Belajar dari Sertu Edi Suyono, Menyulap Eceng Gondok Jadi Produk Bernilai

garutexpress.id- Eceng gondok (Eichhornia crassipes) adalah salah satu jenis tumbuhan air mengapung. Selain dikenal dengan nama eceng gondok, di beberapa daerah di Indonesia, eceng gondok mempunyai nama lain seperti di daerah Palembang dikenal dengan nama Kelipuk, di Lampung dikenal dengan nama Ringgak, di Dayak dikenal dengan nama Ilung-ilung, di Manado dikenal dengan nama Tumpe.

Eceng gondok pertama kali ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang ilmuwan bernama Carl Friedrich Philipp von Martius, seorang ahli botani berkebangsaan Jerman pada tahun 1824 ketika sedang melakukan ekspedisi di Sungai Amazon Brasil.

Eceng gondok memiliki kecepatan tumbuh yang tinggi sehingga tumbuhan ini dianggap sebagai gulma yang dapat merusak lingkungan perairan. Eceng gondok dengan mudah menyebar melalui saluran air ke badan air lainnya.

Di Kabupaten Garut, tanaman eceng gondok ini banyak tumbuh di beberapa area, semisal di kawasan Situ Bagendit, dan kini sudah mulai banyak tumbuh di aliran Sungai Cimanuk. Namun pemanfaatan eceng gondok ini tidak begitu diketahui, atau mungkin belum tahu bagaiamana mengkreasikannya sehingga bisa berniali ekonomis.

Bahkan, hingga saat ini keberadaan eceng gondok di beberapa area perairan di Kabupaten Garut seolah hanya menjadi benalu saja di area perairan, sehingga dianggap sebagai sampah saja.

Dikutip dari  qarao.com, ada kisah inspiratif dari seorang anggota TNI AD yang berhasil memanfaatkan eceng gondok menjadi produk yang bernilai ekonomis.

Adalah Sertu Edi Suyono,Anggota Koramil 0820/03 Leces,yang juga Babinsa Desa Sumber Kedawung, Kecamatan Leces, kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Dengan keterampilan dan ketekunannya, di tangan Edi Suryono, eceng gondong disulap menjadi beberapa produk kerajinan yang bermanfaat.

Keunikan produk, hasil kreasi Edi Suyono pun memanfaatkan bahan baku eceng gondok menjadi sebuah produk kreatif yang kedepannya memiliki nilai jual tinggi. Ia membuat berbagai bentuk produk fesyen mulai dari dompet ukuran 13 x 7 x 9 cm, tas ukuran medium berukuran 25 x 14 x 21 cm.

“Kami dengan melakukan binaan kepada warga sekitar sebagai UKM binaan,juga menerima tawaran membuat tas sesuai dengan permintaan model dari konsumen,” tutur Edi.

Menurutnya, proses pengerjaannya, pertama, Pilihlah batang eceng gondok yang panjangnya kurang lebih 60 cm. Lalu keringkan di terik matahari yang panas sekitar 1 minggu, usahakan sampai kering.

Ambil eceng gondok yang sudah kering. Lalu basahi eceng gondok menggunakan air, usahakan air masuk ke dalam pori-pori eceng gondok.

Tipiskan eceng gondok dengan menggunakan kayu yang sudah dibulatkan terus letakkan di atas eceng gondok, kemudian tarik eceng gondok, begitu berulang sampai eceng gondok menjadi tipis. Kemudian anyam eceng gondok sampai membentuk anyaman yang lebar usahakan rapih. Jahit eceng gondok menggunakan benang jahit, dan mengikuti pola yang diinginkan.

Setelah proses penjahitan selesai, kemudian buat cangklongan pada tas. Pada pembuatan cangklongan kita ambil 3 buah eceng gondok. Lalu dikepang eceng gondok sampai ujung.

Setelah itu jadikan satu antara tas dan cangklongan menggunakan benang jahit. Tambahkan pernak-pernik pada tas supaya kelihatan menarik. Pernis tas tas eceng gondok agar lebih kuat dan tahan air, kemudian jemur satu hari dengan kondisi cuaca panas, tas siap dipakai,”ujar Edi sambil menunjukkan hasil kerajinannya.

Sementara itu, Pasiter Kodim 0820 Probolinggo, Kapten Kav Nasrokin menyampaikan, sebelum membuat kerajinan tas eceng gondok, perlu menyiapkan terlebih dahulu perlengkapan yang dibutuhkan, pertama eceng gondok, gunting, Cutter, Penggiling, blacu, kancing, tali agel, dan jarum.

“Eceng gondok yang berupa daun biasanya dikeringkan begitu saja sampai benar-benar hilang kadar airnya. Sedangkan eceng gondok yang berupa batang biasanya dianyam terlebih dahulu setelah kering, sebelum digunakan sebagai bahan baku pembuatan tas, sepatu, dan aksesori lainnya.

Penganyaman ini bisa berbentuk lilitan kecil ataupun anyaman sedang Sebelum memotong dan membentuk anyaman yang telah dibuat, maka terlebih dahulu pengrajin perlu membuat pola produk yang akan dihasilkan, bisa membuat pola tas ataupun sepatu dan aksesori lainnya. Pembuatan pola ini diaplikasikan pada kertas koran atau cukup digambar apabila pola nanti berfungsi untuk membentuk anyaman enceng gondok. ,”terangnya. (*)

Sumber : qarao.com

Editor   : ER

 


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here