BBM Jenis Solar Langka, Pengusaha Angkutan Kelimpungan

garutexpress.id-  Pengusaha angkutan barang di Kabupaten Garut mengeluhkan kosongnya bio solar di hampir semua SPBU di Kabupaten Garut. Akibatnya, mereka terpaksa membeli bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dexlite.

Sigit Zulmunir (35), salah seorang pengusaha angkutan barang menyebut kelangkaan solar subsidi sudah terjadi selama sepekan. Bahkan pada Selasa (12/11/2019), semua SPBU di Garut tak memiliki solar subsidi.

“Harga solar nonsubsidi itu dua kali lipat lebih mahal dari subsidi. Sangat memberatkan bagi pengusaha kalau pakai nonsubsidi,” ujar Sigit, Kamis (14/11/2019).

Sebelum solar menghilang, tiap SPBU menerapkan sistem pembatasan. Setiap satu truk hanya diperbolehkan mengisi solar sebesar Rp 100 ribu.

“Harga dexlite itu sebesar Rp 10.200 per liter. Sementara bio solar cuma Rp 5.150. Kalau pakai dexlite, bisa tidak dapat untung,” katanya.

Kondisi kelangkaan solar, lanjutnya, berdampak terhadap beban operasional kendaraan. Dalam satu hari, satu kendaraan bisa menghabiskan solar berkisar Rp200 ribu sampai 250 ribu.

Namun sekarang biaya operasional naik menjadi Rp 500 ribu. Kebutuhan solar itu untuk kebutuhan pengiriman barang di dalam kota Garut.

“Rugi besar bagi pengusaha. Alasannya karena konsumen menolak untuk menaikan tarif jasa angkutan. Mereka tetap ingin harga yang biasa,” ujarnya.

Selain itu, kelangkaan solar ini pun berdampak terhadap naiknya harga suku cadang kendaraan. Dia berharap pembatasan solar ini dapat dikaji lagi. Terutama untuk kendaraan angkutan barang.

“Toko onderdil sudah mulai menaikan harga barangnya. Sementara dari pengusaha, jangankan naik yang ada malah pendapatan berkurang,” katanya.

Sementara itu, Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kabupaten Garut mempertanyakan kelangkaan solar yang sudah terjadi selama satu pekan. Kelangkaan tersebut hanya terjadi di wilayah Priangan Timur.

Ketua Organda Garut, Yudi Nurcahyadi, mengatakan, anggotanya banyak yang mengeluh karena sulit mendapat solar. Untuk mendapat solar, tak jarang harus mencari ke wilayah Kabupaten Bandung.

“Saya sudah koordinasi dengan Organda se Jabar. Kelangkaan solar itu cuma terjadi di Priangan Timur. Untuk daerah lain ternyata masih tersedia,” ucap Yudi ditemui di kantornya, Kamis (14/11/2019).

Hingga kini, pihaknya belum mendapat alasan yang jelas terkait kelangkaan solar. Ia berharap, permasalahan tersebut bisa segera diatasi agar tak merugikan masyarakat.

“Organda se Priangan Timur sudah layangkan surat ke Hiswana Migas. Intinya ingin mengetahui alasan kelangkaan. Dalam waktu dekat akan rapat di Tasik soal masalah ini,” katanya.

Dari informasi yang diterimanya, kuota solar di Garut sudah dikurangi. Dari kuota sebanyak 16 ribu liter per hari dipangkas menjadi 8 ribu liter. Akibatnya, SPBU membatasi pembelian solar.

“Kalau seperti ini terus, pelayanan publik akan terkena imbasnya. Bukan hanya untuk angkutan barang. Tapi juga angkutan umum,” ucapnya.

Dari data Dinas Perhubungan Garut, angkutan barang dan orang yang menggunakan solar mencapai 15 ribu unit. Sebanyak 30 persen sudah mengurangi operasional.

“Banyak yang takut mogok di jalan karena tidak ada BBMnya. Jadi pilih dikandangkan dulu angkutannya” ujarnya. (*)

Penulis : FW

Editor   : ER


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here