Ketersediaan BBM Jenis Solar Masih Dikeluhkan Masyarakat

garutexpress.id- Penambahan pasokan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar subsidi di berbagai daerah Indonesia dinilai belum berdampak signifikan di wilayah Priangan Timur. Organisasi Angkutan Daran (Organda) menyebut masih terjadi pembatasan pembelian solar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) untuk kendaraan angkutan.

Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Organda Kabupaten Garut, Yudi Nurcahyadi mengatakan, hingga Ahad (17/12) malam masih terjadi antrian kendaraan angkutan di beberapa antrian kendaraan yang ingin mengisi BBM jenis solar subsidi di beberapa SPBU di wilayahnya.

Meski Pertamina telah menambah pasokan solar subsidi, realisasi di lapangan belum berdampak signifikan.

“Semalam di SBPU Cisurupan, antrean masih terjadi. Jadi belum begitu terasa penambahannya,” kata dia saat dihubungi Republika, Senin (18/11/2019).

Menurut dia, berdasarkan hasil rapat dengan Organda dan Himpunan Wirausaha Minyak dna Gas Bumi (Hiswana Migas) se Priangan Timur, solusi untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mencampur solar subsidi dengan jenis BBM lainnya, seperti Dexlite dan Pertamina Dex. Namun, lanjut dia, hal itu tentu saja memberatkan pengusaha angkutan.

Ditambahkannya, pengusaha saat ini berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi keberatan dengan pencampuran BBM subsidi dengan nonsubsidi. Di sisi lain, mereka tak bisa dengan seenaknya menaikan tarif angkutan.

Ia mencontohkan, harga BBM jenis solar subsidi berada di kisaran Rp 5.000 per liter. Sementara harga BBM jenis Dexlite mencapai dua kali lipatnya.

“Pengusaha angkutan bisa saja menaikkan tarif angkutan, tapi nanti pengguna jasa berkurang. Yang terdampak juga akhirnya masyarakat,” kata dia.

Yudi mengatakan, seharusnya pemerintah dapat mengantisipasi kejadian ini sebelum akhirnya menjadi masalah. Dengan begitu, tak perlu ada kondisi yang tidak diinginkan. Apalagi, saat ini menjelang Natal dan Tahun Baru, yang dibutuhkan banyak persiapan angkutan.

Ia menambahkan, Organda se-Priangan Timur sudah bersepakat untuk melakukan aksi ke jalan, jika pasokan BBM jenis solar tak kembali normal hingga Desember. “Sekarang memang sudah ditambah pasokannya, tapi tetap saja belum normal,” katanya.

Jadwal Pengirman Solar Harus Diketahui

Sementara itu, pemilik kendaraan maupun pengusaha angkutan yang bermesin diesel, saat ini harus memeras otak untuk mencari Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi bio solar.

Meski dalam sepakan ini untuk bio solar sudah tersedia di beberapa SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum). Pasalnya Pertamina masih melakukan pembatasan untuk jenis bio solar bersubsidi ini.

Irwan Rudiawan (40) salah seorang  warga di kawasan Karangpawitan yang memiliki kendaraan bermesin  diesel mengaku kesulitan memcari bahan bakar untuk kendaraanya.

“Sampai saat ini saya masih kesulitan mencari solar,” tukasnya, saat ditemui di salah satu SBPU di Kecamatan Karangpawitan, Selasa (19/11/2019).

Menurutnya, solar sebenarnya sudah mulai tersedia di SPBU di sekitar Garut Kota. Namun, konsumen harus tahu jadwal pengiriman bio solar ke SPBU. “Iya harus tahu jadwal pengiriman, kalau ga tahu ya sudah ga bakal kebagian solar (subsidi),” katanya.

Biasanya kata Irwan setiap pengiriman solar langsung diserbu. Apalagi oleh angkutan umum seperti elf maupun bus antar kota.

Akibatnya,  ia terpaksa membeli solar non subsidi dexlite dengan harga yang dua kali lipat lebih mahal dari bio solar. Padahal dengan kendaraanya yang keluaran tahun 80an kata Irwan, kurang cocok bila harus diisi oleh dexlite. “Pake dexlite itu bukan malah enak, ke mesinya itu malah bikin ga bertenaga,” tandasnya.

Dengan tidak stabilnya pasokan solar kata Irwan pekerjaanya sempat terganggu. Selain harus berburu solar denga jadwal yang tidak pasti dirinya juga harus menyelesaikan pekerjaanya. (*)

Penulis : Tim GE

Editor   : ER


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here