Minim Peserta Didik, SMPN 3 Selaawi Terancam Dimerger

garutexpress.id- Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 3 Selaawi kini tengah menghadapi masalah yang cukup serius. Jumlah siswa di 3 angkatan terakhir terus menurun. Bahkan untuk tahun ajaran 2019-2020, jumlah siswanya hanya 17 orang.

Walaupun berlabel negeri, masyarakat yang berada di sekitar SMPN 3 Selaawi, seakan enggan menyekolahkan anaknya untuk belajar di sekolah ini.

Hal tersebut berdampak pada jumlah siswanya yang terus menurun. Ironisnya, tak jauh dari bangunan SMPN 3 Selaawi tersebut ada dua Seklah Dasar (SD), yaitu SDN 3 dan SDN 5 Selaawi, yang jaraknya hanya beberapa meter saja.

Setiap tahunnya, lulusan dari dua SD itu jumlahnya puluhan. Tetapi mereka lebih memilih sekolah lain yang jaraknya cukup jauh.

Berdasarkan keterangan warga, hal tersebut terjadi akibat krisis kepercayaan para orang tua terhadap kualitas SMPN 3 Selaawi.

Ahmad Kosasih, salah seorang warga Kampung Cipendok, Desa Cirapuhan Kecamatan Selaawi,Kabupaten Garut, mengatakan, sebenarnya semua warga sangat menginginkan adanya sekolah yang jaraknya dekat, seperti halnya SMPN 3 Selaawi ini.

“Selain jaraknya dekat, ongkos harian yang menjadi beban orang tua bisa diminimalisir,” katanya.

Menurutnya, pada awal-awal berdiri sekolah ini hampir semua warga sekitar memasukan anaknya ke SMPN 3 Selaawi. Seiring waktu, para orang tua enggan memasukannya ke sekolah tersebut.

“Bagaimana bisa ada kepercayaan orang tua, pada jam pelajaran sekolah saja banyak siswa yang berkeliaran di luar. Sebenarnya kami sebagai orang tua murid sangat berharap ada perbaikan di sekolah ini. Baik sumber daya manusia seperti peningkatan kualitas guru dan juga sistem yang saat ini dinilai buruk,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala SMPN 3 Selaawi, Dede, S.Pd mengakui, kondisi sekolah saat ini sangat mengkhawatirkan. Sejak dirinya di tugaskan menjadi kepala SMPN 3 Selaawi pada Maret 2019, baik fisik bangunan, kebersihan lingkungan dan juga kondisi murid-muridnya juga mempihatinkan.

Upaya awal yang ia lakukan sejak menjabat seagai kepala sekolah, antara lain menata lingkungan, menata sistem serta melakukan kegiatan kebersihan sekolah yang selama ini kurang dilakukan.

“Maklum saja, di SMPN 3 Selaawi tidak mempunyai penjaga sekolah. Bahkan semua WC yang ada sudah tidak berfungsi, kecuali WC di ruangan kepala sekolah. Walaupun masih jauh dari harapan, saat ini sudah nampak ada peningkatan. Baik dari segi kedisiplinan kerja para guru, maupun tatanan lingkungan yang sedikit lebih baik,” katanya.

Disinggung terkait  jumlah siswa yang ini terus menurun, lagi-lagi soal kepercayaan orang tua menjadi sumber permasalahannya.

Untuk mngembalikan kepercayaan orang tua ini sangatlah susah. Dede menjelaskan, jumlah siswa keseluruhan dari kelas 7 sampai kelas 9 saat ini hanya ada 83 siswa.

Tercatat, angkatan 2017-2018 siswa yang mendaftar ada 21 orang, angkatan 2018-2019 ada 45 orang dan angkatan 2019-2020 hanya ada 17 siswa yang masuk.

“Padahal, di awal-awal sekolah ini berdiri dan masih menjadi kelas jauh dari SMPN 2 Selaawi, jumlah siswanya lumayan banyak. Di tahun ajaran 2010-2011 jumlahnya mencapai 57 siswa. Begitu juga di tahun ajaran 2011-2012, siswa yang masuk SMPN 3 Selaawi mencapai 51 orang. Kurang banyaknya lulusan SD di tahun-tahun terakhir ini, bisa saja berimbas kepada jumlah siswa yang mendaftar ke SMP,” ungkapnya.

Diharapkannya,  pihak Dinas Pendidikan segera turun tangan. Saat ini SMON 3 Selaawi sangat memerlukan SDM  berkualitas, untuk penyeimbang tenaga pengajar.

Saat ini, di SMPN 3 Selaawi hanya ada tiga PNS, satu kepala sekolah dan 2 orang Guru, itupun satu Guru PNS nya sakit sehingga tidak bisa mengajar.

“Guru PNS ini dibantu oleh delapan guru honorer dan ditambah seorang tenaga administrasi sekolah (TAS). Alat-alat di sekolah juga sangatlah minim. Semua administrsi dikerjakan dengan satu laptop saja. Printer satu-satunya juga dicuri orang. Tak hanya printer, bel sekolahpun tak luput dari sasaran maling,” tuturnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Totong menuturkan, hal ini harus dievaluasi secara serius. Apakah pangkal permasalahannya itu memang akibat krisis kepercayaan orang tua atau ada sebab lain.

“Jika memang itu terjadi, tentu saja ada masalah sebelumnya.  Antara lain manajemen guru dan kepala sekolah yang harus dibenahi. Oleh karena itu, semua unsur harus bekerja sama untuk menyelamatkan SMPN 3  Selaawi. Jika kondisi buruk ini terus terjadi, maka bisa saja SMPN 3 Selaawi ini di merger dengan sekolah terdekat. Tetapi sebelum itu di terjadi, pasti kita akan berupaya memperbaiki terlebih dahulu. Saya akan menugaskan kepala bidang dan kasi untuk mengevaluasi pelaksanaan pola pendidikan di SMPN 3 Selaawi,” ungkapnya.

Ditambahkannya, semua itu harus didukung oleh masyarakat dan pemerintah. Pihak desa, kecamatan serta tokoh masyarakat lainnya bisa memmberikan keterangan, laporan serta usulan.

Menurut Totong, jika krisis kepercayaan masyarakat itu sumbernya karena kekurangan SDM pengajar yang berkualitas, maka warga masyarakat melalui Camat bisa mengusulkan ke Badan Kepegawaian Daerah (BKD) untuk menempatkan pengajar berkualitas di SMPN 3 Selaawi.

“Sebentar lagi ada penerimaan CPNS di Kabupaten Garut. Mudah-mudahan ini menjadi salah satu jalan untuk menyelamatkan keberadaan SMPN 3 Selaawi. Kami pihak dinas pendidikan akan siap membantu permasalahan yang terjadi di SMPN 3 Selaawi ini,”  pungkasnya. (*)

Penulis : Useu G Ramdani

Editor    : ER

 


Berita Lainnya :

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here