Bahas TBC, Bupati Garut Hadiri ‘Teleconference’ Bersama 119 Bupati dan Wali Kota

garutexpress.id- Bupati Garut Rudy Gunawan, bersama  119 bupati dan wali kota hadir di acara Teleconference dalam acara bertajuk Gerakan Bersama Menuju Eliminasi TBC 2020 yang dipusatkan di Cimahi Technopark, Kota Cimahi, Rabu (29/1/2020).

Secara terpisah Bupati Rudy hadir di lokasi Desa Siaga TB mendamping Nurdin, pasien TB sembuh, di Kelurahan Kota Wetan, Kecamatan Garut Kota, bersama Kadinkes Maskut Farid, Kepala BBKPM Bandung Kemenkes RI, Maya Marinda Montain, M.Kes, Kepala Bidang Promosi dan Pengembangan Sumber Daya (PPSD) BBKPM Bandung, Cecep Slamet Budiono, S. KM, M.Sc, PH, Kadis Perkim Eded Komara, Kadiskominfo, Muksin, Camat Garut Kota, Bambang Hafiz, para lurah dan masyarakat setempat. Kegiatan tersebut juga  diikuti 34 gubernur,  serta sejumlah menteri kabinet Indonesia Maju.

Bupati Garut Rudy Gunawan dalam kesempatan tersebut mengatakan, penyakit tuberkulosis  (TBC) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Kabupaten Garut. Masalah yang dihadapi diantaranya, penemuan penderita TBC di Kabupaten Garut dalam posisi on the track, meskipun masih di bawah target (90%), yaitu selama periode 2016 – 2018 di bawah 60% dan meningkat  menjadi 81.9% di tahun 2019. Angka kesembuhan penderita tuberkulosis di Kabupaten Garut Juga masih belum mencapai target.

“Kedua masalah ini berpotensi menyebarkan proses penularan tuberkulosis akan terus berlangsung di masyrakait,” beber Rudy.

Selain itu, dampak penyakit tuberkulosis, tidak hanya terbatas pada kesehatan, tetapi juga pada status sosial dan ekonomi  penderita, akibat tidak bisa  secara produktif bekerja. Hal lain, sebut Rudy, masih terjadinya under reporting penemuan kasus tuberkulosis , yang disebabkan antara lain karena belum bersinerginya layanan kesehatan swasta dengan pemerintah.

“Sehingga penyelesaian  masalah tuberkulosis tidak hanya dari sisi layanan kesehatan, tapi memerlukan  juga pendekatan sosial ekonomi dan sinergi dari semua elemen masyarakat,” katanya.

Pemeritah Kabupaten Garut menyampaikan apresiasi kepada Kementrian Kesehatan melalui Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) Bandung dan lintas sektoral SKPD yang telah mengembangkan Desa Siaga TBC di Kelurahan Sukamantri.

Terima kasih bupati juga  disampaikan  kepada Yayasan Arsitektur Hijau Nusantara (YAHINTARA) dan Civil Society Aisyiyah serta komponen masyarakat lainnya  yang secara bergotong royong sejak tahun 2014 telah membangun beberapa rumah  sehat untuk penderit TBC di Garut.

“Saat ini sedang membangun rumah singgah pasien TBC, sebagai upaya pemberdayaan sosial ekonomi dan mempercepat eliminasi TBC di Garut tahun 2030,” imbuhnya.

Menurutnya, Pemkab Garut berkomitmen untuk  melakukan langkan-Iangkah akselerasi penanggulangan tuberkulosis, melalui “Gerakan Besar Kesehatan”, yaitu akselerasi peningkatan penemuan kasus dan penatalaksanaan penderita TBC melalui sinergitas pelayanan Kesehatan pemerintah dan swasta , serta pemeriksaan skrining pada populasi risiko tinggi, di lapas dan pondok pesantren.

Hal lainnya melalui pemberdayaan masyarakat melalui civil society dan komponen masyarakat melalui kader kesehatan dalam upaya outreach (penjangkauan) sebagai antisipasi keterbatasan dalam penemuan penderita TBC, yaitu diantaranya dengan pembentukan Desa Siaga TBC.

Pihaknya juga berkomitme menciptakan lingkungan sehat dan layak huni dengan memberikan bantuan untuk membangun 10.000 rumah Iayak huni bagi masyarakat Garut yang tidak mampu, disabilitas dan sakit.

Pemkab Garut mendukung sepenuhnya pembangunan rumah singgah dan bedah rumah sehat bagi penderita TBC sebagai upaya meningkatkan kualitas kesehatan lingkungan dan pemberdayaan sosial ekonomi. Dimana Pemkab Garut akan menerbitkan Peraturan Bupati untuk pengendalian penyakit , untuk memudahkan akses Dana CSR.

Garut secara historis telah menjadi pusat pengobatan penderita tuberkulosis di daerah priangan, di mana di daerah Ngamplang Garut sekitar tahun 1930 oleh pemerintah kolonial Belanda dibangun Sanatorium/ petirahan untuk pengobatan dan tempat penyembuhan bagi penderita yang memerlukan pengobatan jangka panjang seperti tuberkulosis.

Saat pengobatan  penderita tuberkulosis dan paru di Garut secara umum dilaksanakan oleh fasyankes di Garut dan secara khusus dilaksanakan oleh  BBKPM Bandung, Kemenkes RI, yang mensinergikan upaya kesehatan berbasis masyarakat (upaya promotif dan preventif) dan upaya kesehatan peroranga (kuratif).

“Untuk itu Pemkab Garut telah berniat untuk menghibahkan lahan kepada  pusat melalui Kemenkes  bagi pembangunan rumah sakit khusus paru sebagai pusat rujukan wilayah priangan timur,” ujarnya.

Presiden RI,  Ir. Joko Widodo, mengatakan penyakit TBC adalah permasalahan yang harus dibenahi. Karena, pengaruh negatifnya bukan hanya pada sektor kesehatan masyarakat tetapi juga berkaitan dengan produktivitas masyarakat.

“Saya hadir di sini karena sehat, kita harapkan seluruh masyarakat Indonesia sehat. SDM unggul adalah prioritas yang harus sehat semua. Saya ingin mendukung keras kegiatan eliminasi TBC pada tahun 2030. Percuma kalau masyarakat ga sehat, (nantinya) merembet ke mana-mana ke (sektor) pendidikan, ke pekerjaan, ke mana-mana,” ujarnya. (*)

Penulis : Yan-humas

Editor   : ER


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here