Prospek Menguntungkan, Budidaya Vanili dengan Cara Tanam Sederhana

Darmili Djuhaedin, menunjukan tanaman Vanili di kebunnya di kawasan Desa Cirapuhan, Kecamatan Selaawi, Kabupaten Garut, Selasa (3/12/2019)***

garutexpress.id.-  Vanili atau biasa kita sebut panili merupakan sejenis tanaman yang saat ini menjadi perbincangan hangat di kalangan petani. Tak heran, jika Vanili menjadi tanaman yang masuk dalam jajaran tanaman primadona para petani, karena harga Vanili sangatlah mahal. Saking mahal harganya, Vanili di sebut dengan nama “si emas hijau.”

Saat ini, banyak masyarakat yang berminat menanam Vanili. Tetapi jangan salah, dari mulai biaya, tekhnik penanaman serta perawatannya masih banyak yang kurang faham.  Apalagi jika sistem tanamnya sudah memakai sistem tanam modern, bisa membuat para petani enggan menanam Vanili saat melihat tingginya biaya awal yang harus dikeluarkan.

Di Kabupaten Garut tepatnya di Desa Cirapuhan, Kecamatan Selaawi, ada seorang warga yang menccoba menanam Vanili dengan pola atau tenik tanam sederhana. Selain murah biayanya, perawatan dan lahan yang digunakan terbilang irit. Namun, hasilnya tidak kalah dengan Vanili yang menggunakan pola tanam tekhnik modern.

Darmili Djuhaedin adalah warga Garut yang saat ini mencoba menerapkan teknik sederhana budidya Vanili tersebut. Rupanya, Darmili adalah seorang warga yang mempunyai banyak pengalaman tentang tanaman berjuluk ‘emas hijau’ ini. Melalui kebun mini yang hanya berukuran 6×8 meter miliknya, ratusan tanaman Vanili tumbuh subur.

Menurut Darmili, dirinya mencba membuat pola tanam sederhana, yang bisa dilakukan oleh semua orang. Jika kita meniru teknik tanam modern dengan biaya besar, pastinya para petani berpikir dua kali untuk mencoba menanam Vanili.

Pola tanam yang ia terapkan sangatlah sederhana, tetapi sedikit merubah pola tanam konvensional pada zaman dulu dengan sistem yang ia terapkan sekarang. Keuntungannya yang bisa didapat oleh petani, selain bisa memanfaatkan lahan sedikit, tetapi bisa menanam banyak Vanili, biaya yang dikeluarkannyapun sedikit pula.

Jika yang lain menggunakan beton atau tiang baja, dirinya hanya menggunakan bambu sebagai penyangga rambatan sulur-sulur Vanili. Pupuknyapun ia buat sendiri, dengan memanfaatkan bahan organik yang ada di sekitar rumahnya.

Walaupun demikian, di usia Vanili yang baru 18 bulan batang dan buah yang dihasilkan terlihat besar-besar. “Panili saya ini baru berusia 18 bulan, tetapi sudah ada beberapa sulur yang muncul bunga. Setelah dikawinkan, keluar buah yang ukup bagus,” ungkapnya.

Darmili yang ternyata seorang mantan pembimbing petani Vanili di Kabupaten Sukabumi yang dulu sempat terkenal karena hasil panennya yang melimpah.

Ia berharap, para petani di Garut terus menekuni tanaman Vanili ini. Berdasarkan pengalamannya, saat harga Vanili menapai 3 sampai 4 juta rupiah per-satu kilo gram kering, di situ petani bisa merasakan berkah menjadi petani Vanili.

“Apalagi bagi warga Garut, dulu saja Vanili asal Garut diakui dunia dengan munculnya variates Vanili dengan jenis Cilawu 1 dan Cilawu 2,” ungkapnya.  Selasa (3/12/2019).

Selain mengurus kebun mininya, saat ini dirinya mengurus pembenihan Vanili bersama putranya. Darmili mengaku, selain banyak bandar lokal yang berseliweran datang ke rumahnya, banyak pula warga yang memesan bibit Vanili darinya.

Pemesanpun datang dari dalam dan luar kota Garut, seperti Subang, Sumedang dan daerah lainnya. Selain warga yang memesan bibit, ada juga beberapa warga yang datang kepadanya untuk belajar bercoccok tanam Vanili.

“Jika kita serius menekuni satu hal seperti menanam Vanili ini, tentu akan merasakan manfaatnya suatu hari nanti. Yang penting usaha dan berdo’a saja” tuturnya, seraya tesenyum. (*)

Penulis : Useu G Ramdani

Editor    : ER


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here