“Kohkol Kabuyutan,” Sebuah Alat Komunikasi Legendaris di Leuwigoong

garutexpress.id- Siapa sangka, benda yang kini menggantung di halaman Desa Dungusiku, Kecamatan Leuwigoong Kabupaten Garut adalah salah satu benda sejarah bagi warga masyarakat desa tersebut.

Benda legendaris terbuat dari kayu tua berentuk bulat panjang ini disebut warga dengan nama “Kohkol Kabuyutan.”

Dalam bahasa Indonesia, kohkol berarti kentongan. Biasanya kentongan ini terbuat dari bambu ataupun kayu. Pada zaman dahulu, kentongan merupakan salah satu alat yang digunakan warga sebagai penanda sesuatu hal yang terjadi di suatu kampung dengan cara dipukul sehingga menimbulkan suara nyaring.

Ada kalanya, kentongan atau kohkol tersebut ditabuh sebagai media untuk peringatan bahaya atau pengumuman di satu wilayah. Disamping itu, kentongan juga merupakan alat seni perkusi yang biasa dikolaorasikan dengan alat musik lain.

Seiring perkembangan zaman, fungsi kohkol atau kentongan sedikit bergeser. Tidak lagi menjadi media komunikasi utama warga, karena saat ini sudah ada alat komunikasi canggih seperti halnya telpon seluler.

Walaupun sudah dianggap kuno, saat ini kentongan masih biasa digunakan oleh sebagian warga, contohnya saat warga melakukan jaga malam di pos ronda. Para petugas malam ini biasa menabuh kentongan sebagai penanda jika saat itu ada aktivitas ronda malam.

Selain itu, kentongan ini kerap kali dipakai oleh para pejabat saat ada acara peresmian proyek atau program pemerintah.

Fungsi kentongan yang sangat berguna pada zaman dahulu ah yang menjadikan warga Desa Dungusiku, Kecamatan Leuwigoong Kabupaten Garut sampai saat ini menjaga kelestarian sebuah kentongan dengan nama Kohkol kabuyutan.

Menurut Herman (55) salah seorang warga Desa Dungusiku, Kohkol Kaubyutan ini dibuat dari pohon kayu nangka yang usianya sudah ratusan tahun. Kohkol Kabuyutan dibuat sekira tahun 1.800 an oleh seorang kepala dusun kala itu yang bernama Djaya Dikara.

“Dahulu kala, kohkol ini adalah alat penting bagi warga Desa Dungusiku, jika ada hal apapun yang menyangkut kepentingan warga banyak, kohkol inilah satu satunya media untuk memanggil warga untuk berkumpul,” ungkapnya, baru-baru ini.

Karena nilai sejarahnya yang tinggi, sampai sekarang warga selalu menjaga dan merawat kohkol kabuyutan dengan membersihkannya seara rutin.

“Jika ada warga yang penasaran ingin melihat bentuk kohkol kabuyutan bisa datang ke kantor balai Desa Dungusiku. Semua warga sepakat agar kohkol kabuyutan ini di simpan di halaman kantor desa, agar semua warga bisa melihat dan tentu saja menghargai nilai-nilai sejarahnya. Sesekali, kohkol ini ditabuh oleh pegawai desa saat mereka sedang melakukan piket. Bila ditabuh pada malam hari, suaranya bisa terdengar oleh warga satu kampung ini,”  ungkap Herman. (*)

Penulis : Useu G Ramdani

Editor    : ER

 


Berita Lainnya :

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here