dibangun pada 1926 guna merekayasa jalur distribusi teh di Jawa Barat sebelah selatan, Priangan Timur termasuk Garut.

Terbilang mahal karena stasiun inilah yang membuat Hindia Belanda meresmikan Stasiun Cikajang sebagai stasiun tertinggi di Indonesia (1.246 mdpl). Usai resmi ditutup pada 1983, predikat stasiun tertinggi barulah dipegang Stasiun Nagreg, Bandung (848 mdpl).

Stasiun Cikajang berdiri megah menghadap Gunung Cikuray membelakangi keindahan Gunung Papandayan. Pertama kali didirikan, Stasiun Cikajang terhubung dengan Stasiun Cibatu sepanjang 19 kilometer. Dari Cibatulah distribusi dilanjutkan menuju Bandung hingga sampai ke Batavia.

Merupakan keseriusan Belanda melanjutkan warisan KF Holle, sekaligus penunjang infrastruktur setelah sebelumnya pembangunan jalur kereta lain telah rampung untuk rute Pangandaran-Cijulang (82 kilometer) pada 1911-1914.

Sayangnya, Stasiun Cikajang telah termakan zaman. Bangunan itu dibiarkan mangkrak setelah 30 tahun terakhir tak lagi dilintasi kereta. Banyak tumpukan sampah di dalam bangunan seluas 400 meter persegi tersebut. (*)

Dari berbagai sumber.


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here